Rabu, 21 Januari 2015

Tentang Senja dan Kunang-kunang



"....tentang kau dan hujan, tentang cinta kita, yang mengalir seperti air....." (Hujan-Utopia)

Bibir Senja bergerak mengikuti ejaan lagu yang ia dengarkan di dalam bus yang cukup penuh dengan penumpang. Di luar sana hujan sedang turun, menyampaikan rindu langit pada tanah. Perjalanan yang tak biasa ia lakukan, tapi Senja sudah terlalu lelah hingga ia memutuskan melakukannya.

Beberapa jam kemudian, hampir petang saat kakinya menapak pada tanah basah beraroma asam. Senja menyusuri jalan setapak, menuju lembah yang pernah ia kenal. Tanah merah yang basah dan licin, namun sepatu Senja cukup kokoh mencengkeram agar ia tak jatuh.

Sampailah Senja pada lembah yang sunyi, yang gelap ketika malam mulai tiba. Lembah yang pernah sangat ia kenal, lembah yang pernah berkali-kali jadi pengaduannya. Senja meletakkan ranselnya di atas sebuah batu besar, kemudian berbaring di atasnya menatap langit yang rupanya telah menggelap. Nyanyian air sayup-sayup terdengar bersahutan dengan suara jangkrik. Senja masih menatap kosong sampai akhirnya dia tiba, Kunang-kunang.

Senja serta merta terduduk, menatap terpesona pada Kunang-kunang yang lama tak ditemuinya, yang telah lama pula tak ditumpahi oleh keluh kesahnya. Senja terdiam pun Kunang-kunang, mereka terlalu lama tak berjumpa hingga menghadirkan jarak, jarak yang menciptakan rindu membeku jadi bisu. Senja segan untuk segera berkeluh seperti dulu, ia ragu apa Kunang-kunang masih setia mendengarkannya? Sementara Kunang-kunang terlalu takut untuk melihat wajah Senja menjadi muram meski ia selalu bersedia meminjamkan cahaya saat Senja mulai linglung.

Malam sudah semakin meninggi, Senja dan Kunang-kunang terbuai dalam diam sementara bintang beramai-ramai memperhatikan mereka. Senja masih terpesona pada Kunang-kunang yang mengitarinya, membisu tanpa tahu harus merangkai kata apa untuknya. Kunang-kunang masih terus mengelilingi Senja padahal sebenarnya ingin mendekat pada wajah Senja untuk memastikan ia tak menangis.

Fajar sudah hampir tiba, Senja dan Kunang-kunang mulai gelisah tersadar mereka terlalu banyak saling mendiamkan. "Katakanlah sesuatu Kunang-kunang, apa kau masih akan setia mendengarkanku?" Senja hampir terisak saat membisikkannya, ia berlomba dengan waktu yang sebentar lagi menyembunyikan Kunang-kunang. Benar saja, fajar perlahan tampak. Senja hampir saja menangis sejadi-jadinya saat Kunang-kunang berkata mesra "Jangan menangis Senja, aku tak akan kemana-mana aku akan selalu setia disini untukmu."

Beberapa menit kemudian Senja terbangun dan mendengarkan alunan lagu, masih lagu yang sama.

"....tentang kau dan hujan, tentang cinta kita, yang mengalir seperti air....." (Hujan-Utopia)

21 Januari 2015
Cerita tentang Senja dan Kunang-kunang.
SN

foto: google

Kamis, 15 Januari 2015

S A L A H



Sudah berapa kali ya saya salah? Sering rasanya. Dalam hal apa? apa saja. Saya pernah salah dalam mengambil sikap, salah memutuskan sesuatu, salah semasa kuliah ataupun salah dalam pekerjaan, dan masih banyak salah-salah lain yang tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Misalnya seperti pada suatu hari saya berkutat dengan excel selama setengah hari kerja saya. Ada yang janggal pada hasil akhir worksheet saya saat dicocokkan dengan sistem. Setengah hari yang membuat saya terlambat menikmati rutinitas minum kopi. Rupanya kesalahan kecil berdampak pada worksheet saya yang menggunakan formula yang saling berhubungan. Sederhana, kesalahan rumus cell yang berdampak pada keseluruhan.

Kesalahan juga kadang terjadi dalam mengambil sikap, kadang kala saya marah untuk hal-hal yang justru sebenarnya baik untuk saya. Kadang, saya juga menganggap saya salah memutuskan sesuatu, sehingga belakangnya saya akan bilang "coba tadi milih A bukan B" atau menggerutu untuk melampiaskan penyesalan dalam mengambil keputusan.

Dalam hal cinta? Lho ada yang bilang katanya "Cinta Tak Pernah Salah". Benarkah? Saya pernah salah dalam cinta, salah mengartikan apa itu cinta. Salah membedakan antara cinta dan keinginan. Atau mungkin juga salah memaksakan cinta pada saat yang tidak tepat.

Kesalahan-kesalahan saya dalam kehidupan secara garis besar terlalu banyak untuk dirinci, diruntut. Tidak semudah merinci dan meruntut laporan keuangan ke dokumen sumber. Di balik semua kesalahan-kesalahan itu, ada sisi positif pula rupanya yang menuntun kepada sesuatu yang benar atau sesuatu yang lebih tepat bagi saya. Misalnya saya salah memasukkan formula pada excel saya, tapi saya belajar mencari sumber salahnya dan memperbaikinya. Saya salah karena memilih A tapi saya memiliki kesempatan menjalani pilihan B, opportunity cost dimana untuk mendapatkan sesuatu saya harus mengorbankan sesuatu pula.

Pada akhirnya setiap kesalahan yang saya lakukan memberi pelajaran bagi saya, karena pernah salah bisa jadi guru terbaik untuk kita melakukan hal yang benar.

Tulisan ini tidak memiliki acuan seperti apa salah dan benar, semua tergantung pada asumsi dan pandangan setiap individu. Hari saya temukan kata-kata "Terkadang, salah dan benar hanya dipisahkan oleh sesuatu yang tak pernah ada." (Pritoyo Amrih).

Foto: google

BSD, 15 Januari 2015
SN

Minggu, 04 Januari 2015

SELAMAT ULANG TAHUN PAPA



Beberapa menit lagi menjelang pergantian tahun, aku masih terjaga dengan mata segar. Memantau kucingku yang meringkuk ketakutan di bawah meja makan. Rupanya suara-suara mercon dan kembang api membuatnya sedikit kebingungan, ia diam bahkan saat aku menggendongnya dan membawanya ke kamarku tak ada pemberontakan darinya seperti biasa. Malam tahun baru mungkin tak meriah buat seekor kucing.

Tahun baru? Ah iya ini pergantian tahun sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya ada hal yang lebih penting bagiku dibanding pergantian tahun. 1 Januari, menurut kalender masehi adalah tanggal pertama di setiap tahun. Tapi bagiku, 1 Januari lebih dari itu. Ini bukan soal pesta kembang api yang menurut sebagian orang romantis, bukan pula tentang acara barbeque yang ramai.

Malam itu hujan berkepanjangan sejak sore, baru mereda mendekati pukul sebelas malam. Maka saat itulah pula suasana jadi begitu ramai di kompleks perumahanku, apalagi di jalan raya ya? Aku? aku cukup di rumah saja, memantau kucingku dan menunggu tepat pukul dua belas malam.

Tepat pada pergantian tahun, saat suara kembang api gegap gempita saat itu lah aku memanggil Papa dan mengucapkan "Papa, selamat ulang tahun" sembari memberi bingkisan sederhana yang mudah-mudahan berguna. Terasa kikuk sejenak, mengingat mungkin ini pertama kalinya lagi setelah bertahun-tahun aku tak mengucapkan kalimat itu dan memberi bingkisan secara langsung. Tapi selanjutnya, kami sama-sama paham bahwa kami sedang merajut kemesraan yang tak orang lain paham.

Selamat ulang tahun, Papa. :)

BSD, 1 Januari 2015