Minggu, 29 Juli 2012

Mencintai dalam Diam


Hidup itu selalu soal pilihan,
Kemudian mengorbankan kesempatan lain yang ada karena pilihan,
Orang-orang ekonomi menyebutnya “Opportunity Cost”.

Hidup itu tidak selalu rasional,
Saat-saat tertentu kita justru menjadi tidak logis.
Bicara soal “perasaan” sangat jauh dari logika.
Seperti bertolak belakang.

Kehidupan selalu menghadapkan kita kepada pilihan-pilihan, entah itu dalam hal kuliah, pekerjaan, dan yang paling ruwet adalah soal perasaan. Hehehehe :)

Saya belum menemukan definisi mengenai sesuatu yang disebut orang-orang “cinta” atau mungkin memang ia tidak dapat didefinisikan? Entahlah. Banyak orang bicara soal cinta, katanya cinta itu buta, cinta itu nggak kenal logika, cinta itu menyakitkan, cinta itu tidak harus memiliki, dan sederet kata-kata “cinta itu..” lainnya. Dalam konteks kali ini yang dibicirakan adalah cinta dengan lawan jenis.

Katanya cinta itu butuh pengorbanan, nggak peduli dicemooh orang atau dianggap “bodoh”, katanya juga batas “cinta” dan “bodoh” itu tipis banget. Banyak orang-orang bicara soal cinta, bagaimana rasanya ketika mulai merasakan sangat menyukai dengan seseorang, mendekat, kemudian menjalani fase perkenalan lebih dalam atau yang sering disebut “pacaran”. Rasanya semua rela dilakukan untuk seseorang yang special itu. Kadang-kadang dibumbui juga dengan marahan atau sakit hati, merasakan sakit hati tidak perlu patah hati kan? Hehehehe :). Merasa sakit hati karena diacuhkan, sakit hati karena tidak didengarkan, sakit hati karena tidak dihargai pengorbanannya, sakit hati karena terlalu sering dicemooh orang-orang, atau sakit hati lainnya yang mungkin terjadi dalam fase perkenalan itu.
Tapi kata orang, cinta itu juga “manis”. Rasanya senang saat ada orang yang bisa dirindukan dan merindukan, diperhatikan dan memperhatikan. Menghabiskan banyak waktu bersama-sama membuat kita terbiasa bersama. Banyak hal yang dilewati mulai dari senang sampai susah. Saling menjaga dan siap menjadi sandaran saat lelah. 

Banyak opini tentang “cinta”. Banyak kisah tentang “cinta” pula. Ia seperti sesuatu yang berkeliaran dalam pikiran, berjalan-jalan sepanjang kehidupan. Setiap orang punya opini dan kisah cinta mereka masing-masing, mulai dari tawa canda hingga tangis, jingkrang-jingkrak hingga jatuh bangun. Bagaimana dengan kalian..??


Aku tidak pernah mengerti apa yang disebut orang-orang dengan "cinta", Suatu waktu aku pernah merasakan tidak ingin memiliki secara fisik, tidak ingin bicara lewat kata-kata manis, saat itulah aku belajar, mengerti untuk mencintai dalam diam.


Di suatu sudut Kota Yogyakarta, 30 Juli 2012
-Sartika Noriza-

Senin, 09 Juli 2012

Mengapa Naik Gunung? Karena Di Sana Ada Kesederhanaan

Mengapa naik gunung?

Saya tidak akan mengutip jawaban yang dilontarkan Soe Hok Gie dalam bukunya, tapi pertanyaan ini nyatanya juga kerap kali dipertanyakan oleh keluarga dan teman-teman saya. Ya, mengapa naik gunung? Tanpa lampu, kasur empuk, dan fasilitas lainnya, yah pokoknya kenapa mau ke gunung padahal di rumah atau kota tersedia banyak hal yang enak.

Setiap orang yang mendaki gunung punya alasan dan kesenangan masing-masing, entah itu karena ingin mencapai puncak atau hanya sekedar menikmati suasananya. Saya ingat, pertama kali saya mendaki gunung pada tahun 2004, saat umur saya menjelang 16 tahun dan setelahnya lumayan sering saya lakukan. Naik gunung, bagi saya adalah hal yang menyenangkan dan menarik. Pergi ke tempat-tempat yang jauh dari kata “mewah” membuat saya merasa nyaman dalam sebuah pelarian dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Kita akan merasakan nikmatnya tidur di dalam tenda hanya beralaskan matras yang digelar di atas tanah dingin, dibelai kabut dingin, dan disambut sinar mentari pagi harinya. Semua masakan yang dimakan terasa berkali-kali enaknya meski hanya sebungkus indomie rebus dan kopi hangat.

Naik gunung, memberi saya kesempatan mengenal banyak orang dan belajar banyak hal. Perjalanan berpeluh keringat dan batuan terjal membuat saya belajar mengerti sifat banyak orang. Seperti kata teman-teman yang juga senang naik gunung “sifat seseorang lebih terlihat saat naik gunung”.

Naik gunung memberikan saya sebuah kepuasan tersendiri, bukan karena saya mencapai puncak dan berdiri lebih tinggi dari puncaknya, tapi karena saya menemukan “kesederhanaan” di sana, bangun pagi disambut mentari dan dingin kabut, masak dan makan, senda gurau bersama teman-teman, saya sejenak melupakan jenuh dirongrong waktu dan materi. Naik gunung membuat saya menghargai kesederhanaan, dimana semua tidak diukur dari “uang”, uang seperti bukan nomor satu di sana, yah nggak ada kan indomaret di gunung? Dimana setiap orang (para pendaki) saling bertegur sapa dan melempar senyum ketika berpapasan di jalur, saling menolong saat yang lain susah padahal belum mengenal dengan sangat dekat.

Naik gunung, memperlihatkan kepada saya banyak hal, orang-orang baru, pemandangan indah, pembelajaran mengalahkan ego sendiri, dan saling berbagi.

Semua orang bisa naik gunung, mencapai puncak, dan turun lagi. Tapi tidak semua orang bisa mengalahkan ego sendiri. Naik gunung bukan berarti kita telah “menaklukkan” gunung, puncak bukan tujuan.
SETIAP TITIK ADALAH PUNCAK

Ya, Mengapa naik gunung? Karena di sana ada kesederhanaan……

Gunung Merapi, 8 Juli 2012.
-Sartika Noriza-