Senin, 25 Juli 2016

CIKURAY: 17 AGUSTUS 2015

Dinar Bayu, namanya. Teman yang saya kenal di basecamp pendakian Gunung Lawu pada November 2011 silam, ketika saya baru tiba sementara ia dan temannya baru saja turun dari pendakian. Seminggu sebelum perayaan hari kemerdekaan RI, Dinar menyapa saya lewat bbm untuk mengajak ke Gunung Cikuray pada tanggal 15-17 Agustus 2015. Saya yang belum bisa memastikan akan ikut atau tidak, belum memberinya kepastian hingga H-2 keberangkatan. Hingga Dinar berkata "Aku udah bilang temen-temenku lho kamu mau ikut.". Jadilah saya bergabung dengan pendakian mereka dan berangkat dari Serpong menuju Pasar Rebo pada sabtu malam (15 Agustus 2016). Di Pasar Rebo saya bertemu dengan Dinar dan tiga orang temannya yang kemudian saya kenal bernama Rendra, Rival (Bambang), dan Bewok (Ari). Kami kemudian menuju terminal Kampung Rambutan untuk naik bus tujuan Garut dengan tarif Rp 60.000.

Pemandangan dari Basecamp. Pic taken by: Dinar
Kami tiba di Garut sekitar pukul empat subuh, kemudian sarapan (bisa dibilang mungkin sarapan yang kepagian atau makan malam yang kepagian) dan melanjutkan perjalanan menuju pos pemancar. Sekitar pukul setengah enam pagi kami sudah berada di basecamp pemancar dan bersiap untuk mendaki. Pendakian dimulai pada pukul tujuh pagi dan berhenti setelah satu jam perjalanan untuk sekedar ngopi dan berkelakar. Baru kemdian pukul setengah sepuluh kami melanjutkan perjalanan kembali, ukuran yang sangat santai untuk sebuah pendakian hehehe. Hari itu jalur pendakian sangat ramai mengingat bertepatan dengan momen perayaan hari kemerdekaan dimana banyak pendaki yang ingin melakukan upacara di gunung. Saya yang baru pertama mendaki Gunung Cikuray cukup terkejut dengan jalurnya yang "aduhai" (baca: luar biasa nanjak), untunglah empat lelaki itu cukup pengertian dan santai berjalan sehingga saya tidak terlalu sulit mengimbangi. Semakin jauh mendaki, antrian di jalur pun semakin ramai akhirnya kami memutuskan untuk camp di pos 4. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya naik gunung bertepatan dengan acara 17 Agustus-an.


Ramainya Pendaki
Saat kami memutuskan untuk mendirikan tenda jam baru menunjukkan pukul dua siang. Kami memasak, makan dan bahkan sempat "bobok siang" sebentar. Menjelang senja, kami bangun dan duduk-duduk di depan tenda, Dinar yang membawa guitalele mulai menunjukkan keahliannya sementara yang lain mengikuti dengan bernyanyi. (Saya sampai bbm bang Dinar untuk memastikan nama alat muski tersebut). Setelah makan malam, dua orang pendaki lain bertamu ke tenda kami. Kami mengobrol dan masih ditemani alunan musik dari guitalele yang dimainkan bergantian. Hampir pukul dua belas malam ketika semua personil memutuskan untuk masuk ke tenda. Sebelum tidur, bang Rendra sempat menanyakan kepada saya yang baru pertama kali ke Cikuray "Mba, lu besok subuh mau muncak nggak? ntar gw temenin." Sepertinya bang Rival dan Bewok tidak berniat untuk muncak. Saya sendiri yang melihat jalur pendakian sangat ramai akhirnya menjawab "Nggak ah, kita kemcer (red: kemping ceria) aja disini.", saya memang tidak berniat untuk muncak karena tujuan kali ini adalah sekedar menikmati suasana jauh dari hiruk pikuk ibu kota.
Masak dan Makan Siang di Pos 4
Kuliah Umum hehehe :p
Kami membawa dua tenda berkapasitas masing-masing 2-3 orang. Saya, bang Dinar, dan bang Rival berada dalam satu tenda sementara bang Bewok dan Rendra di tenda lainnya. Saya baru benar-benar terlelap sekitar pukul setengah dua dini hari, dan merasa ada yang membangunkan dari luar tenda menanyakan apakah saya mau ikut muncak. Setengah sadar saya menjawab dalam hati "kan kemaren gue udah bilang nggak pengen muncak.", entahlah itu hanya mimpi atau memang ada yang membangunkan saya sendiri tidak tahu. Paginya pukul setengah tujuh kami sudah memasak dan sarapan, kemudian mengobrol dan lagi-lagi berkelakar. Sekitar pukul dua belas kami melanjutkan perjalanan turun menuju basecamp dan tiba disana sekitar jam dua siang. Beristirahat sejenak lalu langsung mencari angkutan menuju terminal Garut untuk  menyambung bus ke Jakarta. Bang Rizal, Bambang, dan Rendra turun di Bekasi sementara saya dan bang Dinar turun di terminal Kampung Rambutan pada pukul setengah dua belas malam. Karena sudah terlampau malam dan angkutan ke BSD (Serpong) sudah tidak tersedia, akhirnya saya menggunakan jasa transportasi online dan tiba di rumah pukul dua dini hari. Tidur selama tiga jam kemudian bersiap untuk berangkat kerja. Kadang liburan singkat dan santai seperti ini sangat dibutuhkan bagi kuli kantoran seperti saya.

Di Jalur saat Turun ke Basecamp
Satu kata: Ngebul
Ini perjalanan saya yang paling santai dan banyak ketawa. Sebenarnya mungkin sejak awal kami memang tidak berniat untuk ke puncak, yang kami butuhkan adalah suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota, beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan. Setiap perjalanan punya kisahnya masing-masing, tertawalah bahkan jika kau membawa perasaan terluka. Karena kau selalu berhak berbahagia.

"Berjalanlah lebih jauh, kau akan selalu menemukan dirimu"

SURYA KENCANA: KARENA TUJUAN SETIAP PENDAKI ADALAH PULANG DENGAN SELAMAT

Selalu banyak cerita yang dituliskan tentang bagaimana mencapai puncak gunung, tapi juga selalu ada kelayakan untuk menceritakan tentang bagaimana "gagal" mencapai puncak. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya tidak berhasil muncak, sebelumnya hal itu pernah saya alami juga dan mungkin akan saya ceritakan di tulisan berikutnya. Kali ini saya akan menuliskan cerita tentang mencapai puncak Gunung Gede yang tertunda dan hanya sampai Surya Kencana.

Rencana pendakian berawal dari ajakan Edika yang disambut antusias oleh Lia yang baru akan pertama kali mencoba mendaki gunung. Karena status kami bertiga yang notabene adalah kuli kantoran, maka setelah banyak pertimbangan kami memutuskan untuk ke Gunung Gede via putri. Personil awal yang berjumlah tujuh orang berkurang dua yang mendadak batal karena sakit dan ada keperluan mendesak. Tapi mendekati keberangkatan, personil justru bertambah enam orang karena bergabung dengan teman dari Depok dan Bogor, sehingga total berjumlah sebelas orang. Setelah mengurus simaksi yang cukup "ribet" dan bawel ke semua anggota tim soal peralatan dan perbekalan, akhirnya Jumat malam tanggal 15 April 2016 kami berangkat dari Serpong ke Gunung Putri. Perkiraan saya yang meleset tentang jadwal rutin "bulanan" sempat menggoyahkan tekad saya untuk tetap berangkat, maklum hari pertama dan kedua di siklus tersebut kadang bisa menjadikan mood kurang stabil, beruntunglah para lelaki yang tidak mengalami hal itu. Namun karena keinginan dan terlanjur janji kepada Lia untuk mengajak dia naik gunung, kembali membulatkan tekad saya untuk tetap berangkat. Tim berangkat dari Serpong berjumlah lima orang yaitu Edika, Lia, Mahmud, Evi dan saya. Berangkat dari Serpong pukul 22.00 kami tiba di simpang Cipanas sekitar pukul 02.00 dini hari karena sebelumnya mampir di Cibubur untuk bergabung dengan dua orang teman dari Bogor yaitu Lukman dan Samsul. Di Cipanas sudah menunggu Vina dan timnya yaitu Riki, Dede, dan Kris. Kemudian dari sana kami naik angkot menuju basecamp Gunung Putri untuk beristirahat sebentar dan melapor ke pos GPO sebelum melakukan pendakian. 
Setelah Melapor di GPO dan Bersiap Memulai Pendakian
Sabtu, 16 April 2016
Sekitar pukul 07.00 kami sudah berada di pos GPO dan mulai mendaki sekitar pukul setengah delapan. Pendakian dilakukan dengan santai, satu jam perjalanan seorang teman mengalami muntah-muntah mungkin karena kaget karena jarak waktu makan dengan mulai pendakian terlalu sebentar. Karena hal tersebut akhirnya tim dibagi dua. Tim pertama adalah Edika, Lia, Mahmud, Evi, Samsul, Lukman dan saya. Sedangkan tim kedua terdiri dari Vina, Riki, Dede, dan Kris. Kami sepakat untuk bertemu di Surya Kencana (Surken) dan mendirikan tenda di dekat jalur menuju puncak Gede. Dalam perjalanan selanjutnya tim pertama yang berjalan lebih dulu pun terpecah lagi menjadi tiga. Samsul yang paling depan rupanya sudah tiba di Surken sejak pukul 13.00. Sementara kami di belakangnya yang sempat beristirahat untuk makan mie instant, terjebak hujan yang menderas. Karena hujan yang sepertinya belum menandakan akan segera reda, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mengenakan jas hujan. Mahmud, Lia, dan saya tiba selanjutnya di Surken sekitar pukul 15.00. Kami memutuskan untuk menunggu Edika dan Evi yang tiba setengah jam kemudian. Sekitar pukul 16.00 kami menyusuri padang edelweis untuk menuju lokasi camp. Sesuai koordinasi awal kami memilih lokasi dekat dengan jalur menuju puncak dan agak masuk di balik rerimbunan pohon untuk menghindari angin yang terlalu kencang. Kami kemudian berbagi tugas mendirikan tenda, memasak dan menata perbekalan. Sekitar pukul 18.30 kami sudah selesai makan dan duduk-duduk santai di dalam tenda saat salah seorang dari kami mendengar ada yang meneriakkan nama saya berkali-kali. Kami awalnya mengira mungkin ada yang bernama sama karena saat itu Surken memang sangat ramai dengan pendaki. Namun setelah teriakan itu terus terdengar ditambah si peneriak menyebutkan nama panggilan saya dan asal daerah kami, akhirnya saya segera keluar tenda dan menuju padang edelweis untuk menyahut teriakan itu. Rupanya benar teriakan itu berasal dari Vina dan tiga teman lainnya yang baru saja tiba di Surken. Kemudian Riki, Dede, dan Kris segera mendirikan tenda sementara Edika, Vina, dan saya menyiapkan makan malam untuk mereka.

Lia Nurmalia, sesaat setelah sampai di Surken. Pendakian perdananya yang disambut hujan.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 saat semua orang mulai masuk ke tenda masing-masing, saya yang masih sibuk memasak silky puding mendengar Mahmud yang bertanya "eh lo kenapa? kok tidur nggak pake sb?" disusul dengan teriakan Edika yang bernada sama dan segera memanggil saya untuk masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda, salah seorang teman kami sedang menggigil kedinginan dan tangannya mengepal kaku. Ssementara yang lainnya sibuk menghangatkannya dengan sleeping bag, saya kembali keluar untuk memasak air panas. Vina pun segera masuk ke tenda setelah namanya dipanggil dan membantu menyadarkan teman kami dengan menampar-namparnya. Untunglah Vina sebelumnya pernah mengalami situasi serupa sebelumnya. Kami juga terbantu oleh bantuan tetangga yang memberikan thermal blanket. Tak lama teman kami sadar namun bicaranya seperti mengigau, mungkin dia berhalusinasi atau apa saya sendiri tidak paham. Akhirnya setelah membereskan silky puding yang baru hampir mendidih sempurna, saya ikut masuk ke tenda dan merasakan tenda tersebut sangat hangat. Kami mengusahakan untuk terus mengobrol agar teman kami tetap berada dalam kondisi sadar sampai keadaannya semakin membaik. Syukurlah sekitar pukul 22.30 keadaan sudah kembali seperti semula. Teman kami pun kami tempatkan tepat di tengah-tengah dengan balutan jaket dan sleeping bag yang paling hangat. Kemudian semua anggota tim beristirahat dengan tetap waspada. Pada pukul 00.30 kami terbangun karena teman kami kembali menggigil, untunglah tidak ada hal yang terlalu serius.
Samsul dan Saya yang sok sibuk motongin sayur buat sop.
Menu Makan Malam: Telur Balado, Kering Teri Tempe, Telur Dadar, Sayur Sop. Menu Sehat dan Lezat.
Edika, kepala chef kami yang akhirnya kesampaian masak telur balado di gunung.


17 April 2016
Pagi hari pukul 6, seluruh tim sudah bangun dan mendapati teman kami sudah kembali sehat. Alhamdulillah, kami mengucap syukur. Bagi saya sendiri ini adalah pengalaman pertama saya dimana salah satu anggota tim mengalami hal tersebut. Sesuai dengan pembicaraan semalam dengan Vina, kami mengumpulkan semua anggota tim untuk membahas rencana menuju puncak. Menurut Vina dan saya akan lebih baik jika kami mengurungkan niat untuk ke puncak, tetapi salah seorang dari tim juga memberikan pemahaman jika memang ada yang tetap ingin ke puncak silahkan tetapi harus benar-benar dalam kondisi fit sementara yang memutuskan untuk tidak ikut akan menunggu di camp untuk memasak dan packing. Saya sendiri menanyakan kepada Lia apakah tetap ingin ke puncak atau tidak, mengingat ini pengalaman pertamanya mendaki gunung. Lia sendiri memutuskan untuk tidak meskipun kondisinya cukup fit karena sejak awal memang berencana hanya sampai ke Surken. Hal yang saya salut dari dirinya karena tidak terobsesi pada puncak meski ini pendakian perdananya. Setelah diskusi penuh pertimbangan, akhirnya kami memutuskan bahwa tidak satu pun dari kami yang akan ke puncak. Rupanya keputusan tersebut tepat karena tak lama Surken pun kembali diguyur hujan yang belum juga reda hingga siang hari.
Riki dan Vina, mempersiapkan sarapan sehat: Melon.
Evi, Lukman, Saya, Lia, dan Samsul.
Vina Agustina, perempuan yang pertama kali saya kenal dan naik bareng ke Merbabu.
Vina dan Saya. Setelah pertama kali kenal dan naik bareng ke Merbabu, akhirnya bisa ketemu lagi sekaligus naik bareng.
Meskipun nggak jadi muncak tetep bisa narsis di Surken

Makan siang sebelum perjalanan turun.
Setelah makan siang dan packing, kami melanjutkan perjalanan untuk turun ke GPO kira-kira pukul 13.00. Anggota tim mengenakan raincoat karena hujan yang turun kembali padahal sudah sempat reda. Menjelang maghrib kami sudah sampai di GPO untuk melapor dan kemudian beristirahat di salah satu warung di Gunung Putri. Setelah makan dan mandi, kami menuju Cipanas kemudian mencari bis tujuan Kampung Rambutan, disana kami berpisah menuju rumah masing-masing mengingat kebanyakan dari kami adalah pegawai yang harus tetap masuk kantor Senin paginya.
Untung ada tongsis. Full team 11 orang.
Belakang: Dede
Tengah: Lukman, Lia, Evi, Kris, Edika, Samsul.
Depan: Vina, Riki, Saya, Mahmud

Surken, siang berkabut 17 April 2016.
Perjalanan turun, hujan dan dingin.

Di jalur saat turun menuju GPO.
Tetap narsis dan senyum meskipun diguyur hujan.
Perjalanan kali ini mengajarkan pada kami semua, untuk memahami kondisi rekan/teman lain serta mengendalikan ego diri sendiri. Mengajarkan kami bahwa pendakian tidak selalu tentang puncak, ada yang jauh lebih penting.

Tujuan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat.

Jumat, 22 Juli 2016

BANGKA BELITUNG: KESEGARAN MATA MEMANDANG

Siapa sangka akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di kepulauan Bangka Belitung. Bertolak dari Palembang setelah mudik dan mengikuti kegiatan tahunan Mafesipala, 30 Desember 2015 pagi saya berangkat sendirian ke Bangka menggunakan Kapal Sumber Bangka 6 dari Pelabuhan Boombaru Palembang. Perjalanan via laut dari Palembang ke Pelabuhan Muntok di Bangka memakan waktu sekitar empat jam. Tarifnya 345 ribu rupiah (termasuk tiket travel Pelabuhan Muntok ke Pangkal Pinang). Akibat dari update display picture bbm dengan foto kapal Sumber Bangka 6, beberapa teman saya chat menanyakan perihal "dimana, mau kemana, dan dengan siapa?". Saya pun sibuk membalas sekaligus menanyakan apa mereka punya kenalan/teman di Bangka. Saya sendiri awalnya belum tahu akan menginap dimana, sampai akhirnya Sabran (Nana) teman yang dulu saya kenal di Jogja ternyata sudah menetap di Bangka selama dua bulan. Kapal saya berangkat dari Palembang pukul tujuh pagi dan tiba di Pelabuhan Muntok tiga jam kemudian, kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Pangkal Pinang dengan lama perjalanan hampir empat jam. Selama perjalanan saya yang bingung dengan lokasi sekitar akhirnya bertanya dengan sang supir, beruntung supirnya ramah dan meyakinkan saya bahwa saya pasti akan diantarkan ke tempat tujuan dengan baik. Supir travel yang saya tumpangi ternyata bukan penduduk asli Bangka, beliau berasal dari Karawaci Tangerang dan sudah merantau di Bangka selama tiga tahun. Setelah diantarkan ke loket express bahari Bangka, saya pun dijemput Nana untuk mencari penginapan karena tidak memungkinkan menginap di rumah pamannya. Hari pertama di Bangka, saya hanya mengunjungi Pantai Pasir Padi untuk sekedar minum kelapa muda. Esoknya Nana mengantarkan saya ke Pantai Tanjung Pesona dan Puri Tri Agung yang tak jauh dari sana. Bagi saya yang seorang pegawai, bermain air di pantai mungkin adalah kesenangan yang langka, jadi harap maklum jika terkesan norak karena melihat pasir dan pantai. Hehehe.

Kapal Sumber Bangka 6

Pelabuhan Muntok Bangka
Menikmati Kelapa Muda di Pantai Pasir Padi
Hal yang tidak saya pertimbangkan sebelumnya adalah sulitnya mencari penginapan dan harganya yang bisa naik 100% saat malam tahun baru, berakibat pada bocornya budget perjalanan saya karena tarif penginapan yang mahal. Ditambah lagi sepulang dari Tanjung Pesona, saya terserang demam dan flu tepat pada malam pergantian tahun baru. Untunglah tengah malam Nana masih menyempatkan untuk mengantar obat ke penginapan setelah acara keluarganya selesai. Hari ketiga di Bangka atau tepatnya 1 Januari 2016, saya bertemu seorang teman lama yang menemani saya cari oleh-oleh untuk Papa. Sebenarnya saya berniat untuk menyebrang ke Belitung tetapi tidak ada jadwal penyebrangan pada tanggal 1 Januari. Dana yang mulai menipis membuat saya menghubungi teman-teman Mapala saya di Palembang untuk mencari siapa tahu ada teman mereka yang bisa ditumpangi untuk menginap semalam lagi di Bangka. Seorang teman seperjuangan malah sedikit marah dan khawatir karena saya nekat tetap ngetrip ke Bangka meski sendirian. Untunglah dengan bantuan teman seperjuangan lainnya yang menghubungi anggota Walhi Babel, malamnya saya menginap di sekretariat Walhi Bangka Belitung.
Pemandangan Pantai dari Puri Tri Agung
Pantai Tanjung Pesona
Karena kondisi tubuh yang kurang fit, saya sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan menuju Belitung dan kembali ke Jakarta saja. Bermodal sedikit nekat dan perjuangan mencari tiket promo, niat terbang kembali dari Bangka ke Jakarta saya urungkan Niat tersebut seketika batal karena memang keinginan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Belitung tiba-tiba menemui pencerahan saat saya menemukan tiket pesawat Bangka-Belitung hanya berkisar 200 ribu rupiah saja. Normalnya harga tiket pesawat untuk rute tersebut sekitar 200-400 ribu rupiah, tapi karena sedang musim liburan tiket pesawat Bangka -Belitung bisa mencapai 500-700 ribu rupiah. Jika menggunakan kapal cepat harganya sekitar 170-220 ribu rupiah dengan lama perjalanan 4-5 jam.

Senja di Pantai Tanjung Pendam seusai Hujan Reda
Salah Satu Sisi Pantai Tanjung Pendam
2 Januari 2016, setelah terbang selama setengah jam saya mendarat di bandara H.AS Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Tak ada teman, tak ada kenalan dan saya bingung harus kemana dulu. Saya sudah menghubungi salah seorang penyedia tour di Belitung via bbm namun baru sebatas tanya-tanya soal paket dan fasilitas, hanya saja saat tiba di bandara sinyal handphone saya tiba-tiba hanya bertuliskan sos, rupanya di Belitung belum ada sinyal provider tri, padahal handphone itu yang lebih sering saya gunakan. Untungnya sinyal indosat masih ada, hanya saat itu saya tidak paket internet di nomor tersebut, dengan sisa pulsa di bawah dua ribu saya menghubungi teman saya untuk isi pulsa dan mengaktifkan paket internet. Setengah jam lebih saya duduk di ruang tunggu bandara, mengobrol dengan bapak yang sibuk menunggu bagasinya. Bapak tersebut menawarkan untuk ikut dengannya naik travel menuju kota. Melihat saya sedikit ragu, bapak itu berkata "Tenang, saya rame-rame kok sama istri dan anak saya." ia terlihat cukup paham bahwa saya harus tetap waspada apalagi saya seorang perempuan dan sendirian. Permasalahannya lagi adalah saya belum tahu mau kemana. Dengan sopan saya menolak ajakan bapak tersebut dan mencari kontak penyedia tour di Belitung yang sebelumnya saya hubungi. Beliau sendiri kaget saya tiba-tiba sudah berada di bandara, karena memang saya belum menginfokan saya akan ke Belitung hari itu juga. Setelah bernegosiasi dan saya jelaskan bahwa saya sendirian dan tentunya saya tidak bisa membayar paket tour mereka yang memang didesain untuk trip minimal dua orang, beliau bersedia menemani saya dengan biaya ala kadarnya, sewa transportasi dan fee guide saja.

Hari pertama di Belitung saya menginap di hotel kelas melati dengan tarif di bawah 150 ribu rupiah. (Sebenarnya mungkin bisa lebih murah tapi sekali lagi, saya datang saat liburan tahun baru). Menikamti senja di pantai Tanjung Pendam sendirian kemudian malamnya saya dan teman baru saya (alias tour guide) berdiskusi soal jadwal dan biaya sambil menikmati secangkir kopi di Warung Kopi Kong Djie. Hari kedua meski hujan deras, saya dan teman baru saya tersebuit tetap melanjutkan rencana untuk ke Pulau Lengkuas. Jam delapan pagi, kami sudah berada di pantai Tanjung Kelayang untuk menumpang perahu menuju Pulau Lengkuas. Untuk menyebrang dari Tanjung Kelayang ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau sekitarnya, biayanya berkisar 450-600 ribu per perahu (bisa diisi sampai 6 orang). Meskipun habis hujan deras, tidak mengurangi keindahan warna laut pulau Belitung. Pulau Lengkuas adalah salah satu pulau yang jadi destinasi wisata di Belitung, di pulau tersebut terdapat mercusuar18 lantai dengan tinggi 65 meter. 

Informasi Mercusuar
Batu Garuda
Mercusuar Pulau Lengkuas
Pemandangan Pulau Lengkuas dari Atas Mercusuar
Pulau Kelayang
Pulau Gede Kepayang
Usai jelajah pulau, tujuan selanjutnya adalah pantai Tanjung Tinggi yang merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Kemudian teman saya mengantarkan saya ke rumah Desi untuk menginap. Rumah Desi berada di daerah Kelapa Kampit, Kab.Belitung Timur kurang lebih sekitar satu setengah jam dengan menggunakan motor. Fyi, Desi adalah seorang teman yang saya belum pernah bertemu sebelumnya. Saya bisa sampai menumpang di rumah Desi berkat bantuan Nana yang mengenalnya saat di Bangka. Keluarga Desi sangat baik dan ramah pada saya, malam pertama saya menginap ibunya memasak Gangan yang merupakan sup ikan dengan kuah kuning. Keluarga Desi memiliki peternakan ayam, sebelumnya mereka sempat berkebun juga menanam sayur-sayuran namun karena tidak ada yang mengurus akhirnya berhenti. Permasalahannya hanya satu saat menginap disana, sinyal handphone saya benar-benar hilang. Saya bahkan harus ke jalan besar untuk mendapatkan sedikit sinyal.
Pantai Tanjung Tinggi
Hari ketiga di Belitung (4 Januari 2016), Desi dan Bapaknya mengajak saya berjalan-jalan ke beberapa pantai di dekat Manggar serta ngopi karena Manggar terkenal dengan julukan Kota Seribu Satu Warung Kopi. Baru di Manggar lah sinyal handphone saya kembali normal, rupanya teman kantor saya yang khawatir karena saya tiba-tiba hilang kontak menghubungi saya hingga ke tour guide saya. Sayangnya saya tidak sempat mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata dan Sekolah Laskar Pelangi di Gantung. Bapak Desi mengajak kami mampir ke rumah langganan ayamnya. Kami mengobrol di pekarangan rumah, saya mengamati lingkungan dan masyarakat sekitar. Memang tidak terlalu jelas, tapi yang saya dengar bahasa mereka mendekati seperti bahasa Madura, "mungkin mereka perantau" pikir saya. Sepanjang perjalanan kembali menuju rumah Desi, dari dalam mobil saya melihat lahan-lahan yang rusak dan beberapa "danau-danau" yang menurut informasi dari Bapak Desi adalah bekas tambang. Sayangnya saya tidak sempat memotret karena mobil tidak berhenti.
Secluded Beach di Daerah Manggar
Pemandangan Sepanjang Jalan Manggar-Kelapa Kampit
5 Januari 2016, hari keempat di Belitung. Sesuai perjanjian teman saya menjemput saya ke rumah Desi. Rencananya hari itu kami akan mengunjungi danau kaolin tetapi gagal karena hujan deras sehingga saya hanya berkunjung ke museum dan mengobrol dengan pemilik angkringan yang rupanya berasal dari Malang. Pukul dua siang, teman saya mengantarkan ke bandara karena saya harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan terakhir pada pukul 04.15 sore.

Ini adalah perjalanan yang spontanitas, tanpa itinerary atau rincian destinasi wisata, tapi saya menikmati perjalanan ini. Selalu ada banyak pembelajaran dari setiap perjalanan. Ayah saya sendiri pun baru mengetahui saya pergi sendirian ke Bangka dan Belitung saat saya mendarat di Belitung. Beliau sedikit marah dan sepertinya banyak khawatir, hehehe. Selama perjalanan saya bertemu banyak orang, melihat dan mengenal hal baru. Traveling sendirian mungkin menghadirkan rasa takut, tapi saya belajar untuk mengatasinya. Traveling sendirian mengajarkan saya kerinduan pada orang-orang terdekat, menjadikan "pulang" lebih berarti.

Kadang kita perlu traveling sendirian.Menjadikan kesepian adalah kenikmatan, menjadi asing adalah menyenangkan, menjadikan hati kuat tapi melembut. Mungkin ada perasaan kehilangan suasana dengan orang-orang yg biasanya disekeliling kita, tapi traveling sendirian tidak membuat kita kehilangan diri sendiri.

(Belitung, Januari 2016) 

Rincian Perjalanan
Jika teman-teman berasal dari Jakarta sebenarnya akan lebih efisien dalam waktu dan juga biaya, tetapi kemarin saya berangkat dari Palembang karena sekalian mudik. Berikut rincian dari perjalanan saya kemarin.

- Palembang-Pelabuhan Muntok (3-4 jam) tarif kapal Desember 2015 Rp 265.000
- Alternatif lain Palembang-Pangkal Pinang (30 menit) tarif pesawat berkisar Rp 200.000-700.000
- Pelabuhan Muntok-Pangkal Pinang (3-4 jam) tarif travel Desember 2015 Rp 80.000
- Pangkal Pinang-Tanjung Pandan (30 menit) tarif pesawat berkisar Rp 200.000-700.000
- Alternatif lain Pelabuhan Pangkal Balam (Bangka)-Pelabuhan Pangkal Pinang (Belitung) (4-5 jam) tarif kapal Desember 2015 Rp 170.000-220.000
note: tarif per Desember 2015/Januari 2016

Tips:
- Jika traveling ke Bangka/Belitung beramai-ramai akan lebih mudah dan menghemat biaya transport dan penginapan, bisa share room dan sewa mobil/motor untuk menjelajahi Bangka/Belitung. Karena disana tidak ada angkutan umum sehingga harus naik travel.
- Pastikan sudah punya tujuan akan kemana saja, kecuali pengen seru-seruan dadakan seperti saya yang tidak punya target harus kesana atau harus kesini.
- Harga tiket pesawat saat weak/normal season biasanya tidak terlalu berbeda dengan kapal laut, jika ingin menghemat waktu naiklah pesawat tapi jika ingin menikmati perjalanan dan sensasi yang lebih seru naiklah kapal laut, hehehe.
- Secara keseluruhan Bangka/Belitung cukup aman, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada terutama jika kalian traveling sendirian.

 

Selasa, 21 Juni 2016

BEKAS LIPSTIK PADA CANGKIR KOPI


Membekas, lipstikmu mendarat pada cangkir kopi yang berwarna putih. Matamu masih sama, hangat seperti secangkir kopi yang masih mengepul.

"Rokok?" kataku menawarkan. Kamu tersenyum menggeleng. "Jadi apa kesibukanmu sekarang?" lanjutku mengajakmu bicara.
"Masih sama, sibuk memikirkan kamu." guraumu.
"Hahaha, aku serius bertanya dan jawabanmu selalu bergurau." aku mulai memprotes.
Kamu tertawa lagi, lalu menyeruput kopi.  

Ah, kamu tak berubah banyak. Wajah, tatapanmu, dan caramu meminum kopi. Semua hampir persis sama seperti dulu. Aku pikir kita tak akan sesantai ini lagi, rupanya kita masih bisa menikmati kopi bersama dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Aku sendiri berpikir bagaimana bisa kita seperti ini, setelah lipstikmu membekas pada bibirku malam itu. Kesalahan kah atau memang tak ada arti apa pun bagimu?

"Kamu sendiri bagaimana?" tanyamu membuyarkan lamunan.
"Tak banyak berubah, sibuk mencari kesibukan agar tak punya waktu memikirkanmu." balasku setengah bergurau.
Kamu tertawa tak bisa membalas. Skakmat kataku.

Aku tetap sibuk bertanya-tanya, bagaimana bisa kita bersikap biasa setelah malam itu? Rupanya tanpa sadar kita telah saling melukai. Kita mungkin adalah orang yang dipertemukan oleh kesepian, kita mungkin adalah manusia yang bertemu pada persimpangan pelarian. Dan itu tak cukup untuk mengajak kita saling menyembuhkan.

"Yang tersisa, yang tersisa dari kita adalah kenangan, sedikit luka. Waktu mungkin tak akan menghilangkan kenangan atau menyembuhkan luka. Yang perlu kita lakukan adalah berdamai. Biarkan apa yang tersisa seperti bagaimana ia seharusnya, biarkan ampas kopi tersisa mengendap pada dasar cangkir."

Selasa, 23 Februari 2016

MAMA, SELAMAT ULANG TAHUN!




22 years has been passed.

Dear Mom,
Happy Birthday.
For the first time I give you a gift.
I can't give you a cake, kiss or hug.
So, I just made this video.
Love you always.

Tangerang Selatan, 22 Februari 2016.

Selasa, 26 Januari 2016

Mencintaimu Adalah Hal Yang Paling Tak Ingin Ku Rasionalkan


Mencintaimu adalah hal yang paling tak ingin ku rasionalkan. Kita terpaut perbedaan prinsip yang cukup mendasar. Meski tangan kita menggenggam kenyamanan itu bukan alasan cukup untuk bersama. Kamu adalah dia yang tak terjangkau olehku, dibatasi benteng yang kamu bangun untuk tak jatuh hati.

Mencintaimu adalah hal yang paling tak ingin ku lakukan. Aku terlalu takut pada akhirnya kita hanya akan saling membuat patah. Aku selalu mampu jatuh hati meski patah juga berkali-kali, tapi kamu tidak. Mencintaimu hanya akan membuat kamu semakin takut jatuh hati. Karena itu, kita nikmati saja genggaman ini. Nanti saat kita tak lagi saling menggenggam, itu artinya kamu telah temukan tempat dimana hatimu telah benar-benar jatuh.
 
September 2015

Senin, 25 Januari 2016

11 JANUARI

Tangerang Selatan, 11 Januari 2016


26 tahun.

Tidak ada yang spesial dari peringatan ulang tahun, selain usia kita yang semakin berkurang. Juga angka yang semakin menua di mata orang-orang. Menginjak usia 26 tahun, saya bohong jika tak ada kekhawatiran dalam diri saya. Khawatir adalah manusiawi, setiap orang punya cara sendiri mengatasinya. Jangan lupa berbahagia, memberi kesempatan pada diri sendiri adalah cara baik untuk selalu berbahagia.

Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Rabu, 06 Januari 2016

SELAMAT ULANG TAHUN PAPA!

Pangkal Pinang, 1 Januari 2016

Sudah sedari tadi, bunyi mercon dan kembang api bersahutan di langit Pulau Bangka. Meskipun begitu, suasana tahun baru disana jauh lebih tenang dibanding dengan ibu kota. Malam tahun baru kali ini, saya sedang berada di ibu kota Pulau Bangka, sendirian dengan tubuh yang mulai meriang karena flu. Jauh dari rumah, jauh dari Papa dan jauh dari kucing saya.

Tisu sudah banyak berserakan karena hidung yang tidak mau kompromi dengan keadaan. Rasanya saat itu saya ingin menelepon Papa mengeluh tentang meriang yang tiba-tiba menyerang setelah saya terlalu senang main air di pantai siang hari sebelumnya. Tapi saya kuatkan hati saya untuk tidak mengeluh pada Papa, meski pada akhirnya Papa tahu bahwa saya ternyata traveling sendirian dari Palembang menuju Bangka.Untunglah masih ada beberapa teman yang bisa saya temui disana.

Pukul dua belas malam, saya mengirimkan pesan singkat pada Papa. "Selamat ulang tahun Pa, semoga selalu diberi kebaikan dan keberkahan oleh Allah." Kemudian saya tertidur pulas setelah meminum satu tablet paracetamol.

Tidak ada yang istimewa di pergantian tahun bagi saya, kecuali dengan sederhana mengucapkan Selamat Ulang Tahun Papa.


Selamat Ulang Tahun Papa!
Foto diambil di Pantai Tanjung Pesona, Sungai Liat-Bangka, 31 Desember 2015.
 

Senin, 21 Desember 2015

MAMA, SELAMAT HARI IBU!

Tangerang Selatan, 22 Desember 2015
Mama, apa kabar? semoga baik dan tenang disana. Semoga segala doa-doa anak Mama mengiringi ke surga sana. Sudah 21 tahun lebih 5 bulan dan 11 hari sejak hari itu, hari dimana mama "pulang" dalam arti yang sesungguhnya.

Hari ini 22 Desember 2015 diperingati sebagai Hari Ibu, saya selalu mengalami sejenak titik buntu menulis tentang tema ini. Waktu kita yang singkat selama empat tahun enam bulan, ternyata tidak cukup memberikan saya ingatan yang banyak tentang kebersamaan kita. Apalagi di usia saya yang baru lewat empat tahun.

Lain hal dengan tulisan saya mengenai Hari Ayah, dimana saya menuliskan dengan rinci tanggal, bulan, dan tahun dalam setiap moment yang terekam dalam gambar. Maaf Mama, saya tak serinci itu mengingat setiap kenangan kita. Tapi bagaimanapun juga, saya selalu ingat bahwa Mama telah mengurus saya dengan sangat baik. Beberapa kenangan yang terekam dalam ingatan saya adalah ketika saya merengek minta dibelikan es krim saat tukang es krim keliling lewat di depan rumah dengan lagu khas mereka, juga saya mengingat saat saya duduk di dalam mobil yang mengiringi ke pemakaman dan kemudian saya menaburkan bunga di atas makam Mama.

Potongan-potongan foto masa lampau Mama yang berhasil saya kumpulkan, sebagian saya minta dari rumah Nenek dan kemudian saya scan. Foto-foto saat Mama masih kuliah, saat traveling, dan juga saat Mama dan Papa muda dulu. Kemudian saya tahu bahwa hobi saya traveling dan camping menurun dari siapa.


Mama semasa kuliah di Universitas Indonesia,
Sarjana Matematika dan kemudian bekerja sebagai Dosen.


Marlina (Mama), Tembok Berlin Jerman, mungkin sekitar tahun 1980-an.



Foto Mama, saya kurang paham dimana lokasi tepatnya

Papa dan Mama, Menara Eiffel Paris, mungkin sekitar 1980-an.

Foto Pernikahan Papa dan Mama.

Ulang tahun pertama tanpa Mama.

I love you always Mama, meski kita hanya sebentar bersama, tempat Mama tak terganti.
Happy Mother's Day!