Senin, 25 Juli 2016

ARGOPURO: 31 MEI-4 JUNI 2016 VIA BREMI

Akhir Mei 2016 kemarin dengan tekad yang mengandung nekat, saya berangkat sendiri ke Surabaya dengan kereta api kelas ekonomi Gaya Baru Malam. Niat awal adalah mendaki gunung Argopuro, tetapi mendekati hari keberangkatan saya dari Jakarta, teman saya di Surabaya mengabari sepertinya tidak ada tim yang bisa berbarengan dengan saya untuk mendaki. Karena kebutuhan nge-trip yang mendesak, didukung sisa cuti tahun lalu sebanyak lima hari yang akan hangus jika tidak digunakan per 30 Juni, saya tetap berangkat ke Surabaya dengan sederet plan cadangan jika batal mendaki Argopuro.

Sabtu 28 Mei 2016, dengan ngos-ngosan saya menghampiri antrian paling depan di mesin cetak tiket Stasiun Senen lalu minta tolong pada antrian membiarkan saya untuk lebih dulu ngeprint tiket, waktu itu pukul 10.20 dan jadwal kereta saya berangkat pukul 10.30. Beruntung saya tidak ketinggalan kereta, kan nggak lucu sudah sendirian ketinggalan kereta pula. Hehehe. Ini pertama kalinya saya naik kereta ke Surabaya langsung, sebelumnya saya biasanya singgah di Jogja dulu baru melanjutkan ke Surabaya dengan bus. Lima belas jam di kereta ternyata sangat pegal, sudah berkali-kali ubah posisi dan mondar mandir ke sambungan kereta, ngobrol sama ibu-ibu sebelah, makan cemilan, intinya hampir "mati kutu" bingung mau ngapain. Akhirnya Minggu dini hari pukul 01.30 saya sampai juga di stasiun Gubeng, disana saya dijemput teman saya Haqim (Blank) dan diajak ke basecamp Mapalsa untuk istirahat.

Tak kan lari gunung dikejar tak kan lari jika berjodoh, begitulah kira-kira. Akhirnya setelah Blank mengajak Pumeto adiknya di Mapalsa, dan saya mengajak Cicik yang dulu pernah magang di kantor saya, hari Senin 30 Mei 2016, kami berempat berangkat ke Probolinggo dan singgah di Mapala Fatarpa dengan maksud menculik penghuninya untuk ikut serta ke Argopuro.

Gunung Argopuro terletak di kawasan Jawa Timur dengan puncak tertinggi (puncak Argopuro) berada di ketinggian 3.088 meter diatas permukaan laut,  selain itu terdapat dua puncak lainnya yaitu puncak Rengganis dan puncak Arca. Ada dua jalur pendakian gunung Argopuro yaitu via Bremi dan Baderan. Gunung yang terkenal dengan legenda Dewi Rengganis ini katanya merupakan gunung dengan jalur pendakian terpanjang di Jawa.

31 Mei 2016
Selasa siang kami ditambah dua orang anggota Fatarpa, kami berangkat ke basecamp Bremi. Anggota tim berjumlah enam orang yaitu Blank (Haqim), Pumeto (Riza), Bencrot (Bayun), Keppak (Ali), Cicik, dan saya sendiri. Rencana awal sebenarnya kami akan naik dari Baderan tetapi akhirnya berubah, dari basecamp Fatarpa ke Bremi, kami diantar oleh anggota Fatarpa lainnya sekalian mereka akan menjemput anak-anak dari Bandung yang sedang mendaki Argopuro sejak Sabtu kemarin. Kami agak lama berada di basecamp Bremi karena lupa membawa materai sehingga Blank dan salah satu anggota Mapala Fatarpa terpaksa harus mencari materai dulu. Untuk mengejar waktu, kami start pendakian pukul setengah lima sore dengan target sampai ke Taman Hidup. Seluruh anggota tim mengenakan jas hujan karena saat itu hujan deras. Hari semakin malam dan dingin, jalur yang sempit dan licin, ditambah sulitnya berjalan malam dengan mengandalkan cahaya senter serta melihat kondisi salah satu anggota tim akhirnya kami memutuskan untuk camp darurat sebelum berhasil sampai ke Taman Hidup. Waktu itu sudah pukul sembilan malam.

 Sesi foto-foto pertama sejak mulai pendakian (Pumeto, Saya, Blank)
Masak dan makan siang di Danau Taman Hidup
Pumeto, Bencrot, Blank, Saya (Tika/Buncit), Cicik
1 Juni 2016
Rabu pukul enam pagi , saya menyusul Pumeto yang sudah lebih dulu bangun dan masak di depan tenda. Setelah masak dan makan, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Taman Hidup. Perjalanan hari ini targetnya adalah Cemoro Limo. Pendakian kembali dimulai pada pukul delapan pagi, kurang lebih satu setengah jam kami sampai di Taman Hidup. Taman Hidup adalah sebuah danau dengan tepiannya yang berupa rawa, disana kami memasak, makan, dan bersitirahat. Sekitar pukul dua belas siang kami melanjutkan perjalanan kembali dan bertemu dengan tim dari Bandung dan Malang yang sedang berjalan turun menuju Bremi. Pukul lima sore kabut mulai turun dan angin dingin sekali, Blank menyarankan tim untuk memakai jaket/raincoat. Saat saya mengenakan raincoat, seorang anggota tim duduk di atas kayu pohon dan diam saja ketika saya panggil. Karena saya merasa heran dan khawatir, saya hampiri dan guncangkan pundaknya, bukannya bereaksi dia malah terjatuh, saya akhirnya menampar-nampar wajahnya, setelah berkali-kali tamparan keras dari saya, akhirnya dia baru terbangun. Melihat kondisinya, saya dan yang lainnya merasa khawatir, tetapi kami harus tetap melanjutkan perjalanan ke Cemoro Limo karena itu lokasi yang paling memungkinkan untuk camping. Syukurlah tepat pukul enam sore kami tiba di Cemoro Limo, kami berbagi tugas untuk memasak dan mendirikan tenda.


Di Perjalanan menuju Cemoro Limo
2 Juni 2016
Pukul sembilan pagi kami melanjutkan pejalanan menuju puncak. Di tengah perjalanan, seorang teman kembali drop. Saya yang belum pernah mendaki Argopuro sebelumnya bertanya dengan anggota tim lainnya apakah memungkinkan tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan langsung kepadanya apakah mau lanjut atau tidak. Karena semangatnya yang tak surut dan tetap bertekad untuk lanjut akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Pada pukul dua siang kami tiba di Sabana Lonceng yang merupakan persimpangan antara Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Keppak menawarkan diri untuk tidak ikut ke Puncak Argopuro dan menjaga barang-barang, sementara lima orang lainnya mendaki Puncak Argopuro. Turun dari Puncak Argopuro, Cicik, Pumeto dan Bencrot memutuskan untuk tidak ikut ke Puncak Rengganis. Akhirnya hanya Blank, Keppak dan saya yang menuju Puncak Rengganis. Sehabis turun dari Puncak Rengganis, kami bertemu dengan dua pendaki dari Bandung yang akan turun via Bremi. Kami sempat mengobrol sebentar kemudian pukul lima sore kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Rawa Embik satu jam kemudian, kami bertemu dengan tim dari Sidoarjo berjumlah empat orang yang naik dari Baderan, akhirnya di malam ketiga tenda kami ada tetangganya.

Para lelaki tangguh yang menemani pendakian, thanks guys :)




Puncak Argopuro








Puncak Rengganis

Cicik Andriani (jilbab pink). Satu-satunya temen cewek dalam tim, awalnya ini anak nggak pake jilbab. karena kita mampir ponpes Nurul Jadid dan wajib pake jilbab akhirnya dia dipinjemin jilbab dari sekret Fatarpa dan dipake terus sampai selesai pendakian.
Pemandangan Sekitar Puncak Rengganis
3 Juni 2016
Jumat pagi sekitar pukul sebelas, kami melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya, sejenak mampir di Cisentor untuk masak dan makan serta menikmati segarnya air di Cisentor. Lewat sedikit dari pukul lima sore kami tiba di Cikasur, disana terdapat sebuah bangunan yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda di dalamnya. Malamnya tim dari Sidoarjo pun tiba di Cikasur, mereka yang sebelumnya berniat turun via Bremi akhirnya memutuskan turun via Baderan. Setelah masak dan makan, kami bercengkrama dan main kartu.

Masak dan Makan Siang di Cisentor
4 Juni 2016
Usai mencari selada air dan menikmati segarnya mata air Cikasur, Sabtu pukul setengah sebelas pagi kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp Baderan, menurut peta yang diberikan saat di basecamp Bremi, waktu tempuh Cikasur-Baderan sekitar 8-12 jam. Baru membacanya saja saya sudah membayangkan betapa panjang jalur yang akan ditempuh. Benar saja jalurnya panjang sekali, padang rumput luas, masuk ke hutan dengan jalur yang rimbun, keluar ke padang lagi, masuk hutan lagi, begitu terus jalurnya hingga bertemu Makadam, jalur berbatu yang panjangnya minta sabar hingga ke basecamp. Satu jam berjalan dari Cikasur, saya dan Blank bertemu dengan pendaki asal Australia yang mendaki sendirian. Setelah menempuh hampir sebelas jam perjalanan, kami tiba di basecamp Baderan. Sebenarnya lama perjalanan bisa dipersingkat menjadi kurang lebih sembilan jam, karena kami sempat berhenti selama masing-masing satu jam di mata air satu dan dua, untuk memasak dan makan serta mengobrol dengan pendaki dari Jogja yang baru naik dari Baderan.
Full Team di Cikasur. Ki-ka: Keppak, Cicik, Blank, Bencrot, Pumeto, Saya

Ringkasan Perjalanan Pendakian Gunung Argopuro via Bremi
(31 Mei-4 Juni 2016)
31 Mei 2016
16.30-21.00 Basecamp Bremi-sebelum Taman Hidup
(biasanya pendaki akan bermalam di Taman Hidup)
1 Juni 2016
08.00- 09.30 menuju Taman Hidup
12.00-18.00 Taman Hidup-Cemoro Limo
2 Juni 2016
09.00-14.00 Cemoro Limo-Sabana Lonceng
14.00-14.30 Sabana Lonceng-Puncak Argopuro
15.30-15.50 Sabana Lonceng-Puncak Rengganis
17.00-18.00 Sabana Lonceng-Rawa Embik
3 Juni 2016
11.00-12.00 Rawa Embik-Cisentor
13.30-17.00 Cisentor-Cikasur
4 Juni 2016
10.30-21.00 Cikasur-Basecamp Baderan

Gambaran Jalur yang Diberikan di Pos Bremi
Pendakian kali ini memberikan pengalaman dan juga pembelajaran yang berharga bagi kami, bagi saya khususnya. Saya semakin belajar bahwa pendakian adalah tentang keseluruhan tim, belajar bagaimana mendiskusikan dan mengambil keputusan dari situasi dan kondisi yang ada. Jalur pendakian yang panjang dan lama, membuat saya berusaha lebih keras untuk berkali-kali menyemangati diri saya sendiri. Pendakian Argopuro merupakan surga tersendiri menurut saya, dengan suasananya yang sepi dan tenang. Oh ya, katanya banyak yang mengalami kejadian mistis saat pendakian Argopuro, kami sendiri mengalami saat bermain kartu pertama kalinya dimana kartu tiga wajik hilang sehingga kami ganti dengan joker merah. Tetapi dua hari kemudian saat kami bermain kartu di Cikasur, kartu tiga wajik tersebut kembali muncul dan joker merah bertambah satu. Saya sendiri di Cemoro Limo dan Cikasur mengalami  mimpi yang membuat saya sampai mengigau, saat teman saya menanyakan saya kenapa saya hanya menjawab "nggak papa" lalu kemudian saya melanjutkan tidur.

"Motivator terbaik adalah dirimu sendiri, baru orang-orang disekelilingmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar