Senin, 09 November 2015

SENJA DI PULAU TUNDA

Agustus 2015.

Lama libur nge-trip bikin saya tetap jalan meskipun kondisi sedang flu berat (bos saya sampai wanti-wanti jangan sampai Senin saya absen kerja apalagi kali ini tujuannya adalah main air, hehehe). Tujuan kali ini adalah ke Pulau Tunda di Serang, Banten. Saya pergi kesana dengan satu orang rekan kerja saya dan teman-temannya, kira-kira total seluruh tim adalah lima belas orang. Well, satu-satunya orang yang saya kenal adalah teman kerja saya, selebihnya? tidak masalah, beruntung saya bisa beradaptasi dengan cukup baik pada orang baru, lumayanlah bisa traveling dan dapet teman baru juga kan?


Jumat malam pukul sebelas, saya dan teman saya sudah tiba di Serang. Menginap di tempat teman (yang baru saya kenal). Besok paginya kami menuju pelabuhan Karang Hantu dan berjumpa dengan seluruh tim beserta guide Pulau Tunda. Perjalanan menyebrang ke Pulau Tunda kurang lebih tiga jam, pada awalnya semua sibuk berceletoh hingga setelah satu jam kapal berjalan satu per satu mulai tumbang memejamkan mata, entah karena mengantuk atau mabuk laut. Sementara saya dan dua orang lainnya masih sibuk ngobrol, mengomentari perahu lain yang ditarik perahu kami karena ada sedikit gangguan pada mesinnya.

Siang hari kami tiba di Pulau Tunda, makan siang dan sholat kemudian menuju spot snorkling. Saya berkenalan dan sok akrab dengan tour guide kami dari Allay Island, yang kami panggil bang Allay. Kok Allay? Entahlah. Hahahaha. Oke, sudah kebiasaan saya sksd dengan orang baru (kata teman-teman saya) bahkan dibilang "modus". Main air memang menyenangkan, apalagi melihat laut benar-benar sangat luas. Sore menjelang senja, kami sudah tiba kembali di pulau untuk menuju pantai, hunting sunset. Katakanlah saya penikmat senja, saya bisa tiba-tiba berdiam hanya menatap senja. Tidak peduli sementara waktu pada sekeliling saya. Bagi saya menatap senja yang menghilang memiliki sensasi sendiri.

Teman saya bilang senja dimanapun itu sama, yang membedakan adalah hanya dengan siapa.
Ada benarnya juga, tapi bagi saya senja selalu berbeda, meskipun dalam bentuk yang sama.

Malam hari di Pulau Tunda, mungkin akan asik jika ada acara BBQ atau lainnya, tapi malam itu melihat suasana disana pun lebih dari cukup bagi saya. Di halaman rumah tempat kami menginap, anak-anak kecil sedang nonton bareng. Bergembira seperti tak punya beban. Kadang saya berpikir, apakah kita merindukan masa kecil kita? Mungkin iya, tapi kita adalah manusia yang akan terus tumbuh, menua dan mendewasa. Saya berkeliling pulau, melihat kegiatan penduduk dan dermaga di malam hari. Termasuk mengobrol dengan pemilik warung di tempat saya menginap, memesan secangkir kopi hitam.

  
Ketika semua orang sibuk dengan keramaian,
kadang yang saya butuhkan adalah sejenak menepi.

Esok paginya, dengan maksud hunting sunrise saya berniat jalan sendiri menuju dermaga. Rupanya beberapa teman saya mengikuti langkah saya. Di dermaga saya melihat seorang bapak yang baru saja mengangkut bensin dari Serang untuk genset, karena rupanya di Pulau Tunda listrik hanya dinyalakan dari pukul enam sore hingga dua belas malam. Pagi dan siang hari, penduduk menggunakan tenaga surya.


Setiap perjalanan bagi saya selalu menyuguhkan hal baru, memperlihatkan saya hal-hal yang berbeda, membuat saya dipenuhi bermacam pertanyaan, menuntut saya untuk belajar memahami. Semua adalah proses, melepaskan dan menemukan.

Minggu, 01 November 2015

JOGJA LENGKAP DENGAN SECANGKIR KOPI

Judul di atas bukan mengartikan bahwa segala tentang Jogja ada dalam secangkir kopi, ini hanya sepenggal cerita perjalanan (kembali) ke Jogja yang buat saya terasa lengkap dengan secangkir kopi. :)

Selalu ada alasan untuk kembali ke Jogja. Bagi saya Jogja lebih dari sekedar Malioboro atau Tugu, ada berjuta kepingan kenangan yang tertinggal pada setiap sudutnya (agak berlebihan sih). Sempat tinggal hampir tiga tahun di kota gudeg tersebut, membuat saya selalu punya alasan untuk ingin kembali kesana. Oktober 2015 akhirnya saya kembali berkunjung ke Jogja setelah satu tahun meninggalkan kota itu.

Kamis malam 22 Oktober 2015 saya berangkat menuju Jogja dengan kereta ekonomi Progo yang tiketnya sudah dipesan jauh-jauh hari. Tiket yang cukup sulit didapat untuk keberangkatan pada weekend, apalagi kereta Progo berangkat paling malam sangat cocok untuk para pegawai seperti saya ini yang ingin berlibur tanpa harus mengambil cuti banyak.

Jumat pagi saya tiba di stasiun Lempuyangan, menatap pemandangan yang sudah tidak saya lihat setahun lamanya. Jogjakarta dengan semua isinya seolah membawa saya kembali pada semua kenangan lalu. Jangan harap itinerary saya selama tiga hari dua malam di Jogja akan penuh dengan berbagai destinasi wisata. Perjalanan saya kali ini hanya ada dua agenda wajib: Ngopi dan Camping di pantai. Sudah begitu saja, tidak ada dalam list saya untuk berbelanja ke Malioboro.

Jumat pagi sempurna dengan Kopi Merapi tanpa gula

Teman-teman dari MPA Cakrawala menjemput saya di Lempuyangan, Mengantar saya ke tempat seorang kawan yang sudah janji menyuguhkan kopi khas dari Merapi. Agenda wajib pertama saya sudah terpenuhi. Kopi Merapi tanpa gula yang pahit dan sedikit gosong saat penyangraiannya (begitulah kata teman saya). Selepas maghrib kami berangkat ke sebuah pantai di daerah Panggang, Gunung Kidul yang menurut mereka masih sangat sepi pengunjung. Jujur saja, target saya sebenarnya adalah melihat sunset terbaik di tepi pantai, tapi tak apa rupanya kali ini saya lebih membutuhkan ketenangan dibandingkan keindahan sunset. Perjalanan menuju pantai kurang lebih sekitar 2jam lebih dekat dibandingkan harus ke pantai Siung, salah satu pantai favorite saya.

Jam sembilan malam, kami sudah berada di tepi pantai yang ternyata memnag benar-benar sepi dan tenang, Hanya ada tiga tenda disana, dua adalah tenda kami berenam dan satunya milik pengunjung lain. Seusai makan malam yang terlambat, kami sibuk mengobrol sembari ngopi (dua agenda penting saya terlaksana sekaligus dalam saat bersamaan). Beberapa dari kami sibuk mencari kerang atau umang-umang, mengumpulkannya di dalam nesting yang menghasilkan irama khas bercampur suara debur ombak yang deras. Tenang dan sepi, jauh dari kebisingan kota.



Menjelang tengah malam satu per satu mulai berguguran menuju alam mimpi masing-masing, tinggal saya dan seorang teman yang masih sibuk dengan unggun yang dijaganya agar tetap menyala hingga subuh menjelang. Mengobrol sembari rebahan di atas hammock hingga pukul setengah lima pagi. Tidur selama satu jam cukup bagi saya untuk melihat keindahan pantai pagi hari, sunrise? di pantai ini rupanya kita harus mendaki bukit dulu untuk melihat matahari terbit dan sayangnya saya kesiangan untuk itu. Jadi saya harus cukup puas melihat matahari yang sudah menyembul dari balik bukit pada pukul enam pagi.

Pagi itu saya hanya ingin jadi pengamat, memantau pantai sepi dengan ombak yang deras. Hanya sekedar menikmati sisa unggun semalam yang sudah padam. Semua sederhana saja, saya hanya perlu sejenak menepi.

Traveling itu bukan sekedar tempat tujuan. Ini tentang proses perjalanan. Melihat dan belajar memahami banyak hal, ada begitu banyak hal sederhana yang indah. Perjalanan adalah tentang melepaskan dan menemukan.
Terima kasih teman-teman :)

Malam harinya kami sudah kembali ke Jogja menikmati kopi klotok di selokan mataram seberang fakultas peternakan UGM. Tempat dulu saya sering bertemu dengan kawan saya yang sekarang sedang di Papua bersama suaminya. Sayangnya kali ini saya kecewa dengan kopi susunya yang menurut saya terlalu encer dan tidak ada rasa khasnya, yah memang yang enak dan khas adalah kopi klotoknya.



Sebenarnya masih banya kedai kopi yang ingin saya kunjungi, kedai-kedai kopi dimana dulu saya menghabiskan malam-malam saya selama tinggal di Jogja. Sayangnya waktu berlibur yang singkat membuat saya tak sempat mengunjungi Blandongan Kopi, Mato Kopi, ataupun Secangkir Jawa. Semoga perjalanan lain waktu sempat kembali ke Jogja dan menikmati Jogja dalam secangkir kopi.

Bagi saya, Jogja lengkap dengan secangkir kopi. Sederhana saja bagi saya kadang traveling tak melulu tentang foto selfie di berbagai tempat wisata, yang ingin saya lakukan adalah menikmati perjalanan itu sendiri, bagaimanapun caranya.

Selasa, 13 Oktober 2015

BERBEDA, BUKAN BERARTI KITA BERHENTI NGOPI BARENG

  
Siang ini saya berdebat tentang kopi dengan seorang teman. Seperti biasa, ngopi adalah ritual wajib bagi saya dan beberapa rekan kerja di kantor. Siang tadi teman saya datang ke ruangan saya, mengajak untuk menyeduh kopi. Saya yang sedang tanggung dengan pekerjaan menyuruhnya minum kopi yang sudah saya seduh sebelumnya.
 
"It's not good." katanya setelah meneguk kopi saya.
"Itu enak banget tau, kopi susu tanpa gula." saya menjawab.
"Lu harus biasain kasih gula ke kopi lu biarpun sedikit." teman saya itu kekeuh bahwa kopi yang enak adalah kopi dengan gula.

Kemudian bla bla bla blaaaaaa, kami mulai ngoceh tentang kopi; kopi dengan gula, kopi tanpa gula, kopi dengan susu tanpa gula, juga kopi dengan susu dan gula. Saya dengan pendapat bahwa kopi itu nikmat dengan rasa pahitnya, mulai berceloteh tentang quotes-quotes tentang kopi entah itu berasal dari novel Andrea Hirata, Dee, ataupun kata-kata yang saya karang sendiri. Begitu juga teman saya yang mulai meracau tentang kopi yang terlalu pahit bisa membuat saya lupa akan manis, termasuk cinta. Mulai ngaco kan?

Well, akhir-akhir ini saya memang menerapkan no sugar pada kopi saya. Minum kopi tanpa gula? jelas pahit. Sesekali saya hanya mencampurnya dengan sedikit susu kental manis. Ini hanya soal selera menurut saya, saya tidak begitu menyukai kopi dengan rasa manis berlebih. Saya lebih suka kopi yang dominan dengan rasa pahitnya, tertinggal di lidah.

Perdebatan terhenti ketika saya rasa bisa menunda pekerjaan saya sejenak. Mata saya beralih dari layar komputer, beranjak mengangkat gelas saya yang hampir kosong.
"Ayo bikin kopi."

Perbedaan selera bukan berarti kita berhenti ngopi bareng kan? Nikmati kopi antara kita, karena disitulah letak nikmat sebenarnya. Kopi lebih dari sekedar bubuk hitam, kopi menghadirkan banyak kisah dan perbincangan.

Untuk kalian yang ngopi bareng saya :)

Kamis, 01 Oktober 2015

KOPI, KAMU, DAN SENJA


Bicara soal kopi, kita punya selera dan kesepakatan yang mirip. Ya mirip, artinya hampir sama tapi tak sepenuhnya. Hitam, pahit dan kental tentu saja. Tapi kadang kita melanggar, menambahkan sedikit krimer, susu, dan gula sesuai suasana masing-masing. Bicara soal kopi pula, kita setuju bahwa kopi adalah cairan yang wajib kita minum sehari-hari. Kopi hitam selalu hadir dalam perbincangan kita, kita selalu punya alasan untuk menghadirkannya antara kita.

Masih juga tentang kopi, kita mengerti bahwa kopi adalah pahit. Justru itu yang kita sukai. Kita pernah sepakat bahwa kopi tanpa gula itu menyenangkan, seperti cinta tanpa rasa sakit. Bicara tentang cinta, kita pernah sepakat tidak menghadirkannya antara kita. Bicara tentang cinta, apa yang kita ketahui selain rasa sakitnya? Atau kita memang tak pernah paham tentang cinta. Kemudian kita bernegosiasi untuk tidak membicarakan cinta, menyimpannya diam-diam biar mengendap seperti ampas kopi.

Kopi, kamu, dan senja. Senja itu aku duduk antara kamu dan kopi. Menulis kesepakatan-kesepakatan kita dalam cangkir tentang kopi dan cinta. Senja itu rupanya aku berhenti mencintaimu, tapi aku tak berhenti mencintai kopi. Seperti halnya yang kamu lakukan.

Ngomong-ngomong, katanya ini hari kopi sedunia. Selamat minum kopi ya kamu! :)

1 Oktober 2015, sebelum senja hilang.

Senin, 14 September 2015

Ketika Cinta Terpaksa Mengalah

Katanya cinta itu kemurnian mengasihi dan menyayangi seseorang. Cinta itu kekuatan. Tapi apa jadinya saat cinta mengalah pada materi, jabatan, ataupun harga diri?
Saat itu mungkin cinta berubah menjelma jadi ketulusan untuk tidak pernah memiliki, atau berubah menjadi luka yang bersemayam dalam lubuk hati paling dasar.



Ani.
Namanya Ani. Saat itu masih duduk di kelas empat pendidikan Sekolah Dasar, usianya belum ada sepuluh tahun. Tinggal di sebuah gubuk dari rotan di pinggiran kota. Kulitnya hitam, mungkin akibat berjemur membantu ibunya mengurus kebun yang bukan milik mereka. Di sekolah hampir seluruh teman sekelasnya memandangnya dengan mengernyit. Tak ada yang mengajaknya main, kecuali dua orang gadis sebayanya yang akhirnya diajaknya berkunjung ke gubuknya yang masih beralaskan tanah merah. Dua gadis yang tak segan meminum teh tawar bubuk yang bahkan tak disaring.

Tak ada anak lelaki di kelasnya yang menyadari senyumnya yang manis, bermain puteri-puteri-an dengan dua temannya itu. Tapi bagi Ani, punya dua orang teman sudah lebih cukup meski tidak sampai setahun. Menginjak kelas lima, Ani berhenti sekolah. Ani akan menikah, tuan tanah pemilik kebun hendak memperistrinya. Laki-laki dewasa yang mungkin lebih pantas dipanggilnya "Bapak" menjadi suaminya. Atas dasar keadaan ekonomi keluarga dan ketidakberdayaan, Ani sepakat menjadi istri di usianya yang masih sepuluh tahun. Ani tak punya pilihan

Tegar.
Bekerja sebagai manajer senior di sebuah perusahaan telekomunikasi ternama, tak menjamin perjalanan cinta Tegar setegar namanya. Hampir ia mempersunting seorang gadis yang ia cintai. Meski pada akhirnya ia harus merelakannya pergi. Membiarkan hatinya terluka, pun dengan hati Indah, perempuan yang dicintainya. Orang tua Tegar tak merestui rencana pernikahan mereka, Tegar dijodohkan. Demi jabatan dan karir, serta hutang budi keluarga mereka pada keluarga komisaris utama tempat Tegar bekerja.

Bukannya Tegar tak punya pilihan, tapi ia begitu takut untuk berani memilih resiko. Setidaknya itulah anggapan Indah, yang selama satu bulan meratapi hubungannya yang kandas begitu saja karena perjanjian yang mengatasnamakan jabatan dan materi. Perasaan cinta rupanya dapat berbalik menjadi benci yang mendalam. Benci karena merasa tak diperjuangkan.Meski pada akhirnya baik Tegar ataupun Indah merelakan untuk saling melepaskan.

Wina.
Dua puluh tujuh tahun. Di usia yang perlahan semakin mendekati tiga puluh, Wina kerap kali jadi sasaran pertanyaan "kapan nikah?". Bukannya tak ingin atau terlalu berambisi mengejar karir, tapi Wina tak pernah memberi kesempatan pada dirinya sendiri. Berkali mencoba sebelumnya dan selalu gagal membuatnya sulit untuk percaya bahwa ia siap untuk jatuh cinta lagi.

Dua tahun lalu, terakhir kali disandarkan hatinya pada lelaki yang rupanya mampu mencintai beberapa perempuan sekaligus. Hal yang mungkin bisa diterima sebagian kecil kaum perempuan dan Wina tidak termasuk golongan itu. Hatinya hanya mampu mencintai satu lelaki dan tidak cukup berbesar hati untuk menerima adanya perempuan lain dan pada akhirnya mengakhiri hubungan cintanya. Memaafkan adalah perkara mudah, toh akhirnya Wina mampu kembali bangkit setelah patah, mampu melepaskan dan menerima bahwa lelaki itu tak pantas untuknya. Tapi melupakan adalah hal sulit untuknya, ditutupnya hati dan dikuburnya kenangan itu pada ruang yang disebut luka. Wina selalu punya pilihan, namun ia tak pernah memilih apapun, bahkan untuk memberi kesempatan pada dirinya sendiri. Sampai saat ini pun, Wina selalu punya pilihan.

Kamis, 10 September 2015

KOPI DAN SENJA

Jatuh cinta itu perkara mudah, tapi bisa menjadi sulit.
Ketika kita tak pernah benar-benar siap untuk patah.


Tidak terhitung detik kita habiskan bersama, tertawa atau sekedar saling duduk berdiam bersebelahan.  Ada begitu banyak waktu yang kita lalui, siang atau malam, fajar juga senja. Kita tak pernah mampu menghitung setiap tawa yang kita cipta bersama. Tak sanggup pula meruntun, berapa banyak lelahku yang terbenam pada bahumu, juga seberapa besar nyaman yang kau temukan saat mendekapku.

Ada banyak hal yang kita sepakati, pun hal yang tidak kita sepakati. Hal-hal yang kemudian kerap kali kita bicarakan dengan cangkir-cangkir kopi yang masih mengepul, hangat. Berlomba dengan kepulan asap dari rokok yang kita bakar. Kopi hitam yang selalu ada diantara kita, pahit. Begitu banyak yang saling kita sukai, meski kita tak pernah paham perbedaan antara menyukai dan mencintai. Tapi kita sepakat untuk tidak saling jatuh cinta, kita tahu pasti kita tak pernah siap untuk itu, kita belum siap untuk patah. Kita belum mampu mencintai selain kopi dan senja.



Lalu bagaimana jadinya jika kita pada akhirnya melanggar kesepakatan, sementara kita tahu kita tak pernah siap untuk itu?

KOPI DAN TEH



"Kopi itu seperti dia, selalu bikin rindu. Tapi sulit bagi saya untuk kembali padanya." Ujarnya sambil menyeduh teh. Saya seketika menoleh, mengerutkan kening menuntut penjelasannya lebih lanjut. Sahabat saya tetap asik menyeduh teh, yang sudah menggantikan kopinya selama satu bulan ini. 

"Aromanya kuat, saya rindu. Sebesar rindu saya pada dia." lanjutnya, melirik cangkir saya yang berisi kopi. Sedikit tergoda namun tetap bertahan untuk tidak meminum kopi, meski saya tahu keinginannya sangat besar.

"Bagaimana perasaanmu setelah kamu mengganti kopi dengan teh?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir saya, mengingat sosoknya adalah seorang penikmat kopi. Setidaknya sampai satu bulan yang lalu. Sebelum akhirnya sesuatu membuatnya memutuskan beralih pada teh.

"Entahlah, mungkin saya hanya perlu terbiasa, seperti saya harus tidak bersamanya meski perasaan saya tetap sama. Tapi saya merindukannya, kopi dan dia." Jawabnya sambil meminum tehnya perlahan. Menghirup aromanya kemudian menghela, saya tahu ada yang tak pernah lepas dari setiap helaannya. Sesuatu yang membuat hatinya begitu lelah.

"Sudahlah. Sampai kapan kamu tidak berhenti mengingatnya. Tinggalkan ia di belakang, kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri. Ayolah." Akhirnya saya berucap setelah paham bahwa pembicaraan ini bukan sekedar tentang kopi atau teh, tapi juga tentang masa lalunya yang belum mampu dia lepaskan.

"Tidakkah kamu berpikir bahwa kita sama? Kita sama lelahnya, kita sama tak pernah paham tentang perkara hati dan perasaan. Hanya saja sekarang saya memilih teh meski saya juga mencintai kopi, karena suatu alasan dan saya yakin kamu tahu itu." Panjang dia memburu saya dengan pertanyaan dan pernyataannya. Setengah menuntut saya untuk bercerita.

"Bicaramu aneh. Minum saja tehmu." Kata saya kemudian meninggalkannya bersama cangkir tehnya.

September 2015
Untuk sahabat saya yang sedang belajar terbiasa dengan teh.

Rabu, 02 September 2015

Jika Jalan Kita Tak Lagi Searah



Jika memang pada akhirnya jalan kita tak lagi searah, suatu hari nanti kita akan baik-baik saja

Kita pernah berjalan beriringan, melangkah seirama menuju tujuan yang sama. Padamu kusandarkan segala letih, kumusnahkan segala resah. Padaku kau genggam impian, harapan yang kau jaga untuk tumbuh menjadi nyata. Selalu ku minta jangan lepaskan aku, meski berkali aku gamang mengikuti langkahmu. Kau genggam tanganku erat takut terlepas.

Jalan yang kita lalui panjang, terlambat kembali karena sudah terlampau jauh. Jalan yang tak pernah kita tahu akan sulit sebelumnya. Berkali kita tak lagi saling bersandar atau menggenggam, sendiri berusaha membunuh lelah dan harapan. Kita pernah lelah dengan semua ini meski tetap mampu seirama. Lelah yang pada akhirnya memuncak, memaksa kita melepas. Saat itulah kita tahu arti melepaskan.

Jika pada akhirnya kita tak lagi bersama, kau tetap akan ada sebagai kenangan. Kenangan yang tersimpan rapi sebagai masa lalu. Kita mungkin akan saling menjauh untuk mengerti bahwa perlu ada jarak. Tapi jika memang pada akhirnya jalan kita tak lagi searah, suatu hari nanti kita akan baik-baik saja. Suatu hari nanti kita akan siap dengan perasaan yang tak lagi sama.

Rabu, 26 Agustus 2015

PULANG



Ada yang datang dan pergi.
Bahkan sekalipun kau menutup hati,
Ada yang memilih pergi, meski ingin tinggal.
Ada yang tetap tinggal meski tersakiti hampir mati. 

Sepanjang apapun, serumit apapun.
Yang kau tempuh selalu menuju pulang.
Meski sering kau menolak.

Percayalah, suatu saat nanti.
Pada akhirnya nanti.
Kita akan pulang kesana.
Pada hati yang kembali siap terbuka.

Jumat, 14 Agustus 2015

AUGUS(T)RUST

“It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone.” 
-Rose Kennedy-



Yes, i do not agree. But, i want to trust.

Agustus tujih tahun lalu, sejak saat itu lah Senja ingin percaya.  Waktu menyembuhkan luka. Lima tahun lalu, bulan Agustus di suatu tempat, kaki gunung di Jawa Tengah. Senja menghela nafas, seperti udara setiap helaannya tak mampu menghitung lukanya. Tengah malam matanya belum juga mampu terpejam padahal tubuhnya lelah setelah hampir tujuh jam berjalan menuruni pegunungan. Dingin air yang mengguyur tubuhnya seolah bukan apa-apa, hatinya lebih dingin dan beku

Agustus satu tahun kemudian, kota kembang rupanya memberi sedikit warna meski hanya abu-abu. Setidaknya saat itu lagi-lagi Senja ingin percaya bahwa waktu menyembuhkan luka. Setiap pertemuan akan ada perpisahan, entah seperti apapun itu terjadi, semesra atau seburuk apapun itu berakhir. Berkali ia berusaha ingin percaya namun dalam dirinya sebagian menolak. Bergeser dari kota kembang, pelan-pelan ia mulai mencari-cari kembali apa yang bahkan ia tidak pahami.

Agustus-Agustus berikutnya, Senja selalu berusaha melapangkan hatinya untuk percaya. Tapi kembali yang ditemukan luka. Sekali lagi, sebagian dirinya menolak. Sebagian yang tak mampu ia kendalikan, menolak melupakan luka. Luka yang sejak Agustus itu menetap dalam hati, berdiam dan tak jua pergi. Luka yang setiap Agustus berontak meski mati-matian ia berusaha percaya, waktu akan menyembuhkan luka. Benarkah?

Agustus ketujuh, setelah berkali membuka dan menutup hati hingga nyaris tak ingin percaya lagi. Akhirnya ia sampai pada saat itu. Saat dimana pada akhirnya ia percaya, bahwa luka mungkin tak pernah benar-benar pergi. Saat dimana akhirnya ia percaya, suatu saat ia akan baik-baik saja. Agustus ketujuh, Senja berhasil memberi kesempatan pada dirinya sendiri, belajar mencintai dirinya sendiri, dan kemudian menemukan bahwa ia baik-baik saja.

Agustus, Senja selalu berusaha percaya. Pada akhirnya ia akan baik-baik saja. Pada akhirnya, ia tahu selalu ada kopi dan senja yang bisa dinikmati.

Serang, Agustus ketujuh.
pic: google