Rabu, 24 Desember 2014

INCOME VS EXPENSE ?



Kemarin pagi saya membaca sebuah artikel di koran mengenai Persentase Pengeluaran Rumah Tangga. Pikiran saya segera melayang pada percakapan dengan beberapa kawan tentang pertarungan "Income vs Expense". Kebanyakan dari kami mengeluhkan mengenai income yang kurang dibanding pengeluaran. Kadang kala terucaplah perumpamaan "Gajian itu seperti haid, dapetnya sebulan sekali abisnya seminggu." Serius kalian mau gajian dua kali berarti sama dengan haid dua kali dalam sebulan? Sudah sudah, itu cuma perumpamaan iseng. Hehe.

Saya sekarang sedang dan masih belajar mengatur keuangan pribadi saya, begitu juga beberapa kawan saya. Kami sempat bertemu untuk membahas pos-pos anggaran dalam keuangan kami. Maka saat membaca artikel tersebut saya tertarik dengan ilustrasi yang digambarkan dalam "pie" persentase pengeluaran rumah tangga. 30 persen investasi, 30 persen cicilan dan hutan, 40 persen biaya hidup. Bagaimana menurut kalian?

Saya serta merta mulai menghitung pos-pos saya dalam persentase untuk tiga kategori itu. Hasilnya? hemmmmm. Menurut saya pribadi, mungkin tidak semua orang menerapkan persentase tersebut. Saya sendiri memiliki persentase yang berbeda dari artikel tersebut. Tapi saya rasa, artikel tersebut menginspirasi saya dalam merencanakan keuangan pribadi, artikel tersebut sangat bermanfaat sebagai literatur saya.

Menurut saya pribadi, solusi permasalahan dari pertarungan "Income vs Expense" adalah mengelola pengeluaran saya dengan sebaik dan setepat mungkin. Kalau mempermasalahkan uang, maka saya pikir uang tidak akan pernah cukup bagi manusia, manusia cenderung selalu merasa kurang dan kurang. Maka saya pikir mengelola keuangan sangat penting. Semoga dengan menyusun perencanaan keuangan, memberi manfaat bagi kita semua dan senantiasa bersyukur. :)

Selasa, 23 Desember 2014

SAYA KUPER!

Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca koran, karena itu pagi tadi saya dengan sengaja mengunjungi perpustakaan yang terletak di lantai paling atas (satu lantai dengan saya) dan paling ujung barat tempat saya bekerja. Ada tiga macam koran yang tersedia setiap hari di perpustakaan: Kompas, Jakarta Post, dan Bisnis Indonesia





Saya mulai membaca dengan Jakarta Post yang menggunakan bahasa Inggris, banyak informasi yang mungkin tidak akan saya ketahui jika saya tidak membaca koran hari ini . Seperti misalnya tentang banjir yang merenggut nyawa di Sumatera Utara ataupun tentang pendakian es di Gunung Dobong, Seoul Korea Selatan. Saya juga membaca Kompas, sayangnya Kompas hari ini sedang dibaca oleh pengunjung lain sehingga saya akhirnya membaca Kompas satu hari sebelumnya. Banyak sekali informasi yang sangat berguna, wacana mengenai transisi premium ke pertamax, tentang perempuan usia 18 tahun yang menjadi damkar di Purwakarta, atau informasi tentang index saham (untuk yang satu ini mungkin saya perlu waktu lebih lama dan berpikir lebih keras untuk mencernanya, juga tentang informasi ringan dari kalangan selebritis mengenai Olivia Zallianty yang ingin membentuk Sako Pramuka.


Sore sekitar pukul tiga, karena server yang sengaja dimatikan entah karena apa oleh divisi IT, akhirnya saya kembali membaca koran di perpustakaan. Sekedar membaca Kompas hari ini yang sudah kembali terpajang pada display. Membaca tentang putri Spanyol yang digugat karena kasus penggelapan pajak atau tentang pejuang tanah adat di Kalimantan Barat. Saya membaca koran dengan teknik skimming, sehingga tida detail per kata saya resapi seperti saya membaca puisi atau prosa. Tapi membaca koran bagi saya menambah wawasan. Sepertinya besok-besok saya akan rutin berkunjung ke perpustakaan untuk membaca koran gratis. Hehehehe.

Semua informasi di atas sebelumnya tidak saya ketahui. Saya tersadar, ternyata banyak sekali hal yang tidak saya tahu. Bahkan isu-isu terkini yang ramai dibicarakan orang saya tidak tahu, kuper sekali ya saya. Saya hanya menjalani rutinitas yang menjenuhkan, tanpa sadar kalau membaca itu sangat penting. Semakin banyak membaca, semakin saya sadar begitu banyak hal yang tidak saya ketahui.

Sebaiknya dalam daftar resolusi 2015 nanti saya harus membuat resolusi membaca. Semoga selalu bermanfaat :)

Kamis, 18 Desember 2014

RAMI, MISS YOU



Namanya Rami, setelah saya adopsi Oktober 2013 lalu. Seorang teman memberikannya pada saya saat usianya hampir dua bulan. Warnanya hitam atau bahasa kerennya "black solid". Kecil, hitam dan lucu. Itu kesan saya saat pertama kali Rami datang di kamar kos saya yang hanya berukuran 2,3x3 meter. Hari pertama hingga hari ketiga dalam masa adaptasinya pada lingkungan baru, Rami berhasil membuat saya tidur hanya mengenakan sleeping bag. Kenapa? karena hari pertama Rami pup di lantai, hari kedua Rami pup di atas kasur saya! Akhirnya saya harus menjemur kasur saya. Rami mengalami diare selama tiga hari, tengah malam saya bahkan menelepon teman saya hanya untuk berkonsultasi. Teman saya dengan santai menjawab "cacingan, besok kamu kasih obat cacing".

Jadilah besok malamnya, Rami minum obat cacing. Setelah itu permasalahan baru lagi adalah Rami kutu-an dan terserang jamur! Kalau saya sedang iseng, maka berubahlah saya jadi "ticks hunter" yang bergulat dengan Rami yang lincahnya minta ampun. Karena kutu yang berkembang biak dan jamur yang merajalela, akhirnya saya putuskan untuk mengajak Rami ke salon (baca : petshop) untuk grooming. Kutu hilang, tapi tidak dengan jamur yang ternyata adalah scabies, sehingga Rami berobat ke dokter.

Hari-hari berikutnya, keseharian saya bersama Rami, roomates. Hehe. Subuh pukul setengah lima, saya selalu terbangun oleh Rami yang dengan enaknya naik-naik ke tubuh saya, berjalan-jalan seolah sedang catwalk. (Ini adalah kebaikan Rami yang membuat saya tidak terlambat bangun Subuh). Pagi hari sebelum berangkat, saya tidak lupa menyediakan makan dan minum, menggendongnya sebentar. Malam hari ketika saya pulang kerja, Rami sudah menanti dan memasang wajah manja saat saya membuka pintu kamar. Jadilah setiap pulang saya selalu mengucapkan salam "Halo sayang....."

Malam hari, kalau saya sedang memakai laptop Rami akan naik ke atas laptop dan duduk manis tanpa peduli si empunya laptop lagi asik dengan excel atau nonton film. Lalu Rami akan lari-lari di kamar, ada satu video yang sangat lucu, kalian harus menontonnya. Hehe :D

Hari-hari saya jadi lebih berwarna, saya lebih betah di kos dan jarang nongkrong di luar dengan alasan "Anak gue nungguin di rumah nih". Mungkin diantara kalian ada yang pernah kesal karena saya tiba-tiba pulang selagi asik ngopi dan ngobrol-ngobrol? Maafkan saya :p



Suatu hari Rami sakit, tepatnya setelah Lebaran Idul Fitri tahun 2014. Saya terlambat menyadari karena habis mudik ke Tangerang. Saya khawatir dan menghubungi dokter di tempat petshop langganan saya. Selanjutnya Rami akhirnya diopname di sebuah klinik hewan di Jogja. Hari pertama, Rami menjalani serangkaian tes awal seperti suhu dan darah. Belum ada diagnosa pasti untuk Rami. Hari kedua, beberapa tes saya setujui untuk peningkatan diagnosa dari dokter. Selama Rami dirawat di klinik, saya bisa dua sampai tiga kali mengunjungi Rami, Rami makannya sedikit sehingga saya pelan-pelan menyuapinya malah di hari ketiga Rami tidak mau makan sehingga harus dipaksa oleh seorang teman pemilik petshop yang berbaik hati membantu saya. Siang hari di hari ketiga, belum juga ada diagnosa pasti namun saya sepertinya sudah mulai ada arahan mengenai penyakit Rami setelah saya berkonsultasi dengan beberapa dokter via online. Malam harinya, saat saya menjenguk Rami, setelah saya sempat mengucap salam mesra padanya, kondisi Rami kritis.

Malam itu, tepatnya 8 Agustus 2014 pukul delapan malam. Saya menahan tangis menemani Rami yang berada di ruang emergency. Selama empat jam Rami berjuang hingga akhirnya kembali kepada-Nya. Dia lebih menyayangi Rami, membebaskannya dari rasa sakit. Kehilangan? Tentu. Bagaimanapun juga Rami mengisi hidup saya selama kurang lebih sepuluh bulan. Tapi saya percaya bahwa Rami akan bahagia, bisa bermain bersama teman-temannya disana.

BSD, 17 Desember 2014
Rami, i miss you. Baik-baik disana :)

Selasa, 16 Desember 2014

Pagi Ini Aku Meleleh, Seperti Cokelat di Atas Roti Panggang

 
Pagi ini aku meleleh, seperti cokelat di atas roti panggang. 

Aku ini perempuan keras kepala yang bisa meleleh oleh hal sederhana. Sudah begitu saja.

Senin, 15 Desember 2014

MAAF MPUS, CUMA ADA TEMPE GORENG



Sore itu di parkiran kantor, saya hendak pulang. Saya melihat dua ekor anak kucing dan induknya di tepi parkiran, refleks saya pun memanggil "mpus.. mpus.." rupanya mereka malah menghampiri saya. Duh, saya sedang tidak membawa ikan, ayam, daging atau makanan kucing lainnya. Saya akhirnya berjalan menjauhi mereka dan tiba-tiba ingat pada tempe goreng di dalam tas saya, makan siang saya yang belum terselesaikan. Karena tak tega, akhirnya saya berikan sedikit potongan tempe goreng itu dengan sedikit ragu apa mereka akan mau memakannya. Tak disangka mereka ternyata lahap memakan tempe goreng saya, selanjutnya tempe yang masih terbungkus plastik saya potong-potong dan saya berikan semua pada tiga ekor kucing itu (Maaf Mpus, cuma ada tempe goreng). Saya kemudian asik sendiri memperhatikan mereka melahap santapan mereka, dan tersadar saat seorang rekan menghampiri "kamu kasih apa kucingnya?" saya jawab "tempe goreng" sambil nyengir konyol.

Kucing-kucing itu rupanya tak banyak meminta, hanya sedikit yang kita beri mereka pun sudah sangat senang. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang lucu, imut dan menggemaskan. Indahnya berbagi, meski hanya dengan tempe goreng kepada beberapa ekor kucing. :)

BSD, 15 Desember 2014
Semoga kalian selalu dilindungi dan tumbuh sehat :)

Minggu, 14 Desember 2014

KADANG-KADANG

Kadang-kadang,
aku pergi ke laut.
hanya untuk luas memandang,
membunuh penat.

Kadang-kadang,
aku mengunjungi lembah.
sekedar bicara pada burung-burung,
tentang apa yang kita sebut resah.



Kadang-kadang,
aku melukis mendung.
hingga awan menjadi gelap,
hanya untuk mengusir kalap.

Kadang-kadang,
aku menyendiri ke hutan.
berbincang dengan ilalang,
tentang pencarian.

BSD, 14 Desember 2014
Semoga kadang-kadang membuat hidup berwarna

Kamis, 11 Desember 2014

HARI GUNUNG SEDUNIA



Rupanya rinduku pada gunung sudah terlalu besar, ia sudah terlalu berat untuk disimpan. Sama halnya seperti hujan yang kemudian turun, karena awan tak sanggup lagi menampung. Ngomong-ngomong soal hujan, aku pun rindu tentang hujan di hutan, bau tanah yang khas kadang mengiringi perjalanan. Pun rinduku tak luput pada dinginnya udara gunung. Banyak rindu disana, mungkin akan jadi daftar panjang jika dituliskan. Oh ya, jangan tanya apa aku rindu memasak di gunung, sudah tentu iya. Sebenarnya hal-hal yang dilakukan disana bisa dilakukan di rumah, tapi disana akan terasa berbeda sekali.



Aku jadi ingat serunya memasak ayam goreng dan sambal teri di gunung, rasanya? sudah pasti enak! hehehehe (pede). Wah tiba-tiba rinduku makin bertambah karena saat ini aku mengingat masa-masa diklat mapala, memasak adalah aktivitas menyenangkan saat diklat. Jadi ingat juga, saudara-saudara yang selalu penuh hal-hal konyol dan menghibur. Tiba-tiba teringat juga pempek terenak yang aku makan di gunung, berlebihan mungkin ya, tapi memang terasa enak sekali kok :)



Wah rinduku juga termasuk rindu pada nafas yang ngos-ngosan saat mendaki, mengatur nafas sedemikian rupa. Rupanya ada benarnya juga kata-kata itu, yang diperlukan hanya kaki yang melangkah lebih jauh, nafas yang lebih cepat dari biasanya. Temukan hal berbeda yang akan membuat takjub.


Senja, salah satu rinduku terselip pula di antara semburat senja dari ketinggian. Kemudian berlanjut pada malam yang dingin dan sepi, hangat karena kebersamaan tak lupa pula dilengkapi secangkir kopi sebagai hidangan utama dalam percakapan. Oh ya jangan lupakan juga saat purnama atau lautan bintang, itu akan semakin menambah rindu.

Apa lagi ya? terlalu banyak rindu itu menumpuk. Sudah ah, semakin banyak ditulis semakin besar pula rasa rindu. Tinggal tunggu ia meledak, karena tak sanggup terbendung lagi.

Selamat Hari Gunung :)
BSD, 11 Desember 2014

Sepatu ini pun mungkin sama rindunya, ingin diajak jalan-jalan :D

Selasa, 25 November 2014

NOVEMBER RAIN



Suatu senja, hujan turun.
Setelah mendung diisyaratkan awan.
Kaki melangkah menuju padang.
Tempat dimana kau memandang.

Ilalang menunduk, lelah.
Senja meredup, gelap.
Wajahmu mengadah,
meminta hujan mengecup.

Suatu malam dingin,
sisa hujan senja tadi.
Tanpa diperkenankan,
menyisakan sepi.

Ada banyak tanya,
dan kau temukan jawab.
Tak kau duga,
tak disangka tetap tak terjawab.

Satu yang kau rasa, ini nyata.

Ini hanya tentang satu hal.
Hujan di bulan November.
yang memporakporandakan.

BSD, 25 November 2014


Sometimes I need some time...on my own
Sometimes I need some time...all alone
Everybody needs some time... on their own
Don't you know you need some time...all alone

"November Rain"


Selasa, 18 November 2014

RUMUS EXCEL-NYA KACAU

Sudah menjelang siang saat kepala saya mulai terasa berputar-putar. Angka-angka itu terlalu kecil dan samar bagi saya tanpa kaca mata. Namun kaca mata membuat kepala saya semakin berputar. Jadilah monitor komputer saya majukan setengah meja dari tempat semula. Setidaknya posisi itu sedikit lebih nyaman. Jam makan siang sebentar lagi, saya masih berkutat dengan excel, masih meraba-raba pola rumus. Sampai akhirnya saya putuskan untuk menyantap bekal saya sebelum kembali berkutat dengan angka. 

Sudah hampir satu jam dan saya belum menyelesaikan satu worksheet pun. Bola mata saya masih menelusuri bagaimana excel bekerja dengan rumusnya untuk menghasilkan angka yang kami sebut laporan. Jari saya masih berdansa dengan kursor, mencari gerakan mana yang tepat menuju sebuah hasil.

Rasanya kepala saya sudah penuh, berat. Bahkan saya harus beberapa kali ke toilet, tidak untuk buang air, hanya sekedar melakukan stretching ringan di bilik nomor dua dari pintu toilet. Mungkin yang lain boleh mengira saya diare atau "beser".  Saya hanya butuh stretching!

Kopi saya bahkan masih tersisa setengah cangkir, tidak seperti biasanya yang pasti habis sebelum jam makan siang. Ia sudah mendingin dan mengendapkan ampas dan saya lupa menyentuhnya, maaf. Handphone saya pun bergetar berkali-kali, saya acuhkan. Angka-angka di hadapan saya rupanya tak ramah.

Saya masih berkutat dengan worksheet pertama yang akhirnya selesai dalam dua jam. Lanjut ke worksheet kedua saya sudah mulai menemukan pola meski masih sedikit linglung dengan angka-angkanya. Rupanya mereka benar-benar memaksa saya mengenal lebih dekat, memaksa saya tau bagaimana mereka berpola untuk menjadi sebuah laporan. Di pertengahan saya pasang earphone dan mendengarkan musik, berharap sedikit terbantu dalam berpikir.

Tulisan saya ini bukan tentang apa-apa, hanya tentang excel yang tiba-tiba kacau, yang tiba-tiba menampilkan hasil #REF atau ?NAME. Rupanya satu bagian cell mengandung formula ter-delete oleh saya. Tulisan ini hanya tentang excel yang menampilkan angka begitu banyak dengan font Tahoma berukuran delapan. Tulisan ini hanya tentang excel yang formulanya tiba-tiba kacau karena saya salah menempatkan kursor.

Menjelang senja, saya menemukan polanya. Saya sudah lebih terbiasa dengan angka-angka itu. Sehebat apapun rumus yang diciptakan, jika saya tak paham polanya apalah arti rumus itu? Seperti hidup saya, meski lebih rumit dari rumus, tapi yang terpenting saya tahu pola dan tujuan saya. Karena kehidupan tidak seperti excel yang hanya dengan rumus SUM(A1:A100) akan langsung menampilkan hasil. Kehidupan tidak mengkonversikan semua dalam satuan yang sama, itu sebabnya rumus tak selalu berhasil dalam kehidupan.

Saat senja hilang, kursor bergerak Start-Shutdown.

Hikmah dari worksheet yang masih mengharuskan saya berkutat dengan angka.
18 November 2014


Minggu, 16 November 2014

MAAF PAPA, SAYA BANGUN SIANG

Handphone saya sudah berdering dari lima belas menit lalu, alarm subuh sudah mengulang dua kali membangunkan saya. Untunglah alarm kedua berhasil membuat saya terbangun untuk bersegera. Usai menunaikan subuh, saya menuju mesin cuci dan menekan beberapa tombol, selanjutnya biarkan mesin itu bekerja sebagaimana mestinya. Saya? berjalan kembali menuju tempat tidur dan terlelap (lagi).

Pagi ini hari Minggu, biasanya saya sudah turun ke lantai bawah selambatnya pukul setengah tujuh pagi untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah. Tapi tidak pada hari ini. Pukul setengah delapan saya masih memeluk guling saya dan mendengar suara penjual bubur ayam langganan lewat di depan rumah. Semalam saya sudah menanyakan pada Papa apa pagi ini kami akan sarapan bubur ayam, tapi rupanya sedari subuh tadi badan saya terasa sakit. Jadilah saya masih berbaring bermalas-malasan di tempat tidur saat suara penjual bubur ayam terdengar.

Sabtu kemarin, sedari pagi saya beraktivitas di luar rumah. Saya mengunjungi organisasi ekstrakurikuler saat SMA. Ada agenda penting dalam organisasi itu, Musyawarah Anggota, dan saya sadar dengan sistem keanggotaan yang seumur hidup, saya merasa perlu untuk hadir saat diri saya mampu menghadiri acara itu.

Rupanya tubuh saya sudah mengakumulasi kegiatan saya sejak Senin lalu, akibatnya Minggu pagi badan saya terasa sakit. Weekend, mungkin papa menginginkan saya untuk istirahat di rumah setelah lima hari berkutat di depan komputer dengan angka-angka yang begitu banyak. Tapi saya merasa bahwa weekend adalah saatnya saya melakukan apa yang saya inginkan. Entah itu beristirahat di rumah, naik gunung, atau mengunjungi SMA saya seperti Sabtu kemarin. Jika ditanya apa yang saya dapat, saya akan jawab saya mendapatkan perasaan bahagia, bahagia dari sebuah kesederhanaan. Saya bahagia karena dapat berbagi, berbagi pengalaman yang sederhana kepada mereka disana.

Pukul sembilan pagi saya benar-benar sadar dari nikmatnya kasur saya. Saya turun ke lantai bawah dan melihat Papa (tentu) sudah mengerjakan bagian pekerjaan rumahnya. Di meja makan saya lihat semangkok bubur ayam, rupanya Papa tetap membelikan saya bubur ayam. Terima kasih. Selesai sarapan saya pun tetap mengerjakan pekerjaan rumah saya meski terlambat. Rupanya tubuh saya masih belum bisa terima dibangunkan dari tidurnya tadi. Setelah semua selesai, saya kembali ke kamar dan lagi-lagi kembali (ter)tidur.

Jadi, sekali lagi. Maaf Papa, Minggu ini saya bangun siang.

Minggu, 16 November 2014. 09.00 WIB