Rabu, 23 Oktober 2013

MERAPI 3RD TIME



Suatu hari di kost, Putri teman kostku bilang “Tik, aku mau dong naik gunung. Kamu anterin aku yah..”

Nahloh, kesambet setan apa ni anak tiba-tiba minta naik gunung (peace put), hehehehe. “Berdua doang put?” aku agak ragu klo cuma berdua, secara ntar siapa yang ngeback-up klo ada apa-apa? Apalagi itu Merapi abis erupsi. Jadilah kita ngajak teman kost yang lain, namanya Fadil, kakaknya si Fadil ini anak mapala salah satu Fakultas di UGM. Diputuskan pendakian ke Merapi dilaksanakan tanggal 7 Juli 2012. Ini pendakian ketga ke Merapi bagiku, setelah yang pertama tahun 2010 dan yang kedua April tahun 2012.

Persiapan dan packing agak buru-buru, soalnya aku baru selesai kuliah jam tujuh malam. Jam Sembilan, kita berangkat dari kost ke basecam Selo Gunung Merapi. Kita motoran, aku sendirian, Putri dibonceng sama Fadil. Aku ngajak satu orang lagi teman dari Greenpeace Semarang namanya Dinar, sekalian buat jaga-jaga back up juga, soalnya Putri baru sekali ini naik gunung katanya. Dinar nungguin di Ketep pass, dari sana baru barengan ke basecamp.

Pukul dua belas malam kita sampai di basecamp, Putri saking semangatnya minta buat langsung naik. Jadilah kita langsung naik ke basecamp New Selo, sampai disana udah ngos-ngosan, Putri sempet engap-engapan tapi ternyata semangatnya lebih kuat. Pendakian dilanjut ke Pos 1, jalannya santai aja lah yang penting semua aman terkendali, tapi ngomong-ngomong lumayan lama juga ya, hehehehe. Lewat dari pos 1 ada tempat istirahat, sholat subuh dan dapet sunrise disana, sunrise di jalur yang begitu luar biasa indah rasanya. Pendakian masih berlanjut menuju pos 2, tampaknya dua lelaki sudah mulai ngantuk karena terlalu lambat jalannya. Beberapa ratus meter di bawah pos 2 akhirnya kita mutusin buat istirahat, itu sekitar jam tujuh pagi kalau nggak salah. Aku sama Putri masak air buat minum hangat, ternyata para lelaki malah ketiduran disitu, haduh……




Karena mereka udah keliatan pules banget, jadi aku tanya sama Putri “Kamu mau naik lagi nggak put? Klo mau aku anterin, yang lain biar tidur aja disini.” Setelah Putri jawab, akhirnya kita memutuskan kita akan ke puncak, ya inilah puncaknya, beberapa ratus meter di bawah pos 2. Setiap titik adalah puncak, hehehehe.
Jam Sembilan pagi, kita mulai perjalanan turun, Putri mulai kewalahan tapi yang penting tetep semangat. Putri ditemenin sama bang Dinar sepanjang perjalanan turun (katanya Putri makasih banget udah dibantuin). Ini pendakian yang nggak sampai puncak tapi mendaki gunung bukan untuk menaklukkan puncak, ada yang jauh lebih penting dari itu.. setiap pendakian adalah proses..
Merapi, 7-8 Juli 2012

MERBABU 3RD TIME



Yogyakarta, 17 Agustus 2013,
Pagi itu di kamar kost, aku sibuk packing, ranselku sudah terisi penuh oleh perlengkapan mendaki. Sudah satu tahun lamanya tidak mendaki gunung, inilah yang aku tunggu, kembali mendaki gunung. Menjadi pegawai dan juga mahasiswa membuat waktuku menjadi lebih sempit untuk melakukan perjalanan.  Sempat meragu, mengingat bahwa hari itu adalah sabtu dan senin aku bekerja, niatanku adalah motoran sampai basecamp Wekas naik ke puncak, turun sendiri ke basecamp dan pulang ke Jogja paling lambat Minggu malam atau setidaknya Senin subuh aku sudah di Jogja. Pendakian kali ini aku bersama dua orang mapala Janagiri dan sepuluh orang pendaki dari Depok, tim berjumlah tiga belas orang, tiga perempuan termasuk aku. Perjalanan di mulai dari posko mapala Janagiri, ngobrol-ngobrol, ternyata rencana mereka adalah tiga hari dua malam, Senin malam baru sampai di Jogja. Sempat makin ragu untuk ikut, tapi ternyata keinginan untuk mendaki setelah sekian lama tak tersampaikan lebih kuat, “yang penting berangkat dulu, urusan pulang ntar!” kira-kira begitu deh prinsipnya waktu itu, hehehehe.

Jadilah Sabtu siang itu, kami berangkat dari Jogja menuju basecamp Wekas Gunung Merbabu. Tiba di pemberhentian bis sekitar maghrib, dari jalan aspal menuju basecamp harus ditempuh dengan berjalan kaki, kecuali kalau kita bawa motor. Sepuluh orang pendaki dari Depok adalah kawan baru yang ku kenal dalam perjalanan ini. Saat tiba di basecam sudah jam setengah delapan malam, beristirahat sebentar sembari berbincang dengan para pendaki lain yang juga singgah.



Pendakian dimulai pukul sembilan malam, target adalah pos 2 dan berkemah disana. Ternyata jalur sangat ramai oleh pendaki, cahaya lampu senter menyorot menjadi penerang jalan. Derap langkah semakin berat, nafas semakin tersengal, tapi selalu ada tawa dalam perjalanan. Inilah yang telah lama aku rindukan.

Pukul setengah dua pagi kami sampai di pos 2, berbagi tugas mendirikan tenda dan memasak. Tiga buah tenda sudah berdiri kokoh, satu per satu anggota tim masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Wajar, lelah dan pasti mengantuk, sementara aku dan beberapa anggota tim masih menyempatkan diri menikmati secangkir kopi hangat di tengah dingin dan di bawah purnama. Malam itu bulan terlalu indah untuk ditinggal tidur, tapi karena di luar sangat dingin maka kami masuk ke tenda, bukan untuk tidur, obrolan santai hingga yang berat jadi perbincangan pagi itu.

Esoknya perjalanan menuju puncak dilanjutkan pukul dua belas siang. Sekitar lima jam perjalanan, kami sampai di puncak Kenteng Songo Merbabu. Senja sudah mulai turun, terlihat pemandangan Sindoro dan Sumbing. Tuhan, ini senja yang indah di atas awan…..



Satu jam di puncak berfoto-foto, perjalanan dilanjutkan turun ke pos sabana 2 jalur Selo. Sudah sampai di sabana 2, mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun semakin menambah cerita pendakian. Kami yang baru saling mengenal satu hari yang lalu seperti sudah mengenal lebih lama dari itu.


Senin tanggal 19 Agustus 2013, perjalanan turun ke basecamp selo dimulai seusai makan siang. Kejadian lucu selalu terjadi, salah satunya adalah aksi koprol si Paimin yang akhirnya nyungsep di padang rumput, kita yang ada di dekat dia waktu itu bukan menolong segera tapi malah ketawa dulu, hihihihi (maaf ya). Begitu juga kejadian-kejadian lucu lain, teknik pantat atau bulu hidung yang keliatan semakin panjang (ternyata abu yang nyangkut di hidung) wkwkwkwkwk..
Jam lima sore kita udah sampai di basecamp selo, siap-siap pulang ke kota dan kembali pada rutinitas masing-masing. Pendakian selalu memiliki kisah yang tak terlupakan, pelajaran kehidupan, dan teman-teman baru.



Terima kasih Merbabu, untuk senja dan purnamamu……
17-19 Agustus 2013

Kamis, 03 Oktober 2013

S E N J A

Sebaris bait terangkai untuk dihapus.
Kumpulan kata sudah rapi berurutan pada secarik kertas.
Deretan huruf menjadi makna tesembunyi.
Sudah, larung saja mereka pada laut.
Bakar saja hingga jadi abu.

Sajak tak sanggup ku tulis,
biar langit menjelaskan dalam diam,
hingga jingga ditenggelamkan malam.
Tentang kisah yang terukir dalam senja..

Senin, 26 Agustus 2013

Terima Kasih Ayah.. Untuk Tidak Melarangku Menjadi Pendaki Gunung


Tak jauh dari kursi tempat aku duuk, seorang bapak menggendong anak perempuan yang usianya mungkin sekitar tujuh tahun. Manja sekali ia menggelayutkan tangan pada leher si bapak, sambil berbincang-bincang tertawa, mungkin ia seorang gadis kecil yang sedang merengek minta dibelikan cemilan sambil menunggu angkutan yang akan mereka tumpangi. Enam belas tahun lalu, mungkin aku juga pernah menjadi seperti gadis itu, masih kecil dan begitu manja.

Gadis kecil tak selamanya kecil dan manja, berubah dan berkembang itu pasti. Dibesarkan dalam lingkungan yang otoriter tapi tak dilarang. Aku terdidik menjadi keras dan semaunya, tapi bukan berarti aku tak punya adat. Ayah pun adalah seorang yang keras namun tak mengekang. Pertentangan mungkin  terjadi, tapi aku tahu kita baik-baik saja.

Ayah tidak pernah banyak bertanya jika ada teman laki-laki berkunjung ke rumah, entah karena ia anggap aku masih gadis kecil atau sebenarnya ia bertanya-tanya dalam hati? Entahlah. Tapi aku rasa, ayah hanya mencoba member kebebasan padaku untuk memilih , aku rasa ia percaya bahwa aku mampu memutuskan. Ayah tidak pernah melarang untuk bermain dengan teman-temanku, selama itu jelas dengan siapa dan kemana.  Selama sekolah pun ayah tidak pernah bawel untuk memaksaku ikut bimbingan belajar atau kursus sana-sini.

Satu pertentangan yang hampir membuatku tidak bicara padanya selama dua bulan adalah soal kuliah, saat itu aku bahkan tidak ingin dan tidak pernah terpikir untuk kuliah di tempat yang ia putuskan. Saat itu ia dan aku menjadi keras dan tidak satupun ingin mengalah sampai akhirnya aku memutuskan ikut pada pilihannya. Pada awalnya memang terasa berat dan terkesan “tidak ikhlas”, tapi ternyata aku berhasil menemukan sisi lain dari semua yang terjadi. Benar, kehidupan memang tak selalu sesuai rencana, tapi selalu ada cara untuk bisa menghadapi, fleksibel.

Satu yang sangat aku hargai, bahwa ayah tak pernah melarangku menjadi seorang pendaki gunung, meski mungkin dalam hatinya ia khawatir dengan kegiatanku yang satu itu. Tapi ayah, tidak pernah mengatakan kekhawatirannya. Suatu hari saat aku tersadar bahwa ia semakin tua dan aku harus semakin dewasa, dalam sebuah kedai makan bersama rekan kerjanya yang asik bercerita sebuah pendakian pada masa muda mereka, ayahku berkata “Anak saya juga pendaki gunung.”

Terima kasih ayah, untuk tidak melarangku menjadi pendaki gunung.
Setidaknya hingga saat ini.. 


Selasa, 13 Agustus 2013

Senja Dari Jendela Pesawat


Senja menyelimuti keremangan ibu kota yang terlihat makin mengecil. Kota kelahiran yang menjadi kota asing bagiku, setidaknya untuk saat ini.

Beberapa menit lalu, baru saja pesawat yang ku tumpangi lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Penerbangan Jakarta menuju Jogja sore itu sangat sepi, saat lampu sabuk pengaman padam beberapa anak kecil yang duduk di sebelahku mulai berpindah mencari posisi pada tepi jendela pesawat. Para pramugari mulai mendorong kereta makanan dan menjajakan menu-menu mereka.

Awan-awan senja menjadi jingga terlihat dari udara, keremangan semakin menggelap dan siap menelan jingga. Jakarta terlihat semakin mengecil, aku menjauh menuju timur.

Hingga pesawat telah terbang di atas permukaan laut beribu-ribu kaki tingginya. Suasana kabin yang sepi menjadi ramai oleh anak-anak yang mulai berceloteh mengenai sungai, awan dan apapun yang mereka lihat hingga jendela pesawat hanya menampakkan awan yang bergumpal. Keceriaan keluarga yang menikmati perjalanan mereka. Sementara itu, di belakangku seorang anak berusia sekitar delapan tahun sudah tertidur pulas sambil mendekap lengan ibunya.

Sayup-sayup mataku mulai memberat, tidur selama tiga jam belum cukup rasanya apalagi baru satu cangkir kopi yang ku hirup. Tidak sampai sepuluh menit aku tertidur di dalam kabin tak terasa pesawat akan segera mendarat di kota tujuan, Jogjakarta. Cahaya lampu-lampu kota Jogja dan sekitarnya mulai nampak, sebentar lagi pesawat siap mendarat di Bandara Adisutjipto.

Jogjakarta, kota sejuta kenangan pada tiap sudutnya, kisah tentang kehidupan, petualangan, dan secangkir kopi tentunya! Kota Jogja semakin jelas terlihat saat pesawat mulai menukik turun, ya aku rindu kota itu tapi saat ini rinduku tidak sebesar sebelumnya, baru kali ini aku merasakan merindukan Jakarta seperti ini, perasaan berat meninggalkan sesuatu yang masih asing bagiku bahkan sampai saat ini. Tidak ada antusias yang menggebu-gebu saat pesawat bahkan telah mendarat dengan sempurna. Entah karena esok aku harus menghadapi kembali rutinitasku di Jogja atau karena waktu yang terlalu singkat untuk menikmati sebentar saja kenyamanan dalam rumah di Jakarta.

Keluar dari kabin, aku menuruni tangga pesawat dan berjalan ke gedung terminal menuju pintu keluar bandara. Jogjakarta, aku kembali setelah satu minggu menjenguk kota kelahiranku. Malam hari di Jogja tak jauh berbeda seperti sebelum-sebelumnya, tapi inilah kehidupanku.

Aku sudah terpaku dalam petualanganku di Jogja yang mengalahkan Jakarta meski senja dari jendela pesawat meninggalkan setitik rindu pada kota kelahiran.

-12 Agustus 2013-
Dalam penerbangan Jakarta menuju Jogjakarta

Kamis, 13 Juni 2013

KOPI (BUKAN) MASOCHIST


KOPI (BUKAN) MASOCHIST

Masochist seperti yang dikatakan banyak orang, memiliki pengertian bahwa intinya adalah perilaku yang senang menikati kesedihan atau menyiksa diri sendiri. Beberapa artikel menyebutkan perilaku semacam itu sangat luas pengertiannya, bisa dalam bentuk penyiksaan fisik diri sendiri seperti memukulkan kepala ke tembok,  tetapi ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa kopi dan rokok juga termasuk dalam kriteria masochist dalam kehidupan sehari-hari.

Kopi sangat dekat dengan keseharian saya, ya saya adalah wanita malam peminum kopi, pengkonsumsi kafein. Kopi merupakan pilihan saat bekerja, belajar, membacabuku, dan saat menikmati waktu bersama teman ataupun orang terdekat. Kopi, malam, dan obrolan, sisi lain dari kehidupan yang sudah cukup ruwet.
Beberapa orang dalam hidup saya kerap memprotes kebiasaan saya ini, mengkonsumsi kopi dalam jumlah beberapa gelas sehari. Beberapa artikel menyebutkan bahwa kopi memiliki kandungan kafein sebanyak 1 % hingga 1,5% akan tetapi dalam kopi instan, kandungan kafein mencapai 2-5% (dalam wikipedia). Kafein ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Kafein adalah zat yang legal, akan tetapi menurut banyak artikel pula bahwa kafein berlebihan menyebabkan mabuk kafein yang dicirikan dengan insomnia, kerisauan, dan sebagainya. Batas normal mengkonsumsi kafein adalah tidak lebih dari 1 gram per hari (menurut artikel pula).

Tulisan saya sebenarnya tidak ingin membahas mengenai pengertian masochist, kafein, atau data-data ilmiah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan itu. Saya hanya bertanya-tanya mengenai hubungan masochist dan kopi secara sederhana. Apakah kopi (bukan) masochist?

Banyak orang bilang, kopi menyebabkan rasa kantuk hilang, tapi beberapa orang termasuk saya dan sebagian teman saya mengatakan tidak ada pengaruh antara kopi dan mengantuk. Entah ini karena sugesti atau tubuh yang sudah semakin kebal terhadap kadar kafein dalam kopi yang biasa kami minum. Saya mengakui bahwa kopi terkadang menyebabkan mual atau asam lambung meningkat, juga terkadang membuat kepala sedikit pusing. Tapi apa yang terjadi saat saya tidak mengkonsumsi kopi dalam sehari? Rasa pusing terkadang tetap saya rasakan.

Pernah saya membaca buku Cinta dalam Gelas karya Andrea Hirata, dalam buku itu ditulis bahwa kopi yang diminum menggambarkan kehidupan seseorang, semakin pahit kopinya, semakin berlika-liku pula kehidupannya. Saya penggemar kopi pahit, kopi dengan sedikit gula, atau bahkan teman-teman saya bilang “sangat” sedikit gula, kental, ampasnya hampir setengah gelas. Tulisan saya pun sering sekali menyebut kata kopi , kopi hita, atau kopi pahit. Dulu di sebuah website yang saya postingkan tulisan saya, ada seorang yang bilang “kopi pahit, apakah kita memang menyukai masochist ya?”. Komentar tersebut membuat rasa ingin tahu saya tentang masochist tergelitik. Benarkah kopi dan pahit itu identik dengan masochist? Benarkah kehidupan saya tercermin dari kopi yang diminum?



Suatu pagi, saya meracik kopi seperti biasanya, tiba-tiba muncul ide untuk menambahkan sejumlah gula ke dalam kopi saya. Alhasil pagi itu, kopi saya kemanisan (menurut saya), lalu apakah itu artinya masochist pelan-pelan menjauhi saya? Sejujurnya, saya lebih suka kopi yang pahit.

Mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang tidak wajar mungkin menyebabkan masochist. Tapi saya benar-benar menikmati kopi, lebih dari sekedar kopi, kopi menghadirkan obrolan tentang kehidupan, santai dan pembicaraan terasa lebih ringan. Lalu, apakah benar kopi itu (bukan) masochist?

Senin, 08 April 2013

(SETENGAH) PENUH

SETENGAH PENUH
“X Coffee”
Daftar Menu :
  • Espresso
  • Latte
  • Frappucinno
  • Americano
Sore itu di sebuah mall karena merasa haus aku memutuskan untuk membeli minuman, mataku tertarik pada sebuah kios kopi kecil di tengah food court, membaca menunya yang memang tidak asing tetapi tidak terlalu familiar oleh lidahku, maklum aku terbiasa minum kopi di warung kopi yang tidak begitu mewah tetapi sangat menyenangkan karena suasananya, yang hanya menyediakan menu-menu dengan nama yang sederhana seperti kopasus, kopaja, kotang, atau kopi khas daerah nusantara.
Karena sudah seharian belum ngopi, aku pun tertarik untuk mencoba Americano yang ditawarkan di kios tersebut, bapak penjual kopi dengan sigap membuatkan pesananku dengan alat pembuat kopi, yang entah apa itu namanya biasa disebut orang-orang. Dari mesin itu mengalir kopi pekat hitam ke dalam sebuah cangkir bening, hingga akhirnya si bapak mengantarkan cangkir tersebut ke hadapanku.
Aku perhatikan cangkir itu, secangkir kopi, hitam, pekat, sangat kental, dan beraroma kuat. Persis seperti selera kopiku. Hanya saja yang berbeda adalah penyajiannya, kopi itu disajikan hanya setengah dari cangkirnya, tidak seperti kopi yang aku pesan di kedai kopi biasanya, cenderung penuh tapi tidak melewati cangkir.
Ku hirup aroma kopi itu sebelum mulai menyeruputnya, nikmat. Pelan-pelan aku mulai menyeruputnya. Sangat kental, pahit, asam, pahit, asam hingga sampai pada dasarnya. Sehabisnya kopi itu, tidak seperti biasa, aku merasakan sesuatu yang kosong, seperti setengah ruang cangkir itu yang sengaja dibiarkan kosong oleh si pembuat kopi. Sesak, seperti tidak puas karena tak mendapatkan sesuatu yang benar-benar bulat dalam satu. Setengah penuh, memberiku perasaan sesak karena seperti kehilangan sesuatu yang seharusnya melengkapi perasaan yang lain.
Jujur saja, aku tidak suka setengah penuh ataupun setengah kosong. Setengah membuatku merasa dalam situasi yang tergantung, abstrak, dan menyebalkan. Setengah membuatku tidak bisa condong pada sebuah keputusan. Bagaimana bisa menentukan jika berada dalam setengah? Meskipun mungkin ada orang-orang yang memutuskan memilih setengah.
Setengah penuh menyediakan setengah ruang penuh yang tidak jelas akan dipenuhkan sisanya, dalam waktu yang lama hingga setengah cangkir kopi itu mendingin. Atau bahkan setengah penuh akan diseruput dalam keadaaan mendidih, langsung habis hingga satu cangkir genap menjadi kosong, membakar lidah dan tak terasa kenikmatan, hanya ada perih.
Setengah penuh atau setengah kosong?? Tidak keduanya. Aku ingin sesuatu yang bulat dalam satu.
Yogyakarta, 7 April 2013
Di sebuah warung kopi, yang tentu saja menyajikan secangkir kopi yang tidak setengah penuh.

Jumat, 18 Januari 2013

K A C A M A T A


Ini pertama kalinya saya datang di warung kopi ini, bukan tempat yang biasa saya kunjungi untuk menikmati secangkir kopi. Suasananya tidak jauh berbeda, selayaknya warung kopi dengan harga di bawah lima ribu rupiah untuk satu cangkir. Cahaya yang remang-remang serta kursi dan meja kayu tanpa bantal duduk atau taplak meja. Saya memasuki warung dan menuju kasir untuk memesan secangkir kopi susu, kemudian menuju sebuah meja tepat di tengah-tengah warung. Tidak seperti biasanya juga dimana saya mungkin lebih memilih meja di suatu sudut ruangan, tapi tidak ada salahnya mengubah kebiasaan dan sudut pandang. Malam ini saya bersama seorang rekan kantor, sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol, ya selayaknya warung kopi kan? Disitu adalah tempat orang-orang menjajakan kehidupan sosialnya, bukan justru sibuk dengan teknologi yang mereka gunakan, kurang lebih begitu kecenderungan pendapat saya.

Dari tempat saya duduk, banyak orang yang saya lihat, berlalu lalang atau asik dengan meja mereka sendiri-sendiri. Di arah jam satu, saya lihat seorang perempuan tengah asik dengan hisapan sishanya, sampai akhirnya seorang laki-laki yang mungkin adalah temannya datang bergabung. Lain dengan meja di seberangnya, seorang wanita berambut panjang menyulutkan api pada sebatang rokok dan menghisapnya. Banyak orang lalu lalang melewati tempat kami duduk, saat itu saya sedang melepas kacamata yang saya gunakan, hingga salah satu dari mereka yang lewat berhenti dan menyalami teman saya, lalu bergabung dengan kami, perkenalan singkat yang bahkan membuat saya tidak mengingat siapa namanya, ia lalu sibuk berbincang dengan teman saya. 

Lampu yang temaram dan mata saya yang memang menderita minus membuat saya tidak terlalu jelas melihat orang-orang di seluruh ruangan ini, karena itu saya kembali mengenakan kaca mata saya. Tiba-tiba rekan baru kami berkata “ternyata mbaknya pakai kacamata juga toh”. Saya menyapu ruangan dengan kacamata saya, lalu kembali melepasnya. “Kacamata membuat kita melihat yang jauh menjadi jelas, tapi membatasi sudut pandang kita” kata saya sambil menyeruput kopi yang semakin dekat dengan ampasnya, entah atas dasar apa saya mengatakan itu tapi rasa-rasanya begitulah yang saya rasakan. Teman saya tertawa kecil “mbak, kamu kebanyakan minum kopi deh.”


Hahahaha, sepertinya begitu ya, ini kopi cangkir kedua yang saya minum, setelah secangkir kopi hitam pahit di lobby kantor tadi sore. Tapi sepertinya saya benar-benar merasa bahwa kacamata membuat pandangan saya terbatas, pasti kan? Karena kacamata memiliki frame yang sedikit mengganggu pandangan jarak dekat. Seringkali juga kacamata membuat saya tidak focus dalam mengendarai motor, ia membuat saya terlalu fokus pada kendaraan-kendaraan yang berada jauh di depan saya. Selain itu ia juga membuat cahaya dari kendaraan tersebut menyilaukan penglihatan saya. 

Tapi bagaimanapun, dengan keadaan mata saya yang minus, saya tetap memerlukan teknologi kacamata. Itulah kenapa saya tidak setiap saat menggunakan kacamata saya, selain karena mata saya lelah, tapi melepas kacamata membuat pandangan saya menjadi lebih luas. Sebenarnya tidak sepenuhnya begitu sih, melepas kacamata terus-terusan mungkin juga menambah minus saya. Tapi kira-kira begitulah, ah sudahlah ini cuma coret-coretan level warung kopi. :)
-    Yogyakarta, Januari 2013 -

Rabu, 16 Januari 2013

AKU (TIDAK) MENUNGGU TAHUN BARU




31 Desember, hari terakhir di tahun 2012, ya banyak orang menantikan pergantian tahun. Tiga kali pergantian tahun aku lewati disini, tapi malam ini gegap gempita pergantian tahun sedikit teredam hujan deras yang mengguyur kota Jogja sedari sore hari. Namun mendekati pukul dua belas malam, sayup-sayup terdengar pula ledakan kembang api sebagai luapan emosi perayaan pergantian tahun.
Aku bukan salah satu dari mereka yang mungkin saat itu berada di gubuk pinggir pantai berdesak-desakan berteduh dari hujan yang sangat deras, dengan wajah penuh harap hujan akan berhenti sebelum pukul dua belas malam. Aku juga tidak berada di dataran tinggi dan pastinya mereka yang disana pun sedang duduk cemas berharap langit berhenti menangis, kembang api mereka menunggu dimuntahkan melukis langit pergantian tahun. Aku berada di atas kasur kecil  dalam kamar kostku, berbaring membaca sebuah novel tentang cerita luapan lumpur panas, hal yang sama dengan mereka adalah bahwa aku menunggu pukul dua belas malam, tapi bukan karena ingin berkembang api ria atau bakar-bakaran. 

Mataku sudah hampir berat mendekati jam sebelas malam, sementara ia yang juga berada di atas kasurnya sepertinya sudah terlelap dalam peraduannya di sebuah rumah kecil yang hangat. Tidak apa, rencana bermalam tahun baru bersama pun terpaksa dibatalkan lagi-lagi karena hujan. Tapi aku yakin, ada kebersamaan lain yang lebih penting dari sekedar kebersamaan sehari dalam malam pergantian tahun. Apalagi beberapa hari esok ia akan aku pertemukan dengan seseorang yang aku tunggu malam ini. Meski rencana telah dibatalkan, aku tetap akan menunggu hingga hari berganti, aku tidak ingin melewatkan satu menit apalagi berjam-jam pergantian itu. 

Kisah dalam novel sudah setengah aku lahap, aku mulai merasa semakin mengantuk.

Tiba-tiba aku terbangun dengan kaget dan spontan melihat handphoneku, Jan 1 2013, 12.04 am. Terlewat empat menit, seketika aku terduduk dan sibuk dengan handphone-ku, mengetik sebuah pesan singkat :

“Selamat ulang tahun”

Choose contact : Papa
Sending..

Aku memeluk gulingku, menyelimuti tubuhku dengan sleeping bag. Bergumam dalam mimpi “Selamat ulang tahun papa” meski kita tak terlalu dekat secara psikologi.


Yogyakarta, Pergantian Tahun 2012-2013