Senin, 09 Juli 2012

Mengapa Naik Gunung? Karena Di Sana Ada Kesederhanaan

Mengapa naik gunung?

Saya tidak akan mengutip jawaban yang dilontarkan Soe Hok Gie dalam bukunya, tapi pertanyaan ini nyatanya juga kerap kali dipertanyakan oleh keluarga dan teman-teman saya. Ya, mengapa naik gunung? Tanpa lampu, kasur empuk, dan fasilitas lainnya, yah pokoknya kenapa mau ke gunung padahal di rumah atau kota tersedia banyak hal yang enak.

Setiap orang yang mendaki gunung punya alasan dan kesenangan masing-masing, entah itu karena ingin mencapai puncak atau hanya sekedar menikmati suasananya. Saya ingat, pertama kali saya mendaki gunung pada tahun 2004, saat umur saya menjelang 16 tahun dan setelahnya lumayan sering saya lakukan. Naik gunung, bagi saya adalah hal yang menyenangkan dan menarik. Pergi ke tempat-tempat yang jauh dari kata “mewah” membuat saya merasa nyaman dalam sebuah pelarian dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Kita akan merasakan nikmatnya tidur di dalam tenda hanya beralaskan matras yang digelar di atas tanah dingin, dibelai kabut dingin, dan disambut sinar mentari pagi harinya. Semua masakan yang dimakan terasa berkali-kali enaknya meski hanya sebungkus indomie rebus dan kopi hangat.

Naik gunung, memberi saya kesempatan mengenal banyak orang dan belajar banyak hal. Perjalanan berpeluh keringat dan batuan terjal membuat saya belajar mengerti sifat banyak orang. Seperti kata teman-teman yang juga senang naik gunung “sifat seseorang lebih terlihat saat naik gunung”.

Naik gunung memberikan saya sebuah kepuasan tersendiri, bukan karena saya mencapai puncak dan berdiri lebih tinggi dari puncaknya, tapi karena saya menemukan “kesederhanaan” di sana, bangun pagi disambut mentari dan dingin kabut, masak dan makan, senda gurau bersama teman-teman, saya sejenak melupakan jenuh dirongrong waktu dan materi. Naik gunung membuat saya menghargai kesederhanaan, dimana semua tidak diukur dari “uang”, uang seperti bukan nomor satu di sana, yah nggak ada kan indomaret di gunung? Dimana setiap orang (para pendaki) saling bertegur sapa dan melempar senyum ketika berpapasan di jalur, saling menolong saat yang lain susah padahal belum mengenal dengan sangat dekat.

Naik gunung, memperlihatkan kepada saya banyak hal, orang-orang baru, pemandangan indah, pembelajaran mengalahkan ego sendiri, dan saling berbagi.

Semua orang bisa naik gunung, mencapai puncak, dan turun lagi. Tapi tidak semua orang bisa mengalahkan ego sendiri. Naik gunung bukan berarti kita telah “menaklukkan” gunung, puncak bukan tujuan.
SETIAP TITIK ADALAH PUNCAK

Ya, Mengapa naik gunung? Karena di sana ada kesederhanaan……

Gunung Merapi, 8 Juli 2012.
-Sartika Noriza-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar