Kamis, 14 Mei 2015

(Bukan) Gerbong Khusus Wanita

Malam itu hari libur nasional tanggal 14 Mei 2015. Usai piknik ke daerah Sentul, saya menggunakan kereta Commuter Line (CL) dari Pasar Minggu untuk menuju daerah Serpong. Sejujurnya, ini pertama kalinya saya naik kereta dari stasiun Ps.Minggu. Setelah  bertanya pada petugas stasiun, barulah saya tahu bahwa saya harus transit di stasiun Tn.Abang terlebih dulu untuk kemudian melanjutkan naik kereta ke Serpong. CL dari Ps.Minggu malam itu tidak terlalu ramai, tidak banyak orang yang berdiri di dalam gerbong, pun saya yang sudah nyaman duduk di sudut kursi. Fyi saja, saya naik di gerbong campuran bukan gerbong khusus wanita. Begitu pula saat tiba di stasiun Tn.Abang, setelah lari-lari naik turun tangga karena kereta menuju Serpong sudah siap berangkat (maklum sudah jam sembilan malam dan itu hari libur), saya hanya melewati gerbong khusus wanita dan sengaja masuk di gerbong campuran di belakangnya. Saat itu petugas yang saya lewati mungkin berpikir kenapa saya malah sengaja berlari lebih jauh menuju gerbong di belakang, padahal masuk ke gerbong khusus wanita lebih dekat.

Jadi malam itu, saya berdiri di gerbong kereta sejak dari stasiun Tn.Abang. Kebanyakan perempuan yang ada di gerbong itu dan juga berdiri adalah mereka yang pada umumnya berpasangan dengan laki-lakinya. Tidak ada yang menawarkan tempat duduk untuk saya, tidak masalah saya masih dalam keadaan mampu untuk berdiri bahkan sampai Serpong, meski akhirnya di stasiun Sudimara saya mendapatkan tempat duduk. Gerbong khusus wanita, saya jadi teringat sebuah tulisan di kompasiana yang bercerita tentang hal ini. Secara pribadi, saya termasuk wanita yang lebih cenderung naik di gerbong campuran dibanding gerbong khusus wanita, mungkin dikarenakan saya menyadari bahwa terkadang kita sebagai wanita lebih egois terhadap wanita lain, hal ini pula yang juga jadi pertimbangan teman-teman wanita saya untuk naik gerbong campuran dibanding gerbong khusus wanita. Selain itu, saya rasa dalam tulisan kompasiana itu ada benarnya juga, bahwa wanita harus mampu bersaing dengan sehat bahkan bersaing dengan kaum laki-laki.
Tangerang Selatan, 15 Mei 2015.
Sekedar cerita pengalaman naik kereta :D

Kamis, 23 April 2015

Pagi Ini, Sederhana

Pagi ini tidak ada yang istimewa, jika ada yang berbeda itu bukan hal yang sangat luar biasa. Pagi ini terbangun dari tidur dengan mimpi yang campur aduk, saya melakukan rutinitas biasa yaitu memasak. Satu hal lain yang juga dilakukan adalah saya kembali lari untuk pertama kalinya, setelah libur sejak cuti awal bulan ini. Ya, kadang hal tersulit dalam melakukan sesuatu adalah memulai melakukannya. Lalu apa hal termudah adalah berhenti ya? Bagi saya, itu bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Pagi ini sederhana saja, berbahagia. Bahagia karena memasak dan mengusahakan ayah saya terpenuhi kebutuhan makan siangnya di kantor, bahagia karena berlari-lari kecil di tengah pagi buta. Sesudahnya, tidak ada hal yang begitu luar biasa pula pagi ini, saya masih mandi pagi, mengenakan make up seadanya (yang biasanya cuma bertahan hingga jam makan siang), minum satu gelas air mineral, tak lupa menyapa si kucing yang sedang ngantuk-ngantuknya di ruang tamu, kemudian berangkat kerja.


Pagi ini tetap sederhana, menyapa dan mengucap selamat pagi pada setiap staff di kantor yang berpapasan. Tidak ada yang berbeda, meja saya masih penuh dengan kertas, minum segelas air mineral lagi, kemudian menyeduh kopi pagi. Ngomong-ngomong soal kopi, kata Andre Hirata di bukunya "Cinta di Dalam Gelas", semakin pahit kopi yang diminum semakin berliku jalan kehidupan seseorang. Benarkah?

Jika ada yang tidak sederhana, mungkin itu perasaan saya hari ini. Perasaan saya yang begitu sederhana, yang bahagia dengan hal sederhana. Benar rupanya, bahagia itu sederhana. Sesederhana cangkir saya yang sudah kembali terisi kopi siang ini, yang setia menemani saya bekerja dan sekedar menulis di blog.

Sabtu, 18 April 2015

S A H A B A T

Pagi itu saya kembali menyadari bahwa semua bisa begitu sangat sederhana, termasuk soal persahabatan. Ini bukan tentang materi, sekali lagi materi memang menunjang kehidupan kita, tapi ada beberapa hal yang tak bisa dinilai secara materi.

Percayalah, ada begitu banyak sahabat baik di sekeliling kita. Yang tak pernah menilai kita dari materi, sederhana saja mereka (sahabat baik) adalah orang-orang yang ada bahkan saat kita berada di titik terendah. Sahabat baik tidak hanya ada saat kita hangout, bersenang-senang, atau tertawa terbahak-bahak. Seorang sahabat pernah berkata pada saya "Sahabat terbaikmu akan tertawa paling keras saat kamu jatuh, tapi juga akan jadi seseorang yang paling mati-matian mengajakmu untuk kembali bangkit." Benarkah? Saya rasa kalian semua punya deskripsi masing-masing untuk menggambarkan sahabat.

Tapi pagi itu, karena suatu kejadian di bbm saya. Saya begitu menyadari, bahwa sahabat tidak pernah menilai kita dari materi. Hubungan persahabatan adalah sesuatu yang sederhana, sesederhana kopi saya pagi itu yang bersahabat baik dengan pisang goreng, sesederhana bintang yang menemani bulan, pun sesederhana matahari dan bulan yang saling memberi tempat.

Tangerang, 18 April 2015.
Untuk para sahabat yang begitu sederhana.
Sesederhana kopi yang bersahabat baik dengan pisang goreng.

Minggu, 12 April 2015

RINJANI: Lebih dari Sekedar Anjani


Pagi itu 31 Maret 2015 pukul tujuh pagi dengan sisa kantuk semalam, saya sudah duduk di ruang tunggu bandara Soetta. Perjalanan (lagi-lagi) sendiri yang sudah direncanakan kurang lebih sebulan yang lalu. Tujuan saya kali ini adalah Lombok, mendaki gunung Rinjani. Beberapa teman bilang saya gila, perjalanan sendiri. Sebenarnya saya tidak benar-benar berniat mendaki sendiri, selama satu bulan saya sudah beberapa kali menghubungi orang-orang yang berencana mendaki Rinjani awal April. Beberapa diantaranya adalah teman dari teman saya, yang akhirnya saya kenal tapi belum pernah bertemu. Karena adanya selisih jadwal dalam itinerary, maka sebenarnya saya berniat membawa peralatan lengkap hingga akhirnya saya memastikan bahwa beberapa alat bisa share dengan mereka, salah satunya adalah tenda yang pada akhirnya saya tinggal di rumah. Pada hari yang sama, beberapa teman (yang belum pernah bertemu) pun sedang dalam perjalanan pula menuju Lombok via transportasi darat. Mereka adalah Bang Harbon dan Keong (dari Jakarta) serta Mas Ali dan Jhon (dari Jogja).

Menahan kantuk tanpa asupan kafein di ruang tunggu cukup membosankan hingga setelah satu jam di ruang tunggu, handphone saya berdering. Seorang kawan, Edika menelepon karena melihat display picture bbm saya yang tak lain adalah tiket penerbangan CGK-LOP dan serta -merta memutuskan menyusul saya ke Lombok malam harinya bersama seorang temannya yang kemudian saya kenal bernama Djenal. Bocah edan (peace kakak Edi dan bang Djenal :p ) batin saya dalam hati, rencana mereka ke Sumbing pun belok menuju Rinjani.

Tiba di Mataram sendirian, saya menumpang di kontrakan seorang teman, Mbak Yuli (yang saya kenal dari Bang Harbon) yang rela direpotkan oleh seorang saya ditambah Edi dan Djenal yang tiba malam harinya. Seorang teman yang lama tak jumpa mengantar saya belanja logistik, teman yang saya kenal pertama kali di Solo tapi sekarang bekerja di Lombok, namanya Cebret yang katanya sih nama aslinya Okta, hehehe.

Dari sendiri jadi berduabelas. 1 April 2015, siang pukul satu saya, Edika dan Djenal tiba di basecamp Sembalun Rinjani. Menyapa beberapa pendaki yang bertemu sembari menunggu teman-teman yang masih dalam perjalanan via darat. Maka perkiraan saya, tim kami berjumlah tujuh orang. Sampai akhirnya Bang Harbon pun mengirimi saya sms "Kita bareng anak dari Jepara dua orang sama suami istri dan anaknya." Ditambah Mas Joko dan Alvin dari Jepara, Bang Hari dan Mbak Lina serta si kecil Asha berumur tiga tahun dari Cilegon. Jadilah tim pun berjumlah dua belas orang. Pukul lima sore mereka tiba di basecamp, disanalah pertama kali saya mulai mengenal dan menghafal nama mereka satu per satu, sahabat-sahabat baru dalam pendakian Rinjani.

Pendakian dimulai selepas maghrib hingga pos 1 dan kami memutuskan untuk camp semalam disana. Memasak dan mengobrol untuk lebih mengenal satu sama lain. Awal pendakian sudah saya rasakan sangat luar biasa karena kehadiran si kecil yang sangat bersemangat dan ceria. Beristirahat semalam di pos 1 kemudian esok paginya melanjutkan menuju pos 3, hingga akhirnya karena beberapa pertimbangan tim pun berpisah. Harbon, Keong, Bang Hari, Mbak Lina dan Asha bermalam di pos 3 sementara saya dan enam orang laki-laki lainnya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

Ini foto bareng Asha di pos 1, gadis kecil luar biasa yang penuh semangat, yang dengan ikhlas (setengah dipaksa sih) memanggil saya dengan sebutan "kakak" :p

Tiba di Plawangan Sembalun sudah lepas senja, berbagi tugas mendirikan tenda dan memasak, kerja sama yang baik meski hampir seluruhnya baru saling mengenal. 3 April 2015 dini hari sekitar pukul tiga, seluruh personil bersiap menuju puncak Anjani. Jalur Plawangan Sembalun menuju puncak yang sangat "sesuatu" bagi saya, pasir dan curam. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal, belum lagi menahan dingin, saya melawan diri saya sendiri untuk tidak menyerah. Teman-teman yang juga memberi semangat dan tak ragu membantu saya juga merupakan sebuah motivasi yang berharga dalam pendakian. Rupanya menyemangati diri sendiri lebih sulit dibanding menyemangati orang lain. Hingga akhirnya saya mencapai puncak Anjani, bukan karena saya berhasil menaklukkan puncak tetapi saya berhasil menaklukkan diri saya sendiri. Jumat, 3 April 2015 maka saya berdiri di ketinggian 3726 mdpl bersama orang-orang luar biasa yang menemani saya bukan hanya ke puncak Anjani, namun hingga kembali ke Mataram.

Thanks all of you guys, sahabat-sahabat luar biasa meski baru pertama kali ngetrip bareng. :)

Anjani, kami tak pernah menaklukkanmu, tapi kami menaklukkan diri kami sendiri
(Puncak Rinjani, 3 April 2015)
Ki-ka: Mas Alvin,Mas Joko,Saya,Edika,Mas Ali,Mas Jhon,Bang Djenal

Dalam perjalanan menuju puncak, menyapa sesama pendaki adalah hal yang menambah energi positif (setidaknya menurut saya pribadi). Bertemu dengan seorang kawan dari salah satu mapala di Palembang (yang sekretnya dekat dengan sekret mapala saya), juga teman-teman dari Bekasi yang bareng naik ke puncak yang saya kenal dengan nama Bang Ambon dan Mas Aji.




Ki-ka: Edi, Mas Joko, Saya, Mas Aji, dan Bang Ambon.
Sahabat baru bertemu di jalur.
Sederhana saja. Papa, You're my man.
Your little girl at 3726 mdpl. Yippieeee! 

Semua orang di puncak mungkin berpikir "niat banget ni anak bawa toga segala"
Saya sih cuek, wisuda bareng Mickey Mouse di puncak, kapan lagi coba? (tapi itu idung masih ada koyo-nya)
berhubung topinya ketinggal di rumah, topinya Edika pun jadi deh sebagai gantinya.

Sore hari di Plawangan Sembalun kami bertemu kembali dengan Bang Harbon dkk yang sempat berpisah di pos 3 kemarin. Bertemu kembali dengan Asha yang selalu full batere-nya. Dengan berbagai pertimbangan pula, malam itu kami bermalam lagi di Plawangan Sembalun. Menikmati secangkir teh/kopi hangat sehangat obrolan di dalam tenda.

Suasana tenda malam hari seusai muncak, ada yang sibuk minum, lihat-lihat foto, di sudut lain sebelum foto ini diambil ada yang sibuk pijit-pijitan. hahahah.

Sebelum turun ke Segara Anak, foto bareng biar lengkap. (Kurang Bang Keong yang lagi summit)
Plawangan Sembalun, pagi 4 April 2015. Bersantai di hammock setelah SKSD dengan tetangga. :p

Esok paginya 4 April 2015, kami bertujuh menuju danau Segara Anak, bersantai sambil memancing dan tentu saja menikmati kopi di tepi danau dengan pemandangan menakjubkan. Siang itu diadakan pesta besar (baca: menghabiskan logistik) mulai dari nutrijel, pasta, omellet, hingga ikan goreng. Ikan goreng? tunggu dulu, sebelum makan ada kompetisi memancing antar para lelaki itu. Saya juga coba-coba memancing dan mendapat dua ekor ikan kecil tapi jangan dihitung ikut kompetisi ya, karena yang lempar kailnya pun si Edi bukan saya, saya cuma tugas menarik kalau umpan dimakan. Mulailah persaingan sengit memancing diantara para lelaki. And the winner is...... Mas Jhon, dengan satu ekor tangkapan ikan besar yang dipanggang malam harinya. 

Ini Mas Alvin yang lagi seneng dapet ikan. Keliatan banget bahagianya. Haha

Di sisi lain bang Djenal pun akhirnya dapet ikan setelah proses panjang meski tak sepanjang jalur menuju puncak Anjani. heheheh
 Ini kakak Edika yang semangat banget mancing, dia protes karena fotonya belum diupload di blog. :p
Dan.. ini dia man of the match  "fishing competition"  kita, Mas Jhon yang dapet ikan paling gede.

Sore hari, perjalanan dilanjutkan menuju Plawangan Senaru dan bermalam disana ditemani lautan bintang dan gerhana bulan. Meski terasa lelah dan kaki pegal, kami tetap bisa tertawa menikmati makan malam ikan panggang dan sup krim. Naik gunung makan harus tetap bergizi dong, beda rasanya makan ikan panggang di gunung dengan di rumah, rasanya berkali-kali lebih nikmat (lebay).

Minggu pagi 5 April 2015, perjalanan dilanjutkan turun ke Senaru. Kurang lebih hampir empat jam berjalan (saya saja sih mungkin ditambah Mas Ali yang sabar menemani saya turun) dengan kaki yang sudah mulai sulit diajak kompromi, akhirnya saya tiba di gerbang pendakian Senaru. Menyelesaikan apa yang telah dimulai, karena tujuan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat.
Di pintu Senaru, kebahagiaan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat. :)

Selama pendakian ini berkali-kali saya takjub dengan apa yang saya lihat, saya alami, dan saya rasakan. Pemandangan yang menakjubkan, orang-orang baik yang luar biasa, dan kesederhanaan yang tak ternilai oleh materi. Rinjani, lebih dari sekedar Anjani. Bukan hanya soal menapakkan kaki di ketinggian 3726 mdpl, lebih dari itu, banyak nafas yang kita hembus melepaskan beban, banyak langkah yang kita lakukan hingga menemukan sesuatu yang baru.


Perjalanan adalah tentang melepaskan dan menemukan.
Melepaskan apa yang sepatutnya dilepaskan, yang bisa jadi tidak kita sadari bahwa dengan melepaskan kita bisa menjadi lebih bahagia.
Menemukan hal baru; sahabat baru, kisah baru, juga bagian diri kita yang baru.


Special Thanks to:
1. Allah SWT.
2. My lovely man, Papa.
3. Rekan-rekan pendakian yang luar biasa; Mas Ali & Mas Jhon yang sering back up saya selama perjalanan dan menemani saya kalau saya jalannya lambat, Mas Joko & Mas Alvin yang juga turut memback up dan transfer beberapa bawaan, Edika yang ceriwis dan ramai sehingga perjalanan penuh dengan tawa, Bang Djenal yang pinter banget refleksi kaki meski sakitnya minta ampun.
4. Rekan-rekan pendakian yang juga luar biasa meski bareng hanya sampai pos 3; Bang Harbon dan Bang Keong yang juga sangat membantu, Bang Hari & Mbak Lina serta si kecil Asha-keluarga hebat yang memperkenalkan alam sedini mungkin pada anaknya.
5. Bang Ambon yang udah ngasih kertas buat bikin tulisan di puncak, juga Mas Aji yang mau dimintain tolong buat foto.
6. Pendaki yang minjemin boneka Mickey Mouse-nya, minjemmin hammock, dan yang ramah menyapa atau disapa saya.
7. Mbak Nefri & Mbak Airin yang sudah banyak kasih info.
8. Mbak Yuli yang udah kasih tumpangan sebelum berangkat ke Rinjani.
9. Bang Faiz dkk yang juga kasih tumpangan para gembel yang baru turun dari Rinjani, thanks buat asupan kopinya setiap hari. Hahahaha
10. Cebret/Okta yang akhirnya ngerjain saya di hari terakhir di Lombok demi Goa Kotak dan Batu Payung.
11. Bos saya, yang acc cuti saya. Teman-teman yang minjemin alat. Dan semua yang secara langsung maupun tidak telah turut andil dalam perjalanan saya kali ini.

Rabu, 25 Maret 2015

THE POWER OF SMILE


Siang ini di tengah angka-angka yang berlari di pikiran, saya menyempatkan menjenguk akun blog saya dan menemukan sesuatu. Ketika saya membuka beranda saya, maka mata saya menangkap sebuah postingan dari blog Moammar Emka berjudul "Sarapan apa pagi ini?". Yang membuat saya tersenyum dan bersemangat adalah gambar dalam postingan itu. Hingga akhirnya saya memutuskan menulis tulisan ini dalam blog saya.

"Sedetik, bayangkanlah sarapan pagimu adalah sebaris senyuman yang bikin orang lain nyaman. Sedetik kemudian, jadikanlah kenyataan." @moammaremka~

Pernah dengar mitos hari Senin? Hari Senin kadang terasa berat bagi sebagian pegawai/karyawan setelah dimanjakan weekend yang sungguh berarti. Hari Senin berarti bersiap untuk memulai kembali segala rutinitas yang merupakan tanggung jawab dan kewajiban. Hari Senin berarti (baru) hitungan pertama dari hitungan kelima sebelum weekend kembali datang. Belum lagi harus memikirkan hari Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Pernah merasakan seperti itu? Jujur saja, kadang iya. Bagaimanapun saya atau (mungkin) sebagian dari kalian pernah merasakan pada titik terjenuh dalam rutinitas, manusiawi kan?

Sarapan apa pagi ini? Sarapan senyum . Setiap saya tiba di parkiran kantor dan berpapasan dengan yang lain maka saya selalu mengusahakan tersenyum dambil mengucapkan selamat pagi. Entah tersugesti atau apa, rupanya efek hal sederhana itu mampu menambah energi positif dalam menjalani rutinitas saya. Menyenangkan saat saya mampu tersenyum kepada orang lain, terlebih jika mereka membalas tersenyum kepada saya. Rasanya energi positif saya bertambah berkali lipat.

Saya bukan motivator ataupun sejenisnya. Saya hanya menulis pandangan pribadi saya. Saat saya menulis tulisan ini, ruangan saya sedang senyap. Hampir seluruh penghuninya tenggelam dalam rutinitas pekerjaan masing-masing. Hampir tidak ada yang memperhatikan saya sedang menulis blog (kecuali orang IT yang bisa jadi kebetulan sedang memantau akses wifi saya, hehehehe). Sudah ah, begitu saja tulisan saya. Jangan lupa tersenyum ya :)

Menulis iseng dalam lima menit
SN, 25 Maret 2015

Selasa, 24 Maret 2015

L U P A

"Semakin sering kau berusaha melupakan, semakin kuat ingatan itu dalam benakmu."
Senja memandangi kartu berisikan tulisan itu, dari siapa? kalian pasti bertanya-tanya dari siapa. Sudahlah, lupakan. Saatnya nanti kalian akan tahu. Senja meghela nafas panjang, seandainya semudah itu tentu ia tak akan pusing. Bagaimana tidak, setiap hari selalu ada hal yang mengingatkannya. Bahkan, satu nama itu kerap muncul dalam dokumen pekerjaannya. Meski tidak secara langsung, satu nama itu mampu membuat pikirannya kosong seketika selama lima detik untuk kemudian kembali mengurai kenangan-kenangan itu. Ya, satu nama yang hampir selalu muncul di saat Senja mati-matian melupakan, sayangnya belakangan ini pun selalu muncul bahkan saat Senja justru tidak berusaha melupakan.

Senja menghela nafas panjang, sekali lagi. Sungguh, ia bahkan sudah sangat menyibukkan dirinya agar tak menyisakan satu detik pun mengingat itu. Dua belas jam lebih dihabiskannya di luar rumah. Lari? kadang itu yang dirasakan Senja. Tapi ia tak benar-benar lari, nyatanya ia tak pernah kemana-mana. Jadi apa yang sebenarnya dilakukannya?

Telepon genggamnya berbunyi, satu dari kesekian banyak pemberitahuan menampilkan nama itu (lagi-lagi). Meski tak secara langsung, hal itu cukup membuat Senja kembali menghela nafas panjang. Sudahlah, ia tak akan pernah bisa lari. Ia akan belajar berdamai dengan dirinya sendiri. Senja mengambil pena dan menulis di kartu itu, "Sejatinya, biarkan ia mengalir seperti air. Suatu saat akan bermuara pada tempat yang tepat."

pic: google

"Semakin sering kau berusaha melupakan, semakin kuat ingatan itu dalam benakmu. Sejatinya, biarkan ia mengalir seperti air. Suatu saat akan bermuara pada tempat yang tepat."

SN-March 24, 2015

Senin, 09 Maret 2015

Women's Day



International Women's Day is celebrated on March 8 every year.

The day makes me remember my discussion on english class with my friends about "If women have control". Our discussion about how about if women have control in the world, it will be better/worst? The issue about "feminism" or "emancipation".

I think it is not about women want to be better than men, not about that women can make world better if they have a higher position than men, not really about women can be work better than men. Although it is very possible for women to do it, but women are women, simple, we just want to have the equality in the right in laws and politics, education, and the chance to be better.

I think, women are women. However high our position, however strong our control, we should be in our nature: women, wife, and mother.



This is my personal opinion, doesn't mean all is right.
picture: google

BSD-South Tangerang.
March 9, 2015.
Sartika Noriza

Rabu, 21 Januari 2015

Tentang Senja dan Kunang-kunang



"....tentang kau dan hujan, tentang cinta kita, yang mengalir seperti air....." (Hujan-Utopia)

Bibir Senja bergerak mengikuti ejaan lagu yang ia dengarkan di dalam bus yang cukup penuh dengan penumpang. Di luar sana hujan sedang turun, menyampaikan rindu langit pada tanah. Perjalanan yang tak biasa ia lakukan, tapi Senja sudah terlalu lelah hingga ia memutuskan melakukannya.

Beberapa jam kemudian, hampir petang saat kakinya menapak pada tanah basah beraroma asam. Senja menyusuri jalan setapak, menuju lembah yang pernah ia kenal. Tanah merah yang basah dan licin, namun sepatu Senja cukup kokoh mencengkeram agar ia tak jatuh.

Sampailah Senja pada lembah yang sunyi, yang gelap ketika malam mulai tiba. Lembah yang pernah sangat ia kenal, lembah yang pernah berkali-kali jadi pengaduannya. Senja meletakkan ranselnya di atas sebuah batu besar, kemudian berbaring di atasnya menatap langit yang rupanya telah menggelap. Nyanyian air sayup-sayup terdengar bersahutan dengan suara jangkrik. Senja masih menatap kosong sampai akhirnya dia tiba, Kunang-kunang.

Senja serta merta terduduk, menatap terpesona pada Kunang-kunang yang lama tak ditemuinya, yang telah lama pula tak ditumpahi oleh keluh kesahnya. Senja terdiam pun Kunang-kunang, mereka terlalu lama tak berjumpa hingga menghadirkan jarak, jarak yang menciptakan rindu membeku jadi bisu. Senja segan untuk segera berkeluh seperti dulu, ia ragu apa Kunang-kunang masih setia mendengarkannya? Sementara Kunang-kunang terlalu takut untuk melihat wajah Senja menjadi muram meski ia selalu bersedia meminjamkan cahaya saat Senja mulai linglung.

Malam sudah semakin meninggi, Senja dan Kunang-kunang terbuai dalam diam sementara bintang beramai-ramai memperhatikan mereka. Senja masih terpesona pada Kunang-kunang yang mengitarinya, membisu tanpa tahu harus merangkai kata apa untuknya. Kunang-kunang masih terus mengelilingi Senja padahal sebenarnya ingin mendekat pada wajah Senja untuk memastikan ia tak menangis.

Fajar sudah hampir tiba, Senja dan Kunang-kunang mulai gelisah tersadar mereka terlalu banyak saling mendiamkan. "Katakanlah sesuatu Kunang-kunang, apa kau masih akan setia mendengarkanku?" Senja hampir terisak saat membisikkannya, ia berlomba dengan waktu yang sebentar lagi menyembunyikan Kunang-kunang. Benar saja, fajar perlahan tampak. Senja hampir saja menangis sejadi-jadinya saat Kunang-kunang berkata mesra "Jangan menangis Senja, aku tak akan kemana-mana aku akan selalu setia disini untukmu."

Beberapa menit kemudian Senja terbangun dan mendengarkan alunan lagu, masih lagu yang sama.

"....tentang kau dan hujan, tentang cinta kita, yang mengalir seperti air....." (Hujan-Utopia)

21 Januari 2015
Cerita tentang Senja dan Kunang-kunang.
SN

foto: google

Kamis, 15 Januari 2015

S A L A H



Sudah berapa kali ya saya salah? Sering rasanya. Dalam hal apa? apa saja. Saya pernah salah dalam mengambil sikap, salah memutuskan sesuatu, salah semasa kuliah ataupun salah dalam pekerjaan, dan masih banyak salah-salah lain yang tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Misalnya seperti pada suatu hari saya berkutat dengan excel selama setengah hari kerja saya. Ada yang janggal pada hasil akhir worksheet saya saat dicocokkan dengan sistem. Setengah hari yang membuat saya terlambat menikmati rutinitas minum kopi. Rupanya kesalahan kecil berdampak pada worksheet saya yang menggunakan formula yang saling berhubungan. Sederhana, kesalahan rumus cell yang berdampak pada keseluruhan.

Kesalahan juga kadang terjadi dalam mengambil sikap, kadang kala saya marah untuk hal-hal yang justru sebenarnya baik untuk saya. Kadang, saya juga menganggap saya salah memutuskan sesuatu, sehingga belakangnya saya akan bilang "coba tadi milih A bukan B" atau menggerutu untuk melampiaskan penyesalan dalam mengambil keputusan.

Dalam hal cinta? Lho ada yang bilang katanya "Cinta Tak Pernah Salah". Benarkah? Saya pernah salah dalam cinta, salah mengartikan apa itu cinta. Salah membedakan antara cinta dan keinginan. Atau mungkin juga salah memaksakan cinta pada saat yang tidak tepat.

Kesalahan-kesalahan saya dalam kehidupan secara garis besar terlalu banyak untuk dirinci, diruntut. Tidak semudah merinci dan meruntut laporan keuangan ke dokumen sumber. Di balik semua kesalahan-kesalahan itu, ada sisi positif pula rupanya yang menuntun kepada sesuatu yang benar atau sesuatu yang lebih tepat bagi saya. Misalnya saya salah memasukkan formula pada excel saya, tapi saya belajar mencari sumber salahnya dan memperbaikinya. Saya salah karena memilih A tapi saya memiliki kesempatan menjalani pilihan B, opportunity cost dimana untuk mendapatkan sesuatu saya harus mengorbankan sesuatu pula.

Pada akhirnya setiap kesalahan yang saya lakukan memberi pelajaran bagi saya, karena pernah salah bisa jadi guru terbaik untuk kita melakukan hal yang benar.

Tulisan ini tidak memiliki acuan seperti apa salah dan benar, semua tergantung pada asumsi dan pandangan setiap individu. Hari saya temukan kata-kata "Terkadang, salah dan benar hanya dipisahkan oleh sesuatu yang tak pernah ada." (Pritoyo Amrih).

Foto: google

BSD, 15 Januari 2015
SN

Minggu, 04 Januari 2015

SELAMAT ULANG TAHUN PAPA



Beberapa menit lagi menjelang pergantian tahun, aku masih terjaga dengan mata segar. Memantau kucingku yang meringkuk ketakutan di bawah meja makan. Rupanya suara-suara mercon dan kembang api membuatnya sedikit kebingungan, ia diam bahkan saat aku menggendongnya dan membawanya ke kamarku tak ada pemberontakan darinya seperti biasa. Malam tahun baru mungkin tak meriah buat seekor kucing.

Tahun baru? Ah iya ini pergantian tahun sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya ada hal yang lebih penting bagiku dibanding pergantian tahun. 1 Januari, menurut kalender masehi adalah tanggal pertama di setiap tahun. Tapi bagiku, 1 Januari lebih dari itu. Ini bukan soal pesta kembang api yang menurut sebagian orang romantis, bukan pula tentang acara barbeque yang ramai.

Malam itu hujan berkepanjangan sejak sore, baru mereda mendekati pukul sebelas malam. Maka saat itulah pula suasana jadi begitu ramai di kompleks perumahanku, apalagi di jalan raya ya? Aku? aku cukup di rumah saja, memantau kucingku dan menunggu tepat pukul dua belas malam.

Tepat pada pergantian tahun, saat suara kembang api gegap gempita saat itu lah aku memanggil Papa dan mengucapkan "Papa, selamat ulang tahun" sembari memberi bingkisan sederhana yang mudah-mudahan berguna. Terasa kikuk sejenak, mengingat mungkin ini pertama kalinya lagi setelah bertahun-tahun aku tak mengucapkan kalimat itu dan memberi bingkisan secara langsung. Tapi selanjutnya, kami sama-sama paham bahwa kami sedang merajut kemesraan yang tak orang lain paham.

Selamat ulang tahun, Papa. :)

BSD, 1 Januari 2015