Jumat, 18 Januari 2013

K A C A M A T A


Ini pertama kalinya saya datang di warung kopi ini, bukan tempat yang biasa saya kunjungi untuk menikmati secangkir kopi. Suasananya tidak jauh berbeda, selayaknya warung kopi dengan harga di bawah lima ribu rupiah untuk satu cangkir. Cahaya yang remang-remang serta kursi dan meja kayu tanpa bantal duduk atau taplak meja. Saya memasuki warung dan menuju kasir untuk memesan secangkir kopi susu, kemudian menuju sebuah meja tepat di tengah-tengah warung. Tidak seperti biasanya juga dimana saya mungkin lebih memilih meja di suatu sudut ruangan, tapi tidak ada salahnya mengubah kebiasaan dan sudut pandang. Malam ini saya bersama seorang rekan kantor, sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol, ya selayaknya warung kopi kan? Disitu adalah tempat orang-orang menjajakan kehidupan sosialnya, bukan justru sibuk dengan teknologi yang mereka gunakan, kurang lebih begitu kecenderungan pendapat saya.

Dari tempat saya duduk, banyak orang yang saya lihat, berlalu lalang atau asik dengan meja mereka sendiri-sendiri. Di arah jam satu, saya lihat seorang perempuan tengah asik dengan hisapan sishanya, sampai akhirnya seorang laki-laki yang mungkin adalah temannya datang bergabung. Lain dengan meja di seberangnya, seorang wanita berambut panjang menyulutkan api pada sebatang rokok dan menghisapnya. Banyak orang lalu lalang melewati tempat kami duduk, saat itu saya sedang melepas kacamata yang saya gunakan, hingga salah satu dari mereka yang lewat berhenti dan menyalami teman saya, lalu bergabung dengan kami, perkenalan singkat yang bahkan membuat saya tidak mengingat siapa namanya, ia lalu sibuk berbincang dengan teman saya. 

Lampu yang temaram dan mata saya yang memang menderita minus membuat saya tidak terlalu jelas melihat orang-orang di seluruh ruangan ini, karena itu saya kembali mengenakan kaca mata saya. Tiba-tiba rekan baru kami berkata “ternyata mbaknya pakai kacamata juga toh”. Saya menyapu ruangan dengan kacamata saya, lalu kembali melepasnya. “Kacamata membuat kita melihat yang jauh menjadi jelas, tapi membatasi sudut pandang kita” kata saya sambil menyeruput kopi yang semakin dekat dengan ampasnya, entah atas dasar apa saya mengatakan itu tapi rasa-rasanya begitulah yang saya rasakan. Teman saya tertawa kecil “mbak, kamu kebanyakan minum kopi deh.”


Hahahaha, sepertinya begitu ya, ini kopi cangkir kedua yang saya minum, setelah secangkir kopi hitam pahit di lobby kantor tadi sore. Tapi sepertinya saya benar-benar merasa bahwa kacamata membuat pandangan saya terbatas, pasti kan? Karena kacamata memiliki frame yang sedikit mengganggu pandangan jarak dekat. Seringkali juga kacamata membuat saya tidak focus dalam mengendarai motor, ia membuat saya terlalu fokus pada kendaraan-kendaraan yang berada jauh di depan saya. Selain itu ia juga membuat cahaya dari kendaraan tersebut menyilaukan penglihatan saya. 

Tapi bagaimanapun, dengan keadaan mata saya yang minus, saya tetap memerlukan teknologi kacamata. Itulah kenapa saya tidak setiap saat menggunakan kacamata saya, selain karena mata saya lelah, tapi melepas kacamata membuat pandangan saya menjadi lebih luas. Sebenarnya tidak sepenuhnya begitu sih, melepas kacamata terus-terusan mungkin juga menambah minus saya. Tapi kira-kira begitulah, ah sudahlah ini cuma coret-coretan level warung kopi. :)
-    Yogyakarta, Januari 2013 -

Rabu, 16 Januari 2013

AKU (TIDAK) MENUNGGU TAHUN BARU




31 Desember, hari terakhir di tahun 2012, ya banyak orang menantikan pergantian tahun. Tiga kali pergantian tahun aku lewati disini, tapi malam ini gegap gempita pergantian tahun sedikit teredam hujan deras yang mengguyur kota Jogja sedari sore hari. Namun mendekati pukul dua belas malam, sayup-sayup terdengar pula ledakan kembang api sebagai luapan emosi perayaan pergantian tahun.
Aku bukan salah satu dari mereka yang mungkin saat itu berada di gubuk pinggir pantai berdesak-desakan berteduh dari hujan yang sangat deras, dengan wajah penuh harap hujan akan berhenti sebelum pukul dua belas malam. Aku juga tidak berada di dataran tinggi dan pastinya mereka yang disana pun sedang duduk cemas berharap langit berhenti menangis, kembang api mereka menunggu dimuntahkan melukis langit pergantian tahun. Aku berada di atas kasur kecil  dalam kamar kostku, berbaring membaca sebuah novel tentang cerita luapan lumpur panas, hal yang sama dengan mereka adalah bahwa aku menunggu pukul dua belas malam, tapi bukan karena ingin berkembang api ria atau bakar-bakaran. 

Mataku sudah hampir berat mendekati jam sebelas malam, sementara ia yang juga berada di atas kasurnya sepertinya sudah terlelap dalam peraduannya di sebuah rumah kecil yang hangat. Tidak apa, rencana bermalam tahun baru bersama pun terpaksa dibatalkan lagi-lagi karena hujan. Tapi aku yakin, ada kebersamaan lain yang lebih penting dari sekedar kebersamaan sehari dalam malam pergantian tahun. Apalagi beberapa hari esok ia akan aku pertemukan dengan seseorang yang aku tunggu malam ini. Meski rencana telah dibatalkan, aku tetap akan menunggu hingga hari berganti, aku tidak ingin melewatkan satu menit apalagi berjam-jam pergantian itu. 

Kisah dalam novel sudah setengah aku lahap, aku mulai merasa semakin mengantuk.

Tiba-tiba aku terbangun dengan kaget dan spontan melihat handphoneku, Jan 1 2013, 12.04 am. Terlewat empat menit, seketika aku terduduk dan sibuk dengan handphone-ku, mengetik sebuah pesan singkat :

“Selamat ulang tahun”

Choose contact : Papa
Sending..

Aku memeluk gulingku, menyelimuti tubuhku dengan sleeping bag. Bergumam dalam mimpi “Selamat ulang tahun papa” meski kita tak terlalu dekat secara psikologi.


Yogyakarta, Pergantian Tahun 2012-2013