Sabtu, 24 Desember 2016

NGGAK MAU COBA COFFEE TAREEK KAK?

Suatu hari, di sebuah kedai kopi.
"Nggak mau coba coffee tareek kita kak?"
Setelah sekian lama tidak kesana, menu yang biasa ku pesan hilang dari daftar, ditambah pegawai kedai kopi yang tidak lagi ku kenal. Pertanyaan itu terlontar setelah aku akhirnya memutuskan memesan black coffee setelah espresso hilang dari daftar.
"Nggak deh, mas yang biasanya kemana?" aku menolak sekaligus bertanya.

Esok-esoknya setiap aku kembali ke kedai kopi itu, aku mendapatkan tawaran yang sama dari pegawainya. "Nggak mau coba coffee tareek kita kak? Lebih strong kopinya. Kalau lu suka kopi, gue jamin deh lu pasti suka coffee tareek kita"

Setelah tiga kali menolak, akhirnya aku memutuskan untuk memesan coffee tareek yang ditawarkan. Harus aku akui rasanya memang lebih kuat dan aku menyukainya, kopinya maksudku bukan si pegawai yang menawarkan kopi. Hehehe.

Hanya karena kalimat "Nggak mau coba coffee tareek kita kak?" Aku berpikir, rupanya kita butuh sesuatu yang baru, seseorang yang baru. Setelah yang lama pergi dan meninggalkan luka yang membekas, tak pernah benar-benar hilang dari hati.

Mungkin sebaiknya aku berterima kasih pada pegawai yang kini sudah semakin hafal denganku yang hampir selalu memesan coffee tareek dan tanpa gula saat berkunjung ke kedai kopi itu.

Jumat, 04 November 2016

GARIS WAKTU - FIERSA BESARI

"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa." (Fiersa Besari, Garis Waktu)

Garis Waktu, sebuah karya dari Fiersa Besari, menceritakan sebuah perjalanan menghapus luka. Karya-karya Bung (Fiersa Besari) pertama kali saya kenal dari tulisan-tulisan dalam blognya tentang perjalanannya keliling Indonesia. Seharian saya membaca blog Bung dan berpikir betapa patah hati mampu membuat seseorang melakukan hal luar biasa seperti yang ia lakukan.

Secara keseluruhan, Bung menceritakan kisah dengan bahasa yang ringan, meski di akhir Garis Waktu terasa seperti dipaksakan selesai. Namun terlepas dari itu, Garis Waktu sukses mempermainkan perasaan saya. Saya dibuat berbunga-bunga pada awal, kemudian dihempas jatuh hingga ke dasar pada akhirnya. Saya terseret dalam alur cerita dimana seseorang memulai jatuh cinta, memperjuangkan perasaan meski sempat bertepuk sebelah tangan, merasakan kasmaran, berbunga-bunga hingga sebuah hubungan mulai merenggang sampai pada akhirnya harus kandas dan sang tokoh kembali patah. Bukankah cinta selalu luar biasa? Suatu saat membuat hati kita berbunga-bunga seperti taman yang indah, di saat lain meluluhlantakkan seperti badai.

Dengan caranya, Bung mampu membawa pembaca seolah turut serta melakoni kisah Garis Waktu. Melalui tulisannya, seseorang bahkan seperti merasa nyata mengalaminya. Perihal cinta memang tak pernah sesederhana yang kita katakan, juga sebetulnya tak pernah serumit yang kita bayangkan. Mungkin benar adanya jatuh cinta adalah perkara mudah, yang sulit adalah memulainya kembali ketika kita sadar bahwa hati kita telah patah. Merasa nyaman dengan seseorang adalah soal gampang, yang sulit adalah ketika harus siap saat seseorang itu tak lagi ada untuk kita.

Patah hati mampu membuat seseorang berada dalam zona ketakutan. Takut untuk kembali jatuh, membentengi diri sendiri tanpa memberi kesempatan untuk membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan. Patah hati juga dapat menimbulkan perasaan terlalu berhati-hati dan tak mampu menjatuhkan diri dengan sukarela. Karena patah hati, seseorang bisa benar-benar memelihara ketakutan.

"Dan karena hati akan sakit lagi, bukan berarti kita harus berhenti jatuh hati." 
(Fiersa Besari, Garis Waktu)

Benarkah? Siapkah untuk resiko terburuk dari jatuh hati? Kadang pikiran menuntut kerasionalan tak berbatas, sementara hati seringkali butuh ketidakrasionalan. Sebab jatuh hati bukan selalu tentang kebahagian, kita bahkan harus menangis dan merasa sendu karenanya. Sebelum kau siap untuk jatuh hati, bersiaplah untuk patah. Jika kau tak penah siap untuk patah, maka patah hati terburuk adalah saat kau tak pernah siap untuk jatuh kembali.

"Pada akhirnya, jemari akan menemukan genggaman yang tepat, kepala akan menemukan bahu yang tepat, hati akan menemukan rumah yang tepat." (Fiersa Besari, Garis Waktu)

Sebelum itu terjadi, berkelanalah. Berdamailah dengan hatimu sendiri, suatu saat kau tahu kemana harus pulang.

Tangerang Selatan, November 2016
SN

Senin, 25 Juli 2016

ARGOPURO: 31 MEI-4 JUNI 2016 VIA BREMI

Akhir Mei 2016 kemarin dengan tekad yang mengandung nekat, saya berangkat sendiri ke Surabaya dengan kereta api kelas ekonomi Gaya Baru Malam. Niat awal adalah mendaki gunung Argopuro, tetapi mendekati hari keberangkatan saya dari Jakarta, teman saya di Surabaya mengabari sepertinya tidak ada tim yang bisa berbarengan dengan saya untuk mendaki. Karena kebutuhan nge-trip yang mendesak, didukung sisa cuti tahun lalu sebanyak lima hari yang akan hangus jika tidak digunakan per 30 Juni, saya tetap berangkat ke Surabaya dengan sederet plan cadangan jika batal mendaki Argopuro.

Sabtu 28 Mei 2016, dengan ngos-ngosan saya menghampiri antrian paling depan di mesin cetak tiket Stasiun Senen lalu minta tolong pada antrian membiarkan saya untuk lebih dulu ngeprint tiket, waktu itu pukul 10.20 dan jadwal kereta saya berangkat pukul 10.30. Beruntung saya tidak ketinggalan kereta, kan nggak lucu sudah sendirian ketinggalan kereta pula. Hehehe. Ini pertama kalinya saya naik kereta ke Surabaya langsung, sebelumnya saya biasanya singgah di Jogja dulu baru melanjutkan ke Surabaya dengan bus. Lima belas jam di kereta ternyata sangat pegal, sudah berkali-kali ubah posisi dan mondar mandir ke sambungan kereta, ngobrol sama ibu-ibu sebelah, makan cemilan, intinya hampir "mati kutu" bingung mau ngapain. Akhirnya Minggu dini hari pukul 01.30 saya sampai juga di stasiun Gubeng, disana saya dijemput teman saya Haqim (Blank) dan diajak ke basecamp Mapalsa untuk istirahat.

Tak kan lari gunung dikejar tak kan lari jika berjodoh, begitulah kira-kira. Akhirnya setelah Blank mengajak Pumeto adiknya di Mapalsa, dan saya mengajak Cicik yang dulu pernah magang di kantor saya, hari Senin 30 Mei 2016, kami berempat berangkat ke Probolinggo dan singgah di Mapala Fatarpa dengan maksud menculik penghuninya untuk ikut serta ke Argopuro.

Gunung Argopuro terletak di kawasan Jawa Timur dengan puncak tertinggi (puncak Argopuro) berada di ketinggian 3.088 meter diatas permukaan laut,  selain itu terdapat dua puncak lainnya yaitu puncak Rengganis dan puncak Arca. Ada dua jalur pendakian gunung Argopuro yaitu via Bremi dan Baderan. Gunung yang terkenal dengan legenda Dewi Rengganis ini katanya merupakan gunung dengan jalur pendakian terpanjang di Jawa.

31 Mei 2016
Selasa siang kami ditambah dua orang anggota Fatarpa, kami berangkat ke basecamp Bremi. Anggota tim berjumlah enam orang yaitu Blank (Haqim), Pumeto (Riza), Bencrot (Bayun), Keppak (Ali), Cicik, dan saya sendiri. Rencana awal sebenarnya kami akan naik dari Baderan tetapi akhirnya berubah, dari basecamp Fatarpa ke Bremi, kami diantar oleh anggota Fatarpa lainnya sekalian mereka akan menjemput anak-anak dari Bandung yang sedang mendaki Argopuro sejak Sabtu kemarin. Kami agak lama berada di basecamp Bremi karena lupa membawa materai sehingga Blank dan salah satu anggota Mapala Fatarpa terpaksa harus mencari materai dulu. Untuk mengejar waktu, kami start pendakian pukul setengah lima sore dengan target sampai ke Taman Hidup. Seluruh anggota tim mengenakan jas hujan karena saat itu hujan deras. Hari semakin malam dan dingin, jalur yang sempit dan licin, ditambah sulitnya berjalan malam dengan mengandalkan cahaya senter serta melihat kondisi salah satu anggota tim akhirnya kami memutuskan untuk camp darurat sebelum berhasil sampai ke Taman Hidup. Waktu itu sudah pukul sembilan malam.

 Sesi foto-foto pertama sejak mulai pendakian (Pumeto, Saya, Blank)
Masak dan makan siang di Danau Taman Hidup
Pumeto, Bencrot, Blank, Saya (Tika/Buncit), Cicik
1 Juni 2016
Rabu pukul enam pagi , saya menyusul Pumeto yang sudah lebih dulu bangun dan masak di depan tenda. Setelah masak dan makan, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Taman Hidup. Perjalanan hari ini targetnya adalah Cemoro Limo. Pendakian kembali dimulai pada pukul delapan pagi, kurang lebih satu setengah jam kami sampai di Taman Hidup. Taman Hidup adalah sebuah danau dengan tepiannya yang berupa rawa, disana kami memasak, makan, dan bersitirahat. Sekitar pukul dua belas siang kami melanjutkan perjalanan kembali dan bertemu dengan tim dari Bandung dan Malang yang sedang berjalan turun menuju Bremi. Pukul lima sore kabut mulai turun dan angin dingin sekali, Blank menyarankan tim untuk memakai jaket/raincoat. Saat saya mengenakan raincoat, seorang anggota tim duduk di atas kayu pohon dan diam saja ketika saya panggil. Karena saya merasa heran dan khawatir, saya hampiri dan guncangkan pundaknya, bukannya bereaksi dia malah terjatuh, saya akhirnya menampar-nampar wajahnya, setelah berkali-kali tamparan keras dari saya, akhirnya dia baru terbangun. Melihat kondisinya, saya dan yang lainnya merasa khawatir, tetapi kami harus tetap melanjutkan perjalanan ke Cemoro Limo karena itu lokasi yang paling memungkinkan untuk camping. Syukurlah tepat pukul enam sore kami tiba di Cemoro Limo, kami berbagi tugas untuk memasak dan mendirikan tenda.


Di Perjalanan menuju Cemoro Limo
2 Juni 2016
Pukul sembilan pagi kami melanjutkan pejalanan menuju puncak. Di tengah perjalanan, seorang teman kembali drop. Saya yang belum pernah mendaki Argopuro sebelumnya bertanya dengan anggota tim lainnya apakah memungkinkan tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan langsung kepadanya apakah mau lanjut atau tidak. Karena semangatnya yang tak surut dan tetap bertekad untuk lanjut akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Pada pukul dua siang kami tiba di Sabana Lonceng yang merupakan persimpangan antara Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Keppak menawarkan diri untuk tidak ikut ke Puncak Argopuro dan menjaga barang-barang, sementara lima orang lainnya mendaki Puncak Argopuro. Turun dari Puncak Argopuro, Cicik, Pumeto dan Bencrot memutuskan untuk tidak ikut ke Puncak Rengganis. Akhirnya hanya Blank, Keppak dan saya yang menuju Puncak Rengganis. Sehabis turun dari Puncak Rengganis, kami bertemu dengan dua pendaki dari Bandung yang akan turun via Bremi. Kami sempat mengobrol sebentar kemudian pukul lima sore kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Rawa Embik satu jam kemudian, kami bertemu dengan tim dari Sidoarjo berjumlah empat orang yang naik dari Baderan, akhirnya di malam ketiga tenda kami ada tetangganya.

Para lelaki tangguh yang menemani pendakian, thanks guys :)




Puncak Argopuro








Puncak Rengganis

Cicik Andriani (jilbab pink). Satu-satunya temen cewek dalam tim, awalnya ini anak nggak pake jilbab. karena kita mampir ponpes Nurul Jadid dan wajib pake jilbab akhirnya dia dipinjemin jilbab dari sekret Fatarpa dan dipake terus sampai selesai pendakian.
Pemandangan Sekitar Puncak Rengganis
3 Juni 2016
Jumat pagi sekitar pukul sebelas, kami melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya, sejenak mampir di Cisentor untuk masak dan makan serta menikmati segarnya air di Cisentor. Lewat sedikit dari pukul lima sore kami tiba di Cikasur, disana terdapat sebuah bangunan yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda di dalamnya. Malamnya tim dari Sidoarjo pun tiba di Cikasur, mereka yang sebelumnya berniat turun via Bremi akhirnya memutuskan turun via Baderan. Setelah masak dan makan, kami bercengkrama dan main kartu.

Masak dan Makan Siang di Cisentor
4 Juni 2016
Usai mencari selada air dan menikmati segarnya mata air Cikasur, Sabtu pukul setengah sebelas pagi kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp Baderan, menurut peta yang diberikan saat di basecamp Bremi, waktu tempuh Cikasur-Baderan sekitar 8-12 jam. Baru membacanya saja saya sudah membayangkan betapa panjang jalur yang akan ditempuh. Benar saja jalurnya panjang sekali, padang rumput luas, masuk ke hutan dengan jalur yang rimbun, keluar ke padang lagi, masuk hutan lagi, begitu terus jalurnya hingga bertemu Makadam, jalur berbatu yang panjangnya minta sabar hingga ke basecamp. Satu jam berjalan dari Cikasur, saya dan Blank bertemu dengan pendaki asal Australia yang mendaki sendirian. Setelah menempuh hampir sebelas jam perjalanan, kami tiba di basecamp Baderan. Sebenarnya lama perjalanan bisa dipersingkat menjadi kurang lebih sembilan jam, karena kami sempat berhenti selama masing-masing satu jam di mata air satu dan dua, untuk memasak dan makan serta mengobrol dengan pendaki dari Jogja yang baru naik dari Baderan.
Full Team di Cikasur. Ki-ka: Keppak, Cicik, Blank, Bencrot, Pumeto, Saya

Ringkasan Perjalanan Pendakian Gunung Argopuro via Bremi
(31 Mei-4 Juni 2016)
31 Mei 2016
16.30-21.00 Basecamp Bremi-sebelum Taman Hidup
(biasanya pendaki akan bermalam di Taman Hidup)
1 Juni 2016
08.00- 09.30 menuju Taman Hidup
12.00-18.00 Taman Hidup-Cemoro Limo
2 Juni 2016
09.00-14.00 Cemoro Limo-Sabana Lonceng
14.00-14.30 Sabana Lonceng-Puncak Argopuro
15.30-15.50 Sabana Lonceng-Puncak Rengganis
17.00-18.00 Sabana Lonceng-Rawa Embik
3 Juni 2016
11.00-12.00 Rawa Embik-Cisentor
13.30-17.00 Cisentor-Cikasur
4 Juni 2016
10.30-21.00 Cikasur-Basecamp Baderan

Gambaran Jalur yang Diberikan di Pos Bremi
Pendakian kali ini memberikan pengalaman dan juga pembelajaran yang berharga bagi kami, bagi saya khususnya. Saya semakin belajar bahwa pendakian adalah tentang keseluruhan tim, belajar bagaimana mendiskusikan dan mengambil keputusan dari situasi dan kondisi yang ada. Jalur pendakian yang panjang dan lama, membuat saya berusaha lebih keras untuk berkali-kali menyemangati diri saya sendiri. Pendakian Argopuro merupakan surga tersendiri menurut saya, dengan suasananya yang sepi dan tenang. Oh ya, katanya banyak yang mengalami kejadian mistis saat pendakian Argopuro, kami sendiri mengalami saat bermain kartu pertama kalinya dimana kartu tiga wajik hilang sehingga kami ganti dengan joker merah. Tetapi dua hari kemudian saat kami bermain kartu di Cikasur, kartu tiga wajik tersebut kembali muncul dan joker merah bertambah satu. Saya sendiri di Cemoro Limo dan Cikasur mengalami  mimpi yang membuat saya sampai mengigau, saat teman saya menanyakan saya kenapa saya hanya menjawab "nggak papa" lalu kemudian saya melanjutkan tidur.

"Motivator terbaik adalah dirimu sendiri, baru orang-orang disekelilingmu."

CIKURAY: 17 AGUSTUS 2015

Dinar Bayu, namanya. Teman yang saya kenal di basecamp pendakian Gunung Lawu pada November 2011 silam, ketika saya baru tiba sementara ia dan temannya baru saja turun dari pendakian. Seminggu sebelum perayaan hari kemerdekaan RI, Dinar menyapa saya lewat bbm untuk mengajak ke Gunung Cikuray pada tanggal 15-17 Agustus 2015. Saya yang belum bisa memastikan akan ikut atau tidak, belum memberinya kepastian hingga H-2 keberangkatan. Hingga Dinar berkata "Aku udah bilang temen-temenku lho kamu mau ikut.". Jadilah saya bergabung dengan pendakian mereka dan berangkat dari Serpong menuju Pasar Rebo pada sabtu malam (15 Agustus 2016). Di Pasar Rebo saya bertemu dengan Dinar dan tiga orang temannya yang kemudian saya kenal bernama Rendra, Rival (Bambang), dan Bewok (Ari). Kami kemudian menuju terminal Kampung Rambutan untuk naik bus tujuan Garut dengan tarif Rp 60.000.

Pemandangan dari Basecamp. Pic taken by: Dinar
Kami tiba di Garut sekitar pukul empat subuh, kemudian sarapan (bisa dibilang mungkin sarapan yang kepagian atau makan malam yang kepagian) dan melanjutkan perjalanan menuju pos pemancar. Sekitar pukul setengah enam pagi kami sudah berada di basecamp pemancar dan bersiap untuk mendaki. Pendakian dimulai pada pukul tujuh pagi dan berhenti setelah satu jam perjalanan untuk sekedar ngopi dan berkelakar. Baru kemdian pukul setengah sepuluh kami melanjutkan perjalanan kembali, ukuran yang sangat santai untuk sebuah pendakian hehehe. Hari itu jalur pendakian sangat ramai mengingat bertepatan dengan momen perayaan hari kemerdekaan dimana banyak pendaki yang ingin melakukan upacara di gunung. Saya yang baru pertama mendaki Gunung Cikuray cukup terkejut dengan jalurnya yang "aduhai" (baca: luar biasa nanjak), untunglah empat lelaki itu cukup pengertian dan santai berjalan sehingga saya tidak terlalu sulit mengimbangi. Semakin jauh mendaki, antrian di jalur pun semakin ramai akhirnya kami memutuskan untuk camp di pos 4. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya naik gunung bertepatan dengan acara 17 Agustus-an.


Ramainya Pendaki
Saat kami memutuskan untuk mendirikan tenda jam baru menunjukkan pukul dua siang. Kami memasak, makan dan bahkan sempat "bobok siang" sebentar. Menjelang senja, kami bangun dan duduk-duduk di depan tenda, Dinar yang membawa guitalele mulai menunjukkan keahliannya sementara yang lain mengikuti dengan bernyanyi. (Saya sampai bbm bang Dinar untuk memastikan nama alat muski tersebut). Setelah makan malam, dua orang pendaki lain bertamu ke tenda kami. Kami mengobrol dan masih ditemani alunan musik dari guitalele yang dimainkan bergantian. Hampir pukul dua belas malam ketika semua personil memutuskan untuk masuk ke tenda. Sebelum tidur, bang Rendra sempat menanyakan kepada saya yang baru pertama kali ke Cikuray "Mba, lu besok subuh mau muncak nggak? ntar gw temenin." Sepertinya bang Rival dan Bewok tidak berniat untuk muncak. Saya sendiri yang melihat jalur pendakian sangat ramai akhirnya menjawab "Nggak ah, kita kemcer (red: kemping ceria) aja disini.", saya memang tidak berniat untuk muncak karena tujuan kali ini adalah sekedar menikmati suasana jauh dari hiruk pikuk ibu kota.
Masak dan Makan Siang di Pos 4
Kuliah Umum hehehe :p
Kami membawa dua tenda berkapasitas masing-masing 2-3 orang. Saya, bang Dinar, dan bang Rival berada dalam satu tenda sementara bang Bewok dan Rendra di tenda lainnya. Saya baru benar-benar terlelap sekitar pukul setengah dua dini hari, dan merasa ada yang membangunkan dari luar tenda menanyakan apakah saya mau ikut muncak. Setengah sadar saya menjawab dalam hati "kan kemaren gue udah bilang nggak pengen muncak.", entahlah itu hanya mimpi atau memang ada yang membangunkan saya sendiri tidak tahu. Paginya pukul setengah tujuh kami sudah memasak dan sarapan, kemudian mengobrol dan lagi-lagi berkelakar. Sekitar pukul dua belas kami melanjutkan perjalanan turun menuju basecamp dan tiba disana sekitar jam dua siang. Beristirahat sejenak lalu langsung mencari angkutan menuju terminal Garut untuk  menyambung bus ke Jakarta. Bang Rizal, Bambang, dan Rendra turun di Bekasi sementara saya dan bang Dinar turun di terminal Kampung Rambutan pada pukul setengah dua belas malam. Karena sudah terlampau malam dan angkutan ke BSD (Serpong) sudah tidak tersedia, akhirnya saya menggunakan jasa transportasi online dan tiba di rumah pukul dua dini hari. Tidur selama tiga jam kemudian bersiap untuk berangkat kerja. Kadang liburan singkat dan santai seperti ini sangat dibutuhkan bagi kuli kantoran seperti saya.

Di Jalur saat Turun ke Basecamp
Satu kata: Ngebul
Ini perjalanan saya yang paling santai dan banyak ketawa. Sebenarnya mungkin sejak awal kami memang tidak berniat untuk ke puncak, yang kami butuhkan adalah suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota, beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan. Setiap perjalanan punya kisahnya masing-masing, tertawalah bahkan jika kau membawa perasaan terluka. Karena kau selalu berhak berbahagia.

"Berjalanlah lebih jauh, kau akan selalu menemukan dirimu"

SURYA KENCANA: KARENA TUJUAN SETIAP PENDAKI ADALAH PULANG DENGAN SELAMAT

Selalu banyak cerita yang dituliskan tentang bagaimana mencapai puncak gunung, tapi juga selalu ada kelayakan untuk menceritakan tentang bagaimana "gagal" mencapai puncak. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya tidak berhasil muncak, sebelumnya hal itu pernah saya alami juga dan mungkin akan saya ceritakan di tulisan berikutnya. Kali ini saya akan menuliskan cerita tentang mencapai puncak Gunung Gede yang tertunda dan hanya sampai Surya Kencana.

Rencana pendakian berawal dari ajakan Edika yang disambut antusias oleh Lia yang baru akan pertama kali mencoba mendaki gunung. Karena status kami bertiga yang notabene adalah kuli kantoran, maka setelah banyak pertimbangan kami memutuskan untuk ke Gunung Gede via putri. Personil awal yang berjumlah tujuh orang berkurang dua yang mendadak batal karena sakit dan ada keperluan mendesak. Tapi mendekati keberangkatan, personil justru bertambah enam orang karena bergabung dengan teman dari Depok dan Bogor, sehingga total berjumlah sebelas orang. Setelah mengurus simaksi yang cukup "ribet" dan bawel ke semua anggota tim soal peralatan dan perbekalan, akhirnya Jumat malam tanggal 15 April 2016 kami berangkat dari Serpong ke Gunung Putri. Perkiraan saya yang meleset tentang jadwal rutin "bulanan" sempat menggoyahkan tekad saya untuk tetap berangkat, maklum hari pertama dan kedua di siklus tersebut kadang bisa menjadikan mood kurang stabil, beruntunglah para lelaki yang tidak mengalami hal itu. Namun karena keinginan dan terlanjur janji kepada Lia untuk mengajak dia naik gunung, kembali membulatkan tekad saya untuk tetap berangkat. Tim berangkat dari Serpong berjumlah lima orang yaitu Edika, Lia, Mahmud, Evi dan saya. Berangkat dari Serpong pukul 22.00 kami tiba di simpang Cipanas sekitar pukul 02.00 dini hari karena sebelumnya mampir di Cibubur untuk bergabung dengan dua orang teman dari Bogor yaitu Lukman dan Samsul. Di Cipanas sudah menunggu Vina dan timnya yaitu Riki, Dede, dan Kris. Kemudian dari sana kami naik angkot menuju basecamp Gunung Putri untuk beristirahat sebentar dan melapor ke pos GPO sebelum melakukan pendakian. 
Setelah Melapor di GPO dan Bersiap Memulai Pendakian
Sabtu, 16 April 2016
Sekitar pukul 07.00 kami sudah berada di pos GPO dan mulai mendaki sekitar pukul setengah delapan. Pendakian dilakukan dengan santai, satu jam perjalanan seorang teman mengalami muntah-muntah mungkin karena kaget karena jarak waktu makan dengan mulai pendakian terlalu sebentar. Karena hal tersebut akhirnya tim dibagi dua. Tim pertama adalah Edika, Lia, Mahmud, Evi, Samsul, Lukman dan saya. Sedangkan tim kedua terdiri dari Vina, Riki, Dede, dan Kris. Kami sepakat untuk bertemu di Surya Kencana (Surken) dan mendirikan tenda di dekat jalur menuju puncak Gede. Dalam perjalanan selanjutnya tim pertama yang berjalan lebih dulu pun terpecah lagi menjadi tiga. Samsul yang paling depan rupanya sudah tiba di Surken sejak pukul 13.00. Sementara kami di belakangnya yang sempat beristirahat untuk makan mie instant, terjebak hujan yang menderas. Karena hujan yang sepertinya belum menandakan akan segera reda, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mengenakan jas hujan. Mahmud, Lia, dan saya tiba selanjutnya di Surken sekitar pukul 15.00. Kami memutuskan untuk menunggu Edika dan Evi yang tiba setengah jam kemudian. Sekitar pukul 16.00 kami menyusuri padang edelweis untuk menuju lokasi camp. Sesuai koordinasi awal kami memilih lokasi dekat dengan jalur menuju puncak dan agak masuk di balik rerimbunan pohon untuk menghindari angin yang terlalu kencang. Kami kemudian berbagi tugas mendirikan tenda, memasak dan menata perbekalan. Sekitar pukul 18.30 kami sudah selesai makan dan duduk-duduk santai di dalam tenda saat salah seorang dari kami mendengar ada yang meneriakkan nama saya berkali-kali. Kami awalnya mengira mungkin ada yang bernama sama karena saat itu Surken memang sangat ramai dengan pendaki. Namun setelah teriakan itu terus terdengar ditambah si peneriak menyebutkan nama panggilan saya dan asal daerah kami, akhirnya saya segera keluar tenda dan menuju padang edelweis untuk menyahut teriakan itu. Rupanya benar teriakan itu berasal dari Vina dan tiga teman lainnya yang baru saja tiba di Surken. Kemudian Riki, Dede, dan Kris segera mendirikan tenda sementara Edika, Vina, dan saya menyiapkan makan malam untuk mereka.

Lia Nurmalia, sesaat setelah sampai di Surken. Pendakian perdananya yang disambut hujan.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 saat semua orang mulai masuk ke tenda masing-masing, saya yang masih sibuk memasak silky puding mendengar Mahmud yang bertanya "eh lo kenapa? kok tidur nggak pake sb?" disusul dengan teriakan Edika yang bernada sama dan segera memanggil saya untuk masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda, salah seorang teman kami sedang menggigil kedinginan dan tangannya mengepal kaku. Ssementara yang lainnya sibuk menghangatkannya dengan sleeping bag, saya kembali keluar untuk memasak air panas. Vina pun segera masuk ke tenda setelah namanya dipanggil dan membantu menyadarkan teman kami dengan menampar-namparnya. Untunglah Vina sebelumnya pernah mengalami situasi serupa sebelumnya. Kami juga terbantu oleh bantuan tetangga yang memberikan thermal blanket. Tak lama teman kami sadar namun bicaranya seperti mengigau, mungkin dia berhalusinasi atau apa saya sendiri tidak paham. Akhirnya setelah membereskan silky puding yang baru hampir mendidih sempurna, saya ikut masuk ke tenda dan merasakan tenda tersebut sangat hangat. Kami mengusahakan untuk terus mengobrol agar teman kami tetap berada dalam kondisi sadar sampai keadaannya semakin membaik. Syukurlah sekitar pukul 22.30 keadaan sudah kembali seperti semula. Teman kami pun kami tempatkan tepat di tengah-tengah dengan balutan jaket dan sleeping bag yang paling hangat. Kemudian semua anggota tim beristirahat dengan tetap waspada. Pada pukul 00.30 kami terbangun karena teman kami kembali menggigil, untunglah tidak ada hal yang terlalu serius.
Samsul dan Saya yang sok sibuk motongin sayur buat sop.
Menu Makan Malam: Telur Balado, Kering Teri Tempe, Telur Dadar, Sayur Sop. Menu Sehat dan Lezat.
Edika, kepala chef kami yang akhirnya kesampaian masak telur balado di gunung.


17 April 2016
Pagi hari pukul 6, seluruh tim sudah bangun dan mendapati teman kami sudah kembali sehat. Alhamdulillah, kami mengucap syukur. Bagi saya sendiri ini adalah pengalaman pertama saya dimana salah satu anggota tim mengalami hal tersebut. Sesuai dengan pembicaraan semalam dengan Vina, kami mengumpulkan semua anggota tim untuk membahas rencana menuju puncak. Menurut Vina dan saya akan lebih baik jika kami mengurungkan niat untuk ke puncak, tetapi salah seorang dari tim juga memberikan pemahaman jika memang ada yang tetap ingin ke puncak silahkan tetapi harus benar-benar dalam kondisi fit sementara yang memutuskan untuk tidak ikut akan menunggu di camp untuk memasak dan packing. Saya sendiri menanyakan kepada Lia apakah tetap ingin ke puncak atau tidak, mengingat ini pengalaman pertamanya mendaki gunung. Lia sendiri memutuskan untuk tidak meskipun kondisinya cukup fit karena sejak awal memang berencana hanya sampai ke Surken. Hal yang saya salut dari dirinya karena tidak terobsesi pada puncak meski ini pendakian perdananya. Setelah diskusi penuh pertimbangan, akhirnya kami memutuskan bahwa tidak satu pun dari kami yang akan ke puncak. Rupanya keputusan tersebut tepat karena tak lama Surken pun kembali diguyur hujan yang belum juga reda hingga siang hari.
Riki dan Vina, mempersiapkan sarapan sehat: Melon.
Evi, Lukman, Saya, Lia, dan Samsul.
Vina Agustina, perempuan yang pertama kali saya kenal dan naik bareng ke Merbabu.
Vina dan Saya. Setelah pertama kali kenal dan naik bareng ke Merbabu, akhirnya bisa ketemu lagi sekaligus naik bareng.
Meskipun nggak jadi muncak tetep bisa narsis di Surken

Makan siang sebelum perjalanan turun.
Setelah makan siang dan packing, kami melanjutkan perjalanan untuk turun ke GPO kira-kira pukul 13.00. Anggota tim mengenakan raincoat karena hujan yang turun kembali padahal sudah sempat reda. Menjelang maghrib kami sudah sampai di GPO untuk melapor dan kemudian beristirahat di salah satu warung di Gunung Putri. Setelah makan dan mandi, kami menuju Cipanas kemudian mencari bis tujuan Kampung Rambutan, disana kami berpisah menuju rumah masing-masing mengingat kebanyakan dari kami adalah pegawai yang harus tetap masuk kantor Senin paginya.
Untung ada tongsis. Full team 11 orang.
Belakang: Dede
Tengah: Lukman, Lia, Evi, Kris, Edika, Samsul.
Depan: Vina, Riki, Saya, Mahmud

Surken, siang berkabut 17 April 2016.
Perjalanan turun, hujan dan dingin.

Di jalur saat turun menuju GPO.
Tetap narsis dan senyum meskipun diguyur hujan.
Perjalanan kali ini mengajarkan pada kami semua, untuk memahami kondisi rekan/teman lain serta mengendalikan ego diri sendiri. Mengajarkan kami bahwa pendakian tidak selalu tentang puncak, ada yang jauh lebih penting.

Tujuan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat.

Jumat, 22 Juli 2016

BANGKA BELITUNG: KESEGARAN MATA MEMANDANG

Siapa sangka akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di kepulauan Bangka Belitung. Bertolak dari Palembang setelah mudik dan mengikuti kegiatan tahunan Mafesipala, 30 Desember 2015 pagi saya berangkat sendirian ke Bangka menggunakan Kapal Sumber Bangka 6 dari Pelabuhan Boombaru Palembang. Perjalanan via laut dari Palembang ke Pelabuhan Muntok di Bangka memakan waktu sekitar empat jam. Tarifnya 345 ribu rupiah (termasuk tiket travel Pelabuhan Muntok ke Pangkal Pinang). Akibat dari update display picture bbm dengan foto kapal Sumber Bangka 6, beberapa teman saya chat menanyakan perihal "dimana, mau kemana, dan dengan siapa?". Saya pun sibuk membalas sekaligus menanyakan apa mereka punya kenalan/teman di Bangka. Saya sendiri awalnya belum tahu akan menginap dimana, sampai akhirnya Sabran (Nana) teman yang dulu saya kenal di Jogja ternyata sudah menetap di Bangka selama dua bulan. Kapal saya berangkat dari Palembang pukul tujuh pagi dan tiba di Pelabuhan Muntok tiga jam kemudian, kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Pangkal Pinang dengan lama perjalanan hampir empat jam. Selama perjalanan saya yang bingung dengan lokasi sekitar akhirnya bertanya dengan sang supir, beruntung supirnya ramah dan meyakinkan saya bahwa saya pasti akan diantarkan ke tempat tujuan dengan baik. Supir travel yang saya tumpangi ternyata bukan penduduk asli Bangka, beliau berasal dari Karawaci Tangerang dan sudah merantau di Bangka selama tiga tahun. Setelah diantarkan ke loket express bahari Bangka, saya pun dijemput Nana untuk mencari penginapan karena tidak memungkinkan menginap di rumah pamannya. Hari pertama di Bangka, saya hanya mengunjungi Pantai Pasir Padi untuk sekedar minum kelapa muda. Esoknya Nana mengantarkan saya ke Pantai Tanjung Pesona dan Puri Tri Agung yang tak jauh dari sana. Bagi saya yang seorang pegawai, bermain air di pantai mungkin adalah kesenangan yang langka, jadi harap maklum jika terkesan norak karena melihat pasir dan pantai. Hehehe.

Kapal Sumber Bangka 6

Pelabuhan Muntok Bangka
Menikmati Kelapa Muda di Pantai Pasir Padi
Hal yang tidak saya pertimbangkan sebelumnya adalah sulitnya mencari penginapan dan harganya yang bisa naik 100% saat malam tahun baru, berakibat pada bocornya budget perjalanan saya karena tarif penginapan yang mahal. Ditambah lagi sepulang dari Tanjung Pesona, saya terserang demam dan flu tepat pada malam pergantian tahun baru. Untunglah tengah malam Nana masih menyempatkan untuk mengantar obat ke penginapan setelah acara keluarganya selesai. Hari ketiga di Bangka atau tepatnya 1 Januari 2016, saya bertemu seorang teman lama yang menemani saya cari oleh-oleh untuk Papa. Sebenarnya saya berniat untuk menyebrang ke Belitung tetapi tidak ada jadwal penyebrangan pada tanggal 1 Januari. Dana yang mulai menipis membuat saya menghubungi teman-teman Mapala saya di Palembang untuk mencari siapa tahu ada teman mereka yang bisa ditumpangi untuk menginap semalam lagi di Bangka. Seorang teman seperjuangan malah sedikit marah dan khawatir karena saya nekat tetap ngetrip ke Bangka meski sendirian. Untunglah dengan bantuan teman seperjuangan lainnya yang menghubungi anggota Walhi Babel, malamnya saya menginap di sekretariat Walhi Bangka Belitung.
Pemandangan Pantai dari Puri Tri Agung
Pantai Tanjung Pesona
Karena kondisi tubuh yang kurang fit, saya sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan menuju Belitung dan kembali ke Jakarta saja. Bermodal sedikit nekat dan perjuangan mencari tiket promo, niat terbang kembali dari Bangka ke Jakarta saya urungkan Niat tersebut seketika batal karena memang keinginan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Belitung tiba-tiba menemui pencerahan saat saya menemukan tiket pesawat Bangka-Belitung hanya berkisar 200 ribu rupiah saja. Normalnya harga tiket pesawat untuk rute tersebut sekitar 200-400 ribu rupiah, tapi karena sedang musim liburan tiket pesawat Bangka -Belitung bisa mencapai 500-700 ribu rupiah. Jika menggunakan kapal cepat harganya sekitar 170-220 ribu rupiah dengan lama perjalanan 4-5 jam.

Senja di Pantai Tanjung Pendam seusai Hujan Reda
Salah Satu Sisi Pantai Tanjung Pendam
2 Januari 2016, setelah terbang selama setengah jam saya mendarat di bandara H.AS Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Tak ada teman, tak ada kenalan dan saya bingung harus kemana dulu. Saya sudah menghubungi salah seorang penyedia tour di Belitung via bbm namun baru sebatas tanya-tanya soal paket dan fasilitas, hanya saja saat tiba di bandara sinyal handphone saya tiba-tiba hanya bertuliskan sos, rupanya di Belitung belum ada sinyal provider tri, padahal handphone itu yang lebih sering saya gunakan. Untungnya sinyal indosat masih ada, hanya saat itu saya tidak paket internet di nomor tersebut, dengan sisa pulsa di bawah dua ribu saya menghubungi teman saya untuk isi pulsa dan mengaktifkan paket internet. Setengah jam lebih saya duduk di ruang tunggu bandara, mengobrol dengan bapak yang sibuk menunggu bagasinya. Bapak tersebut menawarkan untuk ikut dengannya naik travel menuju kota. Melihat saya sedikit ragu, bapak itu berkata "Tenang, saya rame-rame kok sama istri dan anak saya." ia terlihat cukup paham bahwa saya harus tetap waspada apalagi saya seorang perempuan dan sendirian. Permasalahannya lagi adalah saya belum tahu mau kemana. Dengan sopan saya menolak ajakan bapak tersebut dan mencari kontak penyedia tour di Belitung yang sebelumnya saya hubungi. Beliau sendiri kaget saya tiba-tiba sudah berada di bandara, karena memang saya belum menginfokan saya akan ke Belitung hari itu juga. Setelah bernegosiasi dan saya jelaskan bahwa saya sendirian dan tentunya saya tidak bisa membayar paket tour mereka yang memang didesain untuk trip minimal dua orang, beliau bersedia menemani saya dengan biaya ala kadarnya, sewa transportasi dan fee guide saja.

Hari pertama di Belitung saya menginap di hotel kelas melati dengan tarif di bawah 150 ribu rupiah. (Sebenarnya mungkin bisa lebih murah tapi sekali lagi, saya datang saat liburan tahun baru). Menikamti senja di pantai Tanjung Pendam sendirian kemudian malamnya saya dan teman baru saya (alias tour guide) berdiskusi soal jadwal dan biaya sambil menikmati secangkir kopi di Warung Kopi Kong Djie. Hari kedua meski hujan deras, saya dan teman baru saya tersebuit tetap melanjutkan rencana untuk ke Pulau Lengkuas. Jam delapan pagi, kami sudah berada di pantai Tanjung Kelayang untuk menumpang perahu menuju Pulau Lengkuas. Untuk menyebrang dari Tanjung Kelayang ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau sekitarnya, biayanya berkisar 450-600 ribu per perahu (bisa diisi sampai 6 orang). Meskipun habis hujan deras, tidak mengurangi keindahan warna laut pulau Belitung. Pulau Lengkuas adalah salah satu pulau yang jadi destinasi wisata di Belitung, di pulau tersebut terdapat mercusuar18 lantai dengan tinggi 65 meter. 

Informasi Mercusuar
Batu Garuda
Mercusuar Pulau Lengkuas
Pemandangan Pulau Lengkuas dari Atas Mercusuar
Pulau Kelayang
Pulau Gede Kepayang
Usai jelajah pulau, tujuan selanjutnya adalah pantai Tanjung Tinggi yang merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Kemudian teman saya mengantarkan saya ke rumah Desi untuk menginap. Rumah Desi berada di daerah Kelapa Kampit, Kab.Belitung Timur kurang lebih sekitar satu setengah jam dengan menggunakan motor. Fyi, Desi adalah seorang teman yang saya belum pernah bertemu sebelumnya. Saya bisa sampai menumpang di rumah Desi berkat bantuan Nana yang mengenalnya saat di Bangka. Keluarga Desi sangat baik dan ramah pada saya, malam pertama saya menginap ibunya memasak Gangan yang merupakan sup ikan dengan kuah kuning. Keluarga Desi memiliki peternakan ayam, sebelumnya mereka sempat berkebun juga menanam sayur-sayuran namun karena tidak ada yang mengurus akhirnya berhenti. Permasalahannya hanya satu saat menginap disana, sinyal handphone saya benar-benar hilang. Saya bahkan harus ke jalan besar untuk mendapatkan sedikit sinyal.
Pantai Tanjung Tinggi
Hari ketiga di Belitung (4 Januari 2016), Desi dan Bapaknya mengajak saya berjalan-jalan ke beberapa pantai di dekat Manggar serta ngopi karena Manggar terkenal dengan julukan Kota Seribu Satu Warung Kopi. Baru di Manggar lah sinyal handphone saya kembali normal, rupanya teman kantor saya yang khawatir karena saya tiba-tiba hilang kontak menghubungi saya hingga ke tour guide saya. Sayangnya saya tidak sempat mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata dan Sekolah Laskar Pelangi di Gantung. Bapak Desi mengajak kami mampir ke rumah langganan ayamnya. Kami mengobrol di pekarangan rumah, saya mengamati lingkungan dan masyarakat sekitar. Memang tidak terlalu jelas, tapi yang saya dengar bahasa mereka mendekati seperti bahasa Madura, "mungkin mereka perantau" pikir saya. Sepanjang perjalanan kembali menuju rumah Desi, dari dalam mobil saya melihat lahan-lahan yang rusak dan beberapa "danau-danau" yang menurut informasi dari Bapak Desi adalah bekas tambang. Sayangnya saya tidak sempat memotret karena mobil tidak berhenti.
Secluded Beach di Daerah Manggar
Pemandangan Sepanjang Jalan Manggar-Kelapa Kampit
5 Januari 2016, hari keempat di Belitung. Sesuai perjanjian teman saya menjemput saya ke rumah Desi. Rencananya hari itu kami akan mengunjungi danau kaolin tetapi gagal karena hujan deras sehingga saya hanya berkunjung ke museum dan mengobrol dengan pemilik angkringan yang rupanya berasal dari Malang. Pukul dua siang, teman saya mengantarkan ke bandara karena saya harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan terakhir pada pukul 04.15 sore.

Ini adalah perjalanan yang spontanitas, tanpa itinerary atau rincian destinasi wisata, tapi saya menikmati perjalanan ini. Selalu ada banyak pembelajaran dari setiap perjalanan. Ayah saya sendiri pun baru mengetahui saya pergi sendirian ke Bangka dan Belitung saat saya mendarat di Belitung. Beliau sedikit marah dan sepertinya banyak khawatir, hehehe. Selama perjalanan saya bertemu banyak orang, melihat dan mengenal hal baru. Traveling sendirian mungkin menghadirkan rasa takut, tapi saya belajar untuk mengatasinya. Traveling sendirian mengajarkan saya kerinduan pada orang-orang terdekat, menjadikan "pulang" lebih berarti.

Kadang kita perlu traveling sendirian.Menjadikan kesepian adalah kenikmatan, menjadi asing adalah menyenangkan, menjadikan hati kuat tapi melembut. Mungkin ada perasaan kehilangan suasana dengan orang-orang yg biasanya disekeliling kita, tapi traveling sendirian tidak membuat kita kehilangan diri sendiri.

(Belitung, Januari 2016) 

Rincian Perjalanan
Jika teman-teman berasal dari Jakarta sebenarnya akan lebih efisien dalam waktu dan juga biaya, tetapi kemarin saya berangkat dari Palembang karena sekalian mudik. Berikut rincian dari perjalanan saya kemarin.

- Palembang-Pelabuhan Muntok (3-4 jam) tarif kapal Desember 2015 Rp 265.000
- Alternatif lain Palembang-Pangkal Pinang (30 menit) tarif pesawat berkisar Rp 200.000-700.000
- Pelabuhan Muntok-Pangkal Pinang (3-4 jam) tarif travel Desember 2015 Rp 80.000
- Pangkal Pinang-Tanjung Pandan (30 menit) tarif pesawat berkisar Rp 200.000-700.000
- Alternatif lain Pelabuhan Pangkal Balam (Bangka)-Pelabuhan Pangkal Pinang (Belitung) (4-5 jam) tarif kapal Desember 2015 Rp 170.000-220.000
note: tarif per Desember 2015/Januari 2016

Tips:
- Jika traveling ke Bangka/Belitung beramai-ramai akan lebih mudah dan menghemat biaya transport dan penginapan, bisa share room dan sewa mobil/motor untuk menjelajahi Bangka/Belitung. Karena disana tidak ada angkutan umum sehingga harus naik travel.
- Pastikan sudah punya tujuan akan kemana saja, kecuali pengen seru-seruan dadakan seperti saya yang tidak punya target harus kesana atau harus kesini.
- Harga tiket pesawat saat weak/normal season biasanya tidak terlalu berbeda dengan kapal laut, jika ingin menghemat waktu naiklah pesawat tapi jika ingin menikmati perjalanan dan sensasi yang lebih seru naiklah kapal laut, hehehe.
- Secara keseluruhan Bangka/Belitung cukup aman, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada terutama jika kalian traveling sendirian.