Minggu, 10 Juni 2012

Kopi, Lifestyle atau Kebutuhan?

Kopi, bisa didapatkan dan dinikmati dimana saja, di rumah, warung kopi, atau dalam kemasan yang bisa dibawa-bawa. Saya mulai mengenal kopi saat duduk di bangku SMP, seingat saya waktu itu kopi dalam bentuk sachet rasa vanilla yang hampir setiap hari ada di meja makan menyambut kepulangan ayah saya dari kantor. Sejak saat itu saya jadi mulai mengkonsumsi minuman itu, saya mulai mencoba kopi bubuk hitam dicampur gula. Saya menjadi lebih menyukai kopi hitam dibanding kopi sachet yang praktis dan terlalu banyak krim. Frekuensi minum kopi saya semakin meningkat terutama saat kuliah, dimana saya aktif dalam organisasi dan kegiatan selayaknya seorang mahasiswa, saat menghabiskan waktu sekedar berbincang saya juga sekaligus menghabiskan beberapa cangkir kopi. Saya menjadi terbiasa "melek" di malam hari, tidur di pagi hari beberapa jam.
Dalam perjalanan-perjalanan saya, kopi menjadi sesuatu yang wajib dinikmati, entah di atas kapal laut, dalam dinginnya gunung, dan di warung kopi. Saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang jenis-jenis kopi, mesin penggilingnya, ataupun cara penyajiannya, yang saya tahu kopi nikmat itu kental dan pahit. Saya mencoba beberapa jenis kopi, kopi susu, kopi tradisional dari berbagai daerah,  vanilla latte, ataupun cappucino.

Kopi disajikan dengan bermacam cara dan bentuk, mudah didapatkan dan dinikmati, dari kopi yang dibandrol dengan harga sangat terjangkau hingga yang sangat melangit. Beberapa kali saya mencoba kopi dari sebuah coffee shop yang dikemas dalam gelas plastik dan bisa dibawa kemana-mana, dengan harga yang mungkin tidak bisa dijangkau setiap saat oleh semua orang. Tapi seringkali saya menikmati secangkir kopi di kedai kopi sederhana, kental dan pahit disajikan dalam cangkir kopi yang kecil, disana saya temukan bahwa kopi lebih dari sekedar kopi, ia membuat kita bicara, mengerti dan memahami. Kopi membuat kita mendapatkan dorongan akan kebutuhan bersosialisasi. Kopi tidak menjadi sekedar bubuk hitam yang diseduh. Kopi menjadikan orang-orang dekat dengan kehidupan tapi bukan "Gaya Hidup", kopi membuat orang-orang menjadi sederhana, tertawa, dan sejenak lepas dari "ketegangan".
Bagi saya, mungkin kopi cenderung menjadi kebutuhan, disamping kopi hitam pahit dan kental, dengan sedikit gula, saya terbiasa menikmati kopi sachet di sela-sela aktivitas saya.
Bagaimana dengan Anda? Kopi, lifestyle atau kebutuhan? Bagaimana pula dengan kopi dalam kemasan plastik yang bisa dibawa kemana-mana?
Hal itu tergantung pada diri masing-masing, tapi kita pasti tahu, esensinya adalah Kopi menjadikan kita "Bicara"..

Yogyakarta, 10 Juni 2012

Kamis, 07 Juni 2012

Menghargai Pilihan

Hidup itu selalu soal pilihan, memilih yang satu dan mengorbankan yang lainnya. Duduk diantara dua pilihan justru akan mengakibatkan kita melepaskan keduanya, seperti dalam sebuah buku dikatakan "Satu menggenapkan, dua meniadakan". Memilih terlihat sepele dan mudah, meski setelahnya kesulitan akan muncul dan kita tertatih menjalaninya, seringkali kita merasa tidak yakin dengan apa yang kita pilih, kadangkala pula kita ragu akan kemampuan kita untuk menjalani apa yang kita pilih, itu yang sulit yaitu menghargai pilihan kita sendiri.
Hidup memang selalu soal pilihan, termasuk memilih untuk tidak memilih. Seandainya saja bisa seperti itu. Namun apapun pilihan kita, seberat apapun itu, sebenci apapun kita dengan pilihan itu, belajarlah untuk menghormatinya, belajar untuk menyukai apa yang telah kita pilih, disamping memilih apa yang kita sukai. Semoga hidup jadi lebih bersemangat..!!

#Tulisan ini bukan sebuah motivator atau kata-kata bijak, hanya sekedar coretan hati seorang Sartika Noriza, karena hidup tak semudah kata-kata, tak ada yang lebih tau tentang kehidupanmu sendiri kecuali dirimu sendiri.
Yogyakarta, 7 Juni 2012

Rabu, 06 Juni 2012

Hanya Karena Saya Seorang Perempuan


Perempuan, satu kata itu yang sering orang lain katakan pada saya saat hal-hal yang saya lakukan menjadi tidak biasa, hanya karena saya seorang perempuan. Seperti misalnya saat saya mulai menyenangi kegiatan-kegiatan alam terbuka semacam hiking, camping, maka orang-orang akan berteriak "kamu itu perempuan", atau saat saya tertawa terbahak-bahak beberapa orang juga akan mulai protes "perempuan tidak semestinya tertawa begitu".
Perempuan, Apa karena saya adalah perempuan, maka hal-hal yang saya lakukan menjadi aneh dan tidak lazim? Apa karena saya seorang perempuan, saya tidak semestinya menjadi seorang yang pemberontak dan membangkang? Apa perempuan tidak lazim untuk berpendapat dan berargumentasi dengan keras? Karena saya adalah seorang perempuan, maka orang-orang memandang aneh saat saya dengan ransel besar berisi pakaian, alat mandi, dan lainnya berpindah-pindah tempat, termasuk mandi di kamar mandi kampus. Karena saya seorang perempuan, apa saya harus selalu mengenakan make up atau pakaian yang feminim? Sementara saya lebih merasa nyaman dengan celana jeans dan kaos, dipadukan sendal jepit. Apa sebagai seorang perempuan, saya tidak boleh mendaki gunung, berbicara keras, atau tertawa lepas?
Hanya karena saya seorang perempuan, orang-orang memandang hal-hal yang saya lakukan menjadi di luar yang "biasa".

Selasa, 05 Juni 2012

Di Sudut Senja Ada Rindu

Aku tidak pernah jenuh menatap senja, begitukah pula dengan kalian?
Masih ingatkah senja-senja kita, saat kita menatap bunga ungu yang bermekaran lalu gugur dan menjadi kering, memandang rumput hijau lapangan yang memerah karena terkikis. Senja kita tak perlu romantis, di pantai pasir putih, tak perlu ombak yang berkejaran dengan kaki-kaki kita.
Senja kita tak perlu dramatis, bicara soal cinta atau kehidupan.
Senja kita dalam kesederhanaan, yang menerimanya singkat untuk pergi menuju malam.
Senja kita yang singkat cukup dengan tawa dan secangkir kopi yang membawa kita pada malam yang lebih panjang, membicarakan soal kelakar-kelakar ringan atau sekedar memainkan gitar.



Meski terbentang jarak beratus-ratus kilometer, senja selalu mendatangkan rindu, mungkin aku kehilangan suasana itu, tak melihat lagi bunga ungu yang mengering atau lapangan yang terkikis, tapi aku tak ingin dan berharap tak akan pernah kehilangan kalian. Di sudut senja ada rindu.. selalu..
#Teruntuk saudara-saudaraku ALTAR Mafesripala
Yogyakarta, 6 Juni 2012