Senin, 14 Juli 2014

SENI MEMELIHARA HEWAN (KUCINGKU RAMI)

Banyak hewan yang bisa dijadikan peliharaan, mulai dari kucing hingga ular. Menurutku setiap orang pasti memiliki alasan memelihara hewan tertentu. Tulisanku kali ini mungkin akan lebih banyak bercerita mengenai seni memelihara kucing, karena saat ini aku memelihara seekor kucing. Ia mungkin bukan kucing pertama yang ku pelihara, tapi ia adalah kucing pertama yang aku pelihara sejak kecil secara sendirian. Kucing ini aku dapat dari seorang rekan kerja dan diberikan padaku saat ia berumur kurang lebih satu setengah bulan. Kucing ini kemudian aku beri nama Rami. Rami berwarna hitam dengan sedikit sekali keabu-abuan pada bulunya. Sejak Rami datang, kamar kostku pun berubah, hampir setengah kamar kujadikan ruang untuknya. Tempat buang air dan tempat makan minum aku tata dengan beralaskan koran yang secara rutin kuganti tiap minggu. Rupanya cukup repot memelihara kucing yang masih kecil, hari pertama di kostku Rami pipis di atas kasurku sehingga aku tidur tanpa seprai. Aku pikir mungkin itu tanda perkenalannya pada rumah barunya sekaligus ingin menunjukkan daerah kekuasaannya padaku, hahahaha. Hari kedua di kostku, sepulang kerja ku rebahkan badan di atas kasur yang masih tanpa seprei. Aku mencium bau kotoran yang begitu dekat, ternyata ketika ku lihat, taraaaaaaaaa!!!!! ternyata Rami pup di atas kasurku, kali ini akhirnya aku harus mencuci dan menjemur kasurku, alhasil aku tidur di lantai menggunakan sleeping bag macam sedang camping saja. Rami diare, besok-besoknya dia pup dimana-mana padahal sudah disediakan pasir. Jadi kerjaanku setelah pulang kantor adalah ngepel kamar kostku dan nyebokin Rami karena mencretnya nempel di sekitar pantat dan ekornya, udah kayak anak pokoknya, hahahhaha. Pernah juga aku heboh banget gara-gara Rami mencret berdarah, masak sih Rami muntaber? hehehehe. Ternyata itu karena Rami belum minum obat cacing, kayak aku kecil aja dulu minum komba*trin. :p

Selain hal itu ternyata ada masalah lain, Rami kutuan!!!!! setiap hari Rami menggaruk-garuk dan menggigit-gigit badannya. Jadi, aku belikan Rami bedak kutu untuk kucing, mungkin fungsinya semacam peditox pada rambut manusia. Aku bahkan menjaga Rami selama setengah jam setelah pemakaian bedak, agar ia tidak menjilat badannya. Lagi-lagi selain kutu ada masalah lagi, Rami jamuran!!!!! Wkwkwkwk. Aku mulai menyadari ketika melihat dia semakin sering menggaruk kupingnya, ku perhatikan kulit telinganya menebal dan membercak putih. Kemudian di kaki sebelah kirinya pun muncul "pitak" bulunya rontok di bagian "pitak itu". Aku beliin Rami salep jamur, susah banget ngolesin ke kuping sama kakinya, tiap liat aku pegang salep, Rami langsung lari ngibrit. hahahahha. Rami aku bawa ke petshop buat diperiksa karena aku takut dia kena penyakit scabies, petshop pertama bilang itu cuma jamur biasa tapi aku nggak percaya jadi aku bawwa ke petshop kedua, disana Rami bener-bener diperiksa dan hasilnya Rami kenascabies dan langsung disuntik scabies saat itu juga. Pas nyuntik, dokternya megang pantatnya, aku pegang kepalanya sambil ngajak Rami ngomong (kayak orang gila ya? atau kayak orang tua lagi bujukkin anaknya yang suntik imunisasi di pantat? wkwkwkwk)

masalah diare, kutu dan jamur kelar. Soal makanan? awalnya aku kasih dia makanan kucing yang sering ada di supermarket, sampe si Rami bosen terus aku ganti pake yang repack, harganya lebih murah dan dia suka banget mungkin ngerti kali ya sama keadaan keuanganku :p. Tapi makanan Rami kemudian aku ganti dengan yang lebih bagus dan harganya lebih mahal, karena aku dengar makanan yang sebelumnya kurang bagus. Yah nggak papalah demi hewan peliharaan kita. Jadi inget cerita temenku yang pelihara kucing juga, pas lagi ditinggal orang tuanya ke luar kota, dia cuma pegang lima puluh ribu, makanan kucingnya abis, akhirnya Rp 48.000 dibeliin makanan kucing sisanya dia beli mie instan, duhh segitunyaaaaaa. hihihihihhhhhh.Ada lagi temenku yang cerita, kucingnya gendut, pas aku tanya dikasih makan apa dia jawab "makanan kering, ikan rebus, sama susu setiap hari" pantes ajaaaaaaaa. hahahahah.

Oh iya ada lagi nih cerita soal kamar yang berantakan gara-gara Rami lompat sana lompat sini, lari sana lari sini. Barang-barang yang ukurannya kecil suka ilang tiba-tiba terus ketemu di bawah lemari atau rak. Terus ada lagi, tiap pulang ke kost aku pasti refleks bilang "hallo Rami, lagi apa, makannya abis nggak?" --> tanda-tanda gila bukan ya? hahahha. tapi kayaknya sebagian besar orang yang pelihara hewan kayak gitu deh (suka ngomong sama peliharaannya). Temen-temen kostku bilang "Kamu pelihara kucing udah kayak anak aja" :p

Banyak banget cerita tentang hewan peliharaan, itu sebagian ceritaku sama Rami. Yah gitu deh salah satu memelihara hewan, dalam tulisan ini kucingku si Rami. hihihihih :D

Jumat, 24 Januari 2014

PELAJARAN DARI SEPASANG WEDGES BERHAK TUJUH CM



Hari itu, akhirnya ku kenakan sepatu wedges berhak tujuh senti meter itu. Sepatu itu sudah ku beli hampir sebulan yang lalu. Pada dasarnya aku adalah perempuan yang jauh dari kata feminim. Jika ada skala satu hingga sepuluh, mungkin hampir seluruh orang yang mengenalku akan member nilai pada angka dua hingga empat. Ya, sejak dulu dengan gaya berbusana yang simple, celana jeans dan kaos dipadukan dengan sepatu kets atau sandal jepit dalam keseharianku. Paling mentok aku memakai flat shoes yang tidak terlalu ribet buatku Bahkan saat kuliah, aku selalu sedia sandal di dalam tas, sehabis kelas usai aku langsung mengganti sepatu yang ku kenakan dengan sandal. Begitu pula saat bekerja. 

Dengan sepatu wedges berhak tujuh sentimeter aku muncul di lobi kantor, menyapa beberapa rekan kantor yang kemudian mulai heboh dengan reaksi mereka melihat sepatuku. Seperti tidak percaya bahwa seorang aku bisa mengenakan sepatu yang jauh dari kriteriaku. Menanggapi reaksi mereka, hanya tertawa sambil sesekali balas mengejek pada mereka yang bercanda mengejekku.



Siangnya, aku dan rekan kerjaku pergi ke rumah makan dekat kantor. Sudah hampir lima jam sepatu itu tak lepas dari kakiku, rasanya kaki hingga pergelangannya pegal, mungkin karena aku tidak terbiasa menggunakan sepatu semacam itu. Sambil menyapa ibu penjual makanan, aku berkomentar tentang sakitnya kakiku. Ketika aku berbalik ke belakang menuju meja makan, aku lihat seorang bapak yang duduk dengan memegang tongkat. Seketika aku diam, duduk di mejaku menunggu pesanan datang. Bapak itu dengan tongkatnya kemudian berdiri, membayar pesanannya dan berjalan dengan tongkatnya.

Astagfirullah.. Aku masih terdiam, meski tak tahu saat berkomentar tentang kakiku, aku merasa tidak enak hati. Dalam hati, aku meminta maaf pada bapak itu, meminta maaf pada diriku sendiri. Merasa lebih bersyukur, dan wedges yang ku kenakan hari itu memberi hikmah dalam sepenggal kisah kehidupanku.

Januari 2014

Kamis, 09 Januari 2014

MERAMU KEMESRAAN, MERACIK KEBERSAMAAN DI BUKIT BESAR DAN SERELO




Tebing Bukit Besar dan Serelo, aku mengenal keduanya ketika masa studiku di Palembang. Bukit Besar dan Serelo, merupakan dua buah bukit yang terletak di Sumatera Selatan, tepatnya di Kecamatan Merapi Barat, Lahat. Kali pertama aku kesana awal tahun 2008. Berangkat dari Palembang menuju Lahat memakan waktu selama kurang lebih enam sampai delapan jam dengan menggunakan kereta. Turun di stasiun Banjarsari, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sukamerindu selama satu hingga dua jam. Desa Sukamerindu merupakan salah satu desa dari beberapa desa yang berada di Kecamatan Merapi BaratKali pertama menginjakkan kaki disana, kesulitan yang paling ku alami adalah bahasa, dimana ada beberapa bahasa yang tidak kupahami.

Agenda berkunjung ke Bukit Besar dan Serelo selanjutnya menjadi agenda rutin setidaknya sekali dalam setahun bersama rekan sekaliggus saudaraku di sebuah organisasi mahasiswa pecinta alam. Lokasi paling menyenangkan di Bukit Besar berada di sebuah tebing dengan batuan andesit, tahun 2008 adalah kali pertama pula aku memanjat tebing alami. Pada lokasi tebing ini, terdapat air terjun dan sungai yang jernih. Setiap kali aku dan rekan-rekan berkunjung kesini, kami selalu menikmati nyanyian air tebing di tengah-tengah hangatnya kebersamaan yang kami ramu. Lokasi ini pula yang menjadi tempat favorit kami untuk mandi, selain karena airnya yang jernih dan sejuk, sungai ini memiliki panorama yang begitu alami dan menetramkan jiwa.

Untuk menuju bukit Serelo, biasanya kami menyebrangi sebuah sungai besar yang jika hujan airnya mengeruh menjadi coklat seperti kali. Di lokasi ini, terdapat banyak lintah dan pacet. Pertama kali aku menemukan seekor pacet yang tengah asik menghisap darahku, aku hanya teriak-teriak memanggil rekan satu pendidikanku sambil berseru “apa ini?”. Rekanku yang asli orang Palembang dan sepertinya biasa melihat pacet hanya menghapiriku sambil berkata “tenang, kalau sudah kenyang nanti dia lepas sendiri, atau kamu taburin aja kopi atau abu rokok”.
Ada sebuah pondok dan lahan di tepi sungai tersebut tempat kami beristirahat. Hal yang paling malas ku lakukan di tempat ini adalah mandi, selain airnya yang kotor, pacet dan lintah jadi alasanku untuk memilih tidak mandi disini. Sah-sah saja kan tidak mandi di dalam hutan? Hehehehe. Pernah suatu ketika, ada salah satu rekan yang digigit lintah dan mengalami demam semalaman. Meskipun dengan kondisi lokasi yang seperti itu, suasana kebersamaan selalu hadir di tiap langkah perjalanan kami. Saling membantu dalam kegiatan yang panjang dan memakan tenaga yang tidak sedikit. Belajar saling memahami dengan keterbatasan alam yang mengajarkan kami banyak hal dalam kehidupan.
Berangkat dari pondok tersebut, di bukit Serelo juga terdapat sebuah pondok di tengah sawah yang asri. Letaknya di lembah yang begitu indah, dengan kunang-kunang sebagai bonus cahaya pada malam hari. Meski tubuh lelah dan lengket, di tempat ini setidaknya kami terhibur oleh adanya pancuran air di tengah sawah untuk mandi. Selain itu di tengah sawah terdapat sebuah batu besar yang dapat dinaiki, disana aku dan rekan-rekan biasa menghabiskan malam ditemani nyanyian jangkrik, kunang-kunang, sembari menatap langit yang begitu luas. Ini merupakan tempat terindah yang sangat menenangkan jiwa dari kepenatan kota yang begitu sumpek.

Bukit Serelo, memiliki tebing pada puncaknya yang disebut Kedaton. Meski Bukit Serelo tak memiliki ketinggian setinggi gunung-gunung, namun pemandangan dari tepi Kedaton sungguh luar biasa. Dari sana terlihat kota Lahat beserta sungai Milang . Jalur mencapai Kedaton cukup menyebalkan karena licin dan hanya menyediakan akar-akar kecil serta ilalang sebagai pegangan, tak jarang dalam perjalanan turun kami begiru sering terpeleset dan mengotori baju kami.



Bukit Besar dan Serelo, keduanya memberi kisah dan kenangan yang begitu dahsyat dalam hidupku. Awal sebuah persaudaraan yang terikat tanpa ikatan darah. Sebuah pembelajaran untuk memahami banyak hal, banyak orang, dan begitu banyak konflik.
Bukit Besar dan Serelo, tempat kita meramu kemesraan, meracik kebersamaan. Menjadi hangat dan penuh rasa.

Jumat, 27 Desember 2013

PEREMPUAN SENJA

Langit memerah seiring matahari mulai menggelincirkan dirinya ke barat. Perempuan itu masih diam di tempatnya. Sembari menatap langit, dihirupnya angin senja. Senja selalu punya ruang dalam dirinya, untuk dinikmati, dikagumi, sekaligus ditangisi. Ia menghela, letih.

Ingin ia berharap senja lebih lama , namun nyatanya senja adalah perbatasan yang sangat sempit. Pertemuan antara senyum dan tangisnya. Matanya masih terpaku menatap langit, memandang senja. Matanya turut pula memerah, menahan hujan yang siap turun kapan saja.

Baginya, senja adalah dua sisi. Ia mampu tersenyum tapi sekaligus menangis karenanya. Sekali lagi ia menghela, pandangannya menurun, dagunya berpangku pada lutut. Ia tak sanggup melihat langit, ketika senja mulai menjadi muram, menjadi gelap.

Ia masih diam, menghirup angin senja yang menjadi dingin. Tubuhnya mulai meringkuk, memeluk erat malam. Ia telah menciptakan hujan. Saat itu pula ia menjelma, perempuan senja pada sisi malam.

Yogyakarta, 27 Desember 2013

PEREMPUAN HUJAN

Ia masih disana, tangan kanannya sibuk menekan tombol mouse, pandangannya lurus mengeja huruf dan angka yang berderet. Ia disana tapi tak disana. Ia memandang, kosong. Seolah jari-jari tangannya bergerak tanpa komando.

Sesekali ia terhenti, diam, gamang. Ia lelah, sungguh, dari dalam dirinya seakan ingin melawan tapi ia jatuh. Ia ingin percaya bahwa ia mampu meski tertatih. Hey, ia bukan seperti yang lainnya bukan? Ia hanya ingin tak dilewatkan.

Ia kembali menyibukkan diri, bahunya mulai menurun, memaksa bersandar. Matanya sayu, semakin kosong. Ia tahu persis apa yang diinginkannya, tak ada yang lain. Ia tahu persis pundak mana yang diharapkannya mampu menopang beratnya, sebentar saja.

Ia pun hanya perempuan biasa. Bisa jatuh meski sanggup berlari, bisa hujan meski kemarau panjang. Ia tak bisa menolak, tak kuasa berontak. Seketika ia menjelma. Sudah terlalu letih, sudah merapuh, pertahanan terakhirnya mulai longsor. Ia menjelma, perempuan hujan siang itu.

Yogyakarta, 26 Desember 2013.

Kamis, 12 Desember 2013

A M N E S I A



Aku mengingat, lebih tepatnya berusaha mengingat, nama belakangmu.
Aku lupa, lebih tepatnya mungkin aku tak tahu, tanggal lahirmu.
Otakku masih kupaksa bekerja lebih keras, aku mulai tertekan.
Ingatanku terus kupaksa mengulang, apa aku amnesia?
Tak ku temukan selembar dokumen pun yang merujuk padamu.
Kemana mereka? Foto-foto itu, ingatan-ingatan itu.
Tak kutemukan!
Benarkah amnesia?
Atau memang semua terjadi terlalu singkat?
Dalam waktu yang tak lama.
Ingatanku sudah hampir pada titiknya.
Aku tak mampu mengingat banyak.
Tragis, berdosakah aku?
Sungguh, ingin sekali aku mengingat.
Bahwa tanganku pernah kau tuntun.
Bahwa aku pernah memanggil namamu.
Saat mereka sibuk bercerita, maka aku diam.
Namun aku percaya,
Dua puluh tahun lalu,
Aku pernah ada dalam dekapanmu.
Tertidur pulas dalam tangan-tanganmu yang kokoh.
Yogyakarta, 12 Desember 2013.
Untuk yang Tercinta dalam Peristirahatannya

Kamis, 21 November 2013

PURNAMA, TOLONG LEBIH LAMA.



Ia duduk di tepi sebuah kursi panjang, siang telah digantikan malam. Nafasnya dihela dengan panjang, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu diucapnya. 

Malam itu purnama, ia tahu tak boleh berharap lebih selain memandangnya. Seandainya bisa, ia ingin agar malam biarkan purnama lebih lama. Ingin ia katakan "Matahari datanglah lebih lambat esok pagi".

Ia menatap orang di hadapannya, tangannya digenggam tapi ia enggan berucap. Ia tak ingin semua berhamburan. Tapi kediamannya telah menimbulkan pertanyaan. Apa yang akan ia jawab?

"Lihat! Purnamanya bagus sekali." Setengah berteriak ia berkata. Hanya itu yang bisa dikatakannya. Malam itu cerah. Dalam hati ia berbisik, haruskah ia bersyukur atau mengutuk hujan yang tak datang malam itu.

Diliriknya jam di pergelangan tangannya, sudah lewat jam dua belas malam. Hari dan tanggal pun sudah berganti, tapi ia masih diam, sungguh ia bingung dan membuat orang di hadapannya turut bingung. Mereka menyantap makan malam yang kesiangan dengan lebih banyak diam.

Ia tersadar ia tak boleh berharap lebih, ia tersadar purnama makin turun ke barat. Adakah orang di hadapannya tersadar?

"Pagi, tolong jangan datang dulu." Doanya. Waktunya habis di sudut kedai dengan kisah yang mengingatkan luka. Ia tahu pasti purnama di langit sana begitu indah, sayang tak dapat dinikmatinya.

Ia hanya berusaha mengerti, bisa melihatnya dan tertawa saja sudah cukup, ia sadar, tak boleh berharap lebih. Purnama tertutup mendung, tolong muncul lagi, jangan biarkan matahari cepat datang, kali ini saja. Ia tau, ia egois dan itu hampir mustahil.

Yogyakarta, November 2013