Rabu, 20 November 2013

SEPOTONG HATI DALAM CANGKIR KOPI



Kamu masih tertidur pulas pagi itu, wajahmu nampak begitu polos. Kamu percaya? Kalau kita akan lebih menyadari bahwa kita menyayangi seseorang saat menatapnya orang itu ketika ia tertidur? Saat ini aku percaya. Bagaimana tidak, bangun di pagi hari dan menatap wajahmu yang masih terlelap dalam alam tidurmu. Kadang kita terlalu tidak peka untuk menyadari bahwa sesuatu yang berharga ada sangat dekat dengan kita.


Pelan-pelan ragamu mulai berontak membangunkan jiwamu dari alam bawah sadarmu. Matamu mulai terbuka dan tersenyum melihatku yang masih menatapmu. Sembari kamu mengatakan ingin secangkir kopi, jadilah pagi itu aku menyeduh kopi dan menaburkan coklat granule di atasnya. Terlintas untuk melukis sesuatu di atas permukaan kopi, sebuah lukisan yang berbentuk hati, tidak sesempurna lukisan seorang barista di kafe-kafe mungkin, tapi sepotong hati ada di dalam cangkir kopimu pagi itu. 

Sepotong hati yang ku biarkan kau nikmati, kau hirup dan kau minum. Sepotong hati yang telah kau pilih untuk disimpan dalam sebuah ruang bernama “hati” di dalam rumahmu.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, semoga mampu membawa semua yang ku rasa kepadamu, semoga mampu menyampaikan bahwa tak ada yang perlu kau khawatirkan, karena sesungguhnya aku miliki juga kekhawatiran itu.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, semoga mampu menjagaku untuk tidak jatuh.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, ku berikan padamu.



Blitar, 5 November 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar