Selasa, 06 November 2012

Keabstrakan Secangkir Kopi



Secangkir kopi darimu adalah abstraksi dari sebuah esensi..
(Sartika Noriza)

Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika secangkir kopi terhidang di hadapanku, kental, hangat, dan harum. Kemudian aku hanya akan membuka tutup cangkir, menikmati aromanya dan menyeruput pelan-pelan. Secangkir kopi seperti waktu yang amat panjang, dinikmati hingga menemukan dasar pada ampasnya.

Sama seperti aku tidak mengatakan apapun atas hal yang kamu katakan. Kamu memberiku waktu, seperti memberiku secangkir kopi yang sangat aku sukai. Kamu membiarkanku menikmatinya pelan-pelan, memberiku kesempatan untuk mencari keyakinan.  

Tapi sebenarnya kamu tidak pernah benar-benar menyuguhkanku secangkir kopi, yang kamu suguhkan adalah esensi dari penikmatannya. Semangat, vitamin, dan mungkin yang kamu sebut cinta.

Kopi itu pahit, karena aku tidak terlalu menyukai gula yang banyak dalam cangkirku. Aku belajar hati-hati tapi aku rasa lebih tepat dikatakan bahwa aku takut. Aku takut kopiku menjadi terlalu manis sehingga suatu ketika aku tidak mampu lagi menikmati kopi hitam yang pahit. Tapi secangkir kopi darimu, membuatku berpikir bahwa keberanian harus aku lakukan, belajar berani untuk memutuskan.
Karena itu aku tidak pernah mau merubah kopiku, kamu tahu aku memiliki caraku sendiri menikmati secangkir kopi. Semoga kamu membantuku mengerti tentang apa yang disebut orang-orang cinta….

Kopi itu semangat..
Kafein itu vitamin..
A coffe with one “e” same as one “e” in Love..
(Chicken Soup for the Coffee Lovers)

Sartika Noriza – November 2012

1 komentar:

  1. Menarik... sama seperti vitamin yang lain, kalo kebanyakan vitamin juga nanti g baik neng... :)

    anamko.blogspot.com

    BalasHapus