Rabu, 19 September 2012

Bahagia itu Sederhana



Setiap orang pastinya ingin merasakan bahagia. Apa ukuran bahagia itu? Kita sering melihat orang yang punya segalanya, materi yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau pasangan hidup yang tampan atau cantik. Apa semua itu ukuran sebuah kebahagiaan?

Pagi hari tadi, saat terjebak lampu merah selama seratus dua puluh detik di perempatan ring road utara, seorang ibu dengan pecut di tangannya melenggak lenggok di atas aspal dengan diiringi alunan gamelan yang dimainkan seorang pria paruh baya di tepi trotoar. Inilah profesi mereka yang mencari nafkah di tiap persimpangan lampu merah. Tiga puluh detik kakinya mencumbu aspal, kemudian ia menyodorkan botol plastik bekas yang dipotong kepada para penontonnya. Setiap koin atau uang kertas dijatuhkan ke dalam botol itu, ia tersenyum menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa jawa, seraya pergi bergeser ke para penonton lain dan kembali merapat ke tepi trotoar menanti lampu merah berikutnya. Saat itulah saya kemudian ikut tersenyum, tidak ada yang istimewa dalam kejadian itu, tapi melihatnya tersenyum karena apa yang bisa kita bagi bersamanya membuat kita juga dapat tersenyum bahagia. Sekecil apapun nilainya.

Berkaca dari hal yang saya lihat pagi tadi, saya berpikir, orang-orang yang dikatakan memiliki segalanya, apa mereka juga pernah beruntung dapat merasakan hal yang saya alami tadi? Di balik uang-uang yang melimpah, kadang kala kita merasa kurang bahagia karena selalu merasa “kurang”, kesepian karena kadang orang-orang mengenal kita karena segala yang kita punya. Dengan jabatan yang tinggi, kadang kita merasa kurang bahagia karena terlalu mengejar apa yang kita obsesikan. Orang-orang yang memiliki pasangan hidup pun belum tentu selalu bahagia, terkadang kita terlalu memikirkan bagaimana caranya untuk “memiliki” hingga pikiran kita tersita dengan rasa-rasa yang justru terasa menyakitkan, dan bahkan hingga melupakan bagaimana caranya untuk saling “berbagi”.

Bahagia itu sederhana dan tidak mahal…….


Sartika Noriza
Yogyakarta, 20 September 2012