Jumat, 14 Agustus 2015

AUGUS(T)RUST

“It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone.” 
-Rose Kennedy-



Yes, i do not agree. But, i want to trust.

Agustus tujih tahun lalu, sejak saat itu lah Senja ingin percaya.  Waktu menyembuhkan luka. Lima tahun lalu, bulan Agustus di suatu tempat, kaki gunung di Jawa Tengah. Senja menghela nafas, seperti udara setiap helaannya tak mampu menghitung lukanya. Tengah malam matanya belum juga mampu terpejam padahal tubuhnya lelah setelah hampir tujuh jam berjalan menuruni pegunungan. Dingin air yang mengguyur tubuhnya seolah bukan apa-apa, hatinya lebih dingin dan beku

Agustus satu tahun kemudian, kota kembang rupanya memberi sedikit warna meski hanya abu-abu. Setidaknya saat itu lagi-lagi Senja ingin percaya bahwa waktu menyembuhkan luka. Setiap pertemuan akan ada perpisahan, entah seperti apapun itu terjadi, semesra atau seburuk apapun itu berakhir. Berkali ia berusaha ingin percaya namun dalam dirinya sebagian menolak. Bergeser dari kota kembang, pelan-pelan ia mulai mencari-cari kembali apa yang bahkan ia tidak pahami.

Agustus-Agustus berikutnya, Senja selalu berusaha melapangkan hatinya untuk percaya. Tapi kembali yang ditemukan luka. Sekali lagi, sebagian dirinya menolak. Sebagian yang tak mampu ia kendalikan, menolak melupakan luka. Luka yang sejak Agustus itu menetap dalam hati, berdiam dan tak jua pergi. Luka yang setiap Agustus berontak meski mati-matian ia berusaha percaya, waktu akan menyembuhkan luka. Benarkah?

Agustus ketujuh, setelah berkali membuka dan menutup hati hingga nyaris tak ingin percaya lagi. Akhirnya ia sampai pada saat itu. Saat dimana pada akhirnya ia percaya, bahwa luka mungkin tak pernah benar-benar pergi. Saat dimana akhirnya ia percaya, suatu saat ia akan baik-baik saja. Agustus ketujuh, Senja berhasil memberi kesempatan pada dirinya sendiri, belajar mencintai dirinya sendiri, dan kemudian menemukan bahwa ia baik-baik saja.

Agustus, Senja selalu berusaha percaya. Pada akhirnya ia akan baik-baik saja. Pada akhirnya, ia tahu selalu ada kopi dan senja yang bisa dinikmati.

Serang, Agustus ketujuh.
pic: google

Kamis, 23 Juli 2015

IBU

Untuk Ibu yang terlalu singkat saya kenal, yang tak sempat saya ingat dengan baik.

Dua puluh satu tahun yang lalu, ketika usia saya belum lagi lima tahun. Bahkan saat dimana saya belum mengerti apa arti "pulang" sesungguhnya. Dua puluh satu tahun lamanya, saya yang menjajaki kehidupan tanpa mengenal sosok Ibu seperti yang lainnya. Selama itu pula saya mengumpulkan kenangan-kenangan dari lembar-lembar foto yang saya temukan, berusaha mengingat, mengerti seperti apa sosok Ibu. Menangkap memori tentang Ibu dari segala yang dikisahkan orang-orang tentang Ibu.

Saya tahu, bukan hal sulit untuk tumbuh tanpa Ibu di sisi saya, juga bukan hal yang menurut saya mudah. Tapi pada kenyataannya, saya mampu melewati masa-masa itu dan sampai pada titik ini. Begitu banyak orang menulis tentang Ibu mereka, mungkin terlihat lebih mudah menulis tentang Ibu, tapi tidak bagi saya. Sampai pada tulisan ini, saya mengalami kebuntuan tentang apa-apa yang akan saya tulis tentang Ibu. Berbekal foto-foto yang tak banyak dan kisah yang juga tak terlalu panjang tentang Ibu.

Ibu, saya ingat pernah merengek minta es krim ketika es krim keliling lewat di depan rumah kita. Saat itu mungkin usia saya belum empat tahun, sampai saat ini saya masih menyukai es krim yang mengingatkan saya pada memori itu. Ibu, saya menemukan beberapa lembar foto yang saya lepaskan dari album yang disimpan oleh nenek, yang kemudian saya scan dan saya simpan. Foto semasa Ibu masih muda, berdiri di depan tembok juga foto dengan Ayah di bawah sebuah menara.

Semua orang bercerita tentang Ibu yang ramah, seorang dosen, banyak teman dan keras kepala. Orang bilang, banyak sifat Ibu turun kepada saya termasuk pula pemberani dan pemberontak. Nenek bilang, Ibu pernah menolak bersekolah di sekolah pilihan nenek, walau pada akhirnya tetap menurut. Hal itu pernah terjadi juga pada saya yang berontak dengan Ayah mengenai pendidikan. Tante atau adik Ibu juga bercerita bahwa Ibu adalah kakak yang rela berkorban untuk mereka, meski bawel dan keras kepala.

Ibu, banyak perubahan terjadi sejak dua puluh satu tahun lalu. Perubahan-perubahan yang tak akan sempat saya ceritakan. Satu yang tak berubah, tempat Ibu tak pernah tergantikan meski saya tak bisa upload foto dengan Ibu atau shopping dengan Ibu seperti teman-teman saya. Saya tahu pasti, ada memori yang tetap tersimpan, tetap tinggal. Memori tentang Ibu yang terlalu singkat, yang belum sempat saya bahagiakan di dunia.

Untuk Ibu, yang tak pernah benar-benar pergi.

Juli, 2015

Jumat, 10 Juli 2015

JALAN PULANG



Senaru, April 2015
Siapa sangka senyum kadang mengandung luka. Mungkin kita pernah berpikir, kadang tersenyum adalah topeng menyembunyikan sedih. Percayalah, sebelum foto ini diambil saya tidak benar-benar baik-baik saja. Sebelum foto ini diambil, mungkin ada beberapa frame foto yang menunjukkan saya tidak tersenyum. Frame-frame yang mungkin terdokumentasikan oleh lensa kamera atau sekedar lensa mata orang-orang yang sabar berada di sisi saya selama berjuang menyelesaikan perjalanan. Orang-orang luar biasa yang membiarkan saya membawa pedih dan mengobati luka saya sendiri, namun tetap berada di samping saya. Sebelum foto ini diambil, jangankan meloncat, berjalan pun terasa sangat penuh perjuangan. Mungkin tidak sampai tertaih, tapi terasa berat meski mampu ditutup oleh tawa. Sebelum foto ini diambil, saya berjalan dengan pikiran gamang penuh tanya pada diri saya sendiri.

Tapi saya percaya, pada akhirnya saya akan tetap baik-baik saja. Menyelesaikan apa yang saya mulai, menuju jalan pulang.

Kamis, 09 Juli 2015

A Y A H

Tidak perlu menunggu 12 November dimana Hari Ayah diperingati secara nasional untuk menulis tulisan ini. Tulisan yang secara rima mungkin berantakan, tulisan yang awalnya ragu untuk memulai dari kata yang mana. Percayalah, bahkan tulisan ini sepanjang apapun nantinya tetap tidak bisa menjelaskan semua tentang sosok yang saya sebut AYAH.

Baiklah, dua puluh lima tahun lalu bisa jadi saya adalah bayi berwarna merah yang merepotkan Ayah. Menangis karena ngompol atau meminta ditimang tak peduli meski ia baru saja pulang kerja. Serepot apapun Beliau, saya yakin saya pula yang menjadi sumber kebahagiaannya saat itu. Saya tumbuh menjadi gadis yang merepotkan, Ayah harus bekerja keras untuk membelikan segala keinginan saya yang saat itu belum mengerti keadaan finansial Ayah saat itu

Saya tumbuh menjadi kanak-kanak dan remaja, saat saya duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) pertama kalinya saya mengalami yang juga dialami remaja perempuan lainnya, haid/menstruasi. Saat itu saya sadar ada yang berubah dalam diri saya, saya adalah gadis yang beranjak dewasa. Tidak seperti yang lain yang mendapatkan ceramah tentang haid dari Ibu, saya sendirian belajar memahami menagpa seorang perempuan mengalami haid. Mungkin Ayah terlalu canggung untuk menjelaskan pada saya, bagaimana proses sel telur yang tidak dibuahi meluruh menjadi darah. Katanya seorang anak cenderung lebih dekat dengan Ibu, tapi tidak bagi saya yang mungkin tak punya pilihan lain. Tapi bagaimanapun juga, sedekat apapun anak gadis dengan Ayah tetap ada jarak, jarak yang mesra menurut saya.

Saya terus tumbuh menapaki tangga-tangga usia yang bisa dibilang tidak lagi remaja, saya adalah gadis dewasa yang selalu harus belajar mendewasakan diri. Tapi bagi Ayah, saya tetap gadis kecilnya, gadis yang perlu dikhawatirkan, dijaga, dan dilindungi. Seringkali saya dapati Ayah belum tidur ketika saya belum pulang, kadang pesan singkat yang saya kirimkan sekedar memberi kabar sudah lebih dari cukup bagi Ayah. Ayah tidak akan banyak bertanya ketika saya pulang kerja lebih malam dan memilih segera masuk ke kamar, tapi Ayah akan sekedar menyusul saya menanyakan apa saya sudah makan atau belum. Saat itu kadang saya merasa sangat bersalah, sambil berkata dalam hati "Maaf Ayah, saya sangat lelah untuk bicara pada siapapun." dan Ayah mengerti dengan segera keluar dari kamar saya, membiarkan saya tenggelam dalam ruang privasi saya.

Ayah (mungkin) memang tak sebawel Ibu, tapi saya yakin bahwa ia menyimpan begitu banyak kekhawatiran saat saya pergi dari rumah untuk melakukan kegiatan alam bebas yang sudah saya lakukan sejak SMA. Pernah suatu ketika, saat saya mengambil cuti dan pergi untuk mendaki gunung di luar Jawa, subuh buta Ayah dengan ikhlas mengantar saya menuju travel. Tidak hanya itu, ia bahkan setengah memaksa untuk mengangkatkan carrier, yang kemudian saya tolak dengan berkata "Saya bisa melakukannya Ayah, tak usah khawatir.", mungkin saat itu Ayah berpikir bagaimana gadisnya akan membawa beban seberat itu, meski di sisi lain hatinya ia tahu gadisnya akan mampu melewati segala kesulitan.

Dalam jarak, saya juga yakin bahwa selalu ada doa Ayah untuk saya. Doa semoga saya menyelesaikan studi saya dengan baik, mendapat pekerjaan yang baik, dan segala hal baik lainnya untuk saya. Ayah tidak akan menolak ketika saya merengek minta es krim, bahkan di usia saya dua puluh lima tahun. Tapi Ayah tahu, saya sudah memilih untuk selalu belajar mandiri. Saya bukan lagi gadis kecil yang merengek, saya sudah belajar untuk mendapatkan sesuatu dengan perjuangan. Dibalik sikap Ayah yang memanjakan saya saat kecil, selama saya tumbuh Ayah tak lupa mengajarkan saya untuk berjuang jika ingin mendapatkan sesuatu. Ayah tahu saya tumbuh menjadi perempuan keras namun tetap memiliki kelembutan yang perlu dijaga. Ayah tahu saya bukan lagi gadis yang akan menangis di depannya, mengeluhkan segala permasalahan saya. Ya, gadis kecil Ayah telah memilih untuk mandiri, dan Ayah menghargai itu.

Untuk Ayah, yang tak pernah cukup kata-kata saya tuliskan.
Tangerang, Juni 2015

Senin, 06 Juli 2015

SEBOTOL AIR MINERAL

Jakarta, Maret 2010

picture: google

Sudah lewat tengah malam, perempuan itu masih saja berdiam di kursinya. Untung saja kedai ini 24 jam, sehingga tak ada yang akan mengusirnya yang tengah asik dengan kopi dan rokoknya. Ini sudah gelas ketiga kalau ia tak salah hitung, diantarkannya cangkir itu ke hadapan perempuan itu. "Gelas ketiga nona, terlalu banyak kafein malam ini, ada baiknya pula Anda berhenti merokok." Perempuan itu menerima kopinya sambil melirik tajam padanya seakan berkata "apa urusanmu!". Perempuan itu acuh tanpa menoleh lagi, lelaki itu, Pram, akhirnya menyerah pergi kembali pada pekerjaannya.

Senja, perempuan itu sudah menghabiskan hampir tiga gelas kopi dalam lima jam. Handphone-nya berdering, panggilan masuk yang kelima kalinya tak diangkat. Tak lama pesan singkat pun muncul. Ia tak bergeming, tak ingin diganggu. Sibuk menyeruput kopi yang disadarinya telah hampir habis pula, dipanggilnya lelaki tadi memesan secangkir lagi. Lima belas menit kemudian, lelaki itu kembali datang mengantarkan kopi dan sebotol air mineral. Senja menoleh hendak protes karena tidak memesan selain kopi. "Terlalu banyak kafein tak baik nona, air mineral akan banyak membantu." Lelaki itu berkata dan tersenyum.

Pram sudah hendak berbalik, ia merasa tak pantas mengusik kesendirian perempuan itu. Rupanya perempuan itu memanggilnya "Hei, terima kasih." Pram menoleh dan melihat senyum pertama perempuan itu setelah lima jam lamanya.

Untuk Pram dan sebotol air mineral, terima kasih.

Selasa, 30 Juni 2015

Juni dan Hujan


Tangerang, Juni 2013
Hujan bulan Juni, untuk setiap tetes rintik airnya yang jatuh mencium tanah. Perempuan itu memandang tetes-tetes yang mampir pada jendela kamarnya, pelan-pelan jatuh melebur dengan tetes yang lain kemudian hilang, melalui media-media lain hingga menyatu meresap dalam tanah. Hujan bulan Juni,  hampir setahun diam-diam rindu itu menetap, betah menunggui hatinya. Setia mengiring pada penantian. Hujan bulan Juni, lepas dari langit jatuh dengan bebas, menemui tanah dan menyatu. Ya, tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Apa lagi yang kau tunggu? bukankah melepaskan dapat berarti menemukan?

Untuk Juni yang bimbang,
Selalu ada kesempatan, belajarlah memberi kesempatan pada dirimu sendiri.

Kamis, 14 Mei 2015

(Bukan) Gerbong Khusus Wanita

Malam itu hari libur nasional tanggal 14 Mei 2015. Usai piknik ke daerah Sentul, saya menggunakan kereta Commuter Line (CL) dari Pasar Minggu untuk menuju daerah Serpong. Sejujurnya, ini pertama kalinya saya naik kereta dari stasiun Ps.Minggu. Setelah  bertanya pada petugas stasiun, barulah saya tahu bahwa saya harus transit di stasiun Tn.Abang terlebih dulu untuk kemudian melanjutkan naik kereta ke Serpong. CL dari Ps.Minggu malam itu tidak terlalu ramai, tidak banyak orang yang berdiri di dalam gerbong, pun saya yang sudah nyaman duduk di sudut kursi. Fyi saja, saya naik di gerbong campuran bukan gerbong khusus wanita. Begitu pula saat tiba di stasiun Tn.Abang, setelah lari-lari naik turun tangga karena kereta menuju Serpong sudah siap berangkat (maklum sudah jam sembilan malam dan itu hari libur), saya hanya melewati gerbong khusus wanita dan sengaja masuk di gerbong campuran di belakangnya. Saat itu petugas yang saya lewati mungkin berpikir kenapa saya malah sengaja berlari lebih jauh menuju gerbong di belakang, padahal masuk ke gerbong khusus wanita lebih dekat.

Jadi malam itu, saya berdiri di gerbong kereta sejak dari stasiun Tn.Abang. Kebanyakan perempuan yang ada di gerbong itu dan juga berdiri adalah mereka yang pada umumnya berpasangan dengan laki-lakinya. Tidak ada yang menawarkan tempat duduk untuk saya, tidak masalah saya masih dalam keadaan mampu untuk berdiri bahkan sampai Serpong, meski akhirnya di stasiun Sudimara saya mendapatkan tempat duduk. Gerbong khusus wanita, saya jadi teringat sebuah tulisan di kompasiana yang bercerita tentang hal ini. Secara pribadi, saya termasuk wanita yang lebih cenderung naik di gerbong campuran dibanding gerbong khusus wanita, mungkin dikarenakan saya menyadari bahwa terkadang kita sebagai wanita lebih egois terhadap wanita lain, hal ini pula yang juga jadi pertimbangan teman-teman wanita saya untuk naik gerbong campuran dibanding gerbong khusus wanita. Selain itu, saya rasa dalam tulisan kompasiana itu ada benarnya juga, bahwa wanita harus mampu bersaing dengan sehat bahkan bersaing dengan kaum laki-laki.
Tangerang Selatan, 15 Mei 2015.
Sekedar cerita pengalaman naik kereta :D

Kamis, 23 April 2015

Pagi Ini, Sederhana

Pagi ini tidak ada yang istimewa, jika ada yang berbeda itu bukan hal yang sangat luar biasa. Pagi ini terbangun dari tidur dengan mimpi yang campur aduk, saya melakukan rutinitas biasa yaitu memasak. Satu hal lain yang juga dilakukan adalah saya kembali lari untuk pertama kalinya, setelah libur sejak cuti awal bulan ini. Ya, kadang hal tersulit dalam melakukan sesuatu adalah memulai melakukannya. Lalu apa hal termudah adalah berhenti ya? Bagi saya, itu bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Pagi ini sederhana saja, berbahagia. Bahagia karena memasak dan mengusahakan ayah saya terpenuhi kebutuhan makan siangnya di kantor, bahagia karena berlari-lari kecil di tengah pagi buta. Sesudahnya, tidak ada hal yang begitu luar biasa pula pagi ini, saya masih mandi pagi, mengenakan make up seadanya (yang biasanya cuma bertahan hingga jam makan siang), minum satu gelas air mineral, tak lupa menyapa si kucing yang sedang ngantuk-ngantuknya di ruang tamu, kemudian berangkat kerja.


Pagi ini tetap sederhana, menyapa dan mengucap selamat pagi pada setiap staff di kantor yang berpapasan. Tidak ada yang berbeda, meja saya masih penuh dengan kertas, minum segelas air mineral lagi, kemudian menyeduh kopi pagi. Ngomong-ngomong soal kopi, kata Andre Hirata di bukunya "Cinta di Dalam Gelas", semakin pahit kopi yang diminum semakin berliku jalan kehidupan seseorang. Benarkah?

Jika ada yang tidak sederhana, mungkin itu perasaan saya hari ini. Perasaan saya yang begitu sederhana, yang bahagia dengan hal sederhana. Benar rupanya, bahagia itu sederhana. Sesederhana cangkir saya yang sudah kembali terisi kopi siang ini, yang setia menemani saya bekerja dan sekedar menulis di blog.

Sabtu, 18 April 2015

S A H A B A T

Pagi itu saya kembali menyadari bahwa semua bisa begitu sangat sederhana, termasuk soal persahabatan. Ini bukan tentang materi, sekali lagi materi memang menunjang kehidupan kita, tapi ada beberapa hal yang tak bisa dinilai secara materi.

Percayalah, ada begitu banyak sahabat baik di sekeliling kita. Yang tak pernah menilai kita dari materi, sederhana saja mereka (sahabat baik) adalah orang-orang yang ada bahkan saat kita berada di titik terendah. Sahabat baik tidak hanya ada saat kita hangout, bersenang-senang, atau tertawa terbahak-bahak. Seorang sahabat pernah berkata pada saya "Sahabat terbaikmu akan tertawa paling keras saat kamu jatuh, tapi juga akan jadi seseorang yang paling mati-matian mengajakmu untuk kembali bangkit." Benarkah? Saya rasa kalian semua punya deskripsi masing-masing untuk menggambarkan sahabat.

Tapi pagi itu, karena suatu kejadian di bbm saya. Saya begitu menyadari, bahwa sahabat tidak pernah menilai kita dari materi. Hubungan persahabatan adalah sesuatu yang sederhana, sesederhana kopi saya pagi itu yang bersahabat baik dengan pisang goreng, sesederhana bintang yang menemani bulan, pun sesederhana matahari dan bulan yang saling memberi tempat.

Tangerang, 18 April 2015.
Untuk para sahabat yang begitu sederhana.
Sesederhana kopi yang bersahabat baik dengan pisang goreng.

Minggu, 12 April 2015

RINJANI: Lebih dari Sekedar Anjani


Pagi itu 31 Maret 2015 pukul tujuh pagi dengan sisa kantuk semalam, saya sudah duduk di ruang tunggu bandara Soetta. Perjalanan (lagi-lagi) sendiri yang sudah direncanakan kurang lebih sebulan yang lalu. Tujuan saya kali ini adalah Lombok, mendaki gunung Rinjani. Beberapa teman bilang saya gila, perjalanan sendiri. Sebenarnya saya tidak benar-benar berniat mendaki sendiri, selama satu bulan saya sudah beberapa kali menghubungi orang-orang yang berencana mendaki Rinjani awal April. Beberapa diantaranya adalah teman dari teman saya, yang akhirnya saya kenal tapi belum pernah bertemu. Karena adanya selisih jadwal dalam itinerary, maka sebenarnya saya berniat membawa peralatan lengkap hingga akhirnya saya memastikan bahwa beberapa alat bisa share dengan mereka, salah satunya adalah tenda yang pada akhirnya saya tinggal di rumah. Pada hari yang sama, beberapa teman (yang belum pernah bertemu) pun sedang dalam perjalanan pula menuju Lombok via transportasi darat. Mereka adalah Bang Harbon dan Keong (dari Jakarta) serta Mas Ali dan Jhon (dari Jogja).

Menahan kantuk tanpa asupan kafein di ruang tunggu cukup membosankan hingga setelah satu jam di ruang tunggu, handphone saya berdering. Seorang kawan, Edika menelepon karena melihat display picture bbm saya yang tak lain adalah tiket penerbangan CGK-LOP dan serta -merta memutuskan menyusul saya ke Lombok malam harinya bersama seorang temannya yang kemudian saya kenal bernama Djenal. Bocah edan (peace kakak Edi dan bang Djenal :p ) batin saya dalam hati, rencana mereka ke Sumbing pun belok menuju Rinjani.

Tiba di Mataram sendirian, saya menumpang di kontrakan seorang teman, Mbak Yuli (yang saya kenal dari Bang Harbon) yang rela direpotkan oleh seorang saya ditambah Edi dan Djenal yang tiba malam harinya. Seorang teman yang lama tak jumpa mengantar saya belanja logistik, teman yang saya kenal pertama kali di Solo tapi sekarang bekerja di Lombok, namanya Cebret yang katanya sih nama aslinya Okta, hehehe.

Dari sendiri jadi berduabelas. 1 April 2015, siang pukul satu saya, Edika dan Djenal tiba di basecamp Sembalun Rinjani. Menyapa beberapa pendaki yang bertemu sembari menunggu teman-teman yang masih dalam perjalanan via darat. Maka perkiraan saya, tim kami berjumlah tujuh orang. Sampai akhirnya Bang Harbon pun mengirimi saya sms "Kita bareng anak dari Jepara dua orang sama suami istri dan anaknya." Ditambah Mas Joko dan Alvin dari Jepara, Bang Hari dan Mbak Lina serta si kecil Asha berumur tiga tahun dari Cilegon. Jadilah tim pun berjumlah dua belas orang. Pukul lima sore mereka tiba di basecamp, disanalah pertama kali saya mulai mengenal dan menghafal nama mereka satu per satu, sahabat-sahabat baru dalam pendakian Rinjani.

Pendakian dimulai selepas maghrib hingga pos 1 dan kami memutuskan untuk camp semalam disana. Memasak dan mengobrol untuk lebih mengenal satu sama lain. Awal pendakian sudah saya rasakan sangat luar biasa karena kehadiran si kecil yang sangat bersemangat dan ceria. Beristirahat semalam di pos 1 kemudian esok paginya melanjutkan menuju pos 3, hingga akhirnya karena beberapa pertimbangan tim pun berpisah. Harbon, Keong, Bang Hari, Mbak Lina dan Asha bermalam di pos 3 sementara saya dan enam orang laki-laki lainnya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

Ini foto bareng Asha di pos 1, gadis kecil luar biasa yang penuh semangat, yang dengan ikhlas (setengah dipaksa sih) memanggil saya dengan sebutan "kakak" :p

Tiba di Plawangan Sembalun sudah lepas senja, berbagi tugas mendirikan tenda dan memasak, kerja sama yang baik meski hampir seluruhnya baru saling mengenal. 3 April 2015 dini hari sekitar pukul tiga, seluruh personil bersiap menuju puncak Anjani. Jalur Plawangan Sembalun menuju puncak yang sangat "sesuatu" bagi saya, pasir dan curam. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal, belum lagi menahan dingin, saya melawan diri saya sendiri untuk tidak menyerah. Teman-teman yang juga memberi semangat dan tak ragu membantu saya juga merupakan sebuah motivasi yang berharga dalam pendakian. Rupanya menyemangati diri sendiri lebih sulit dibanding menyemangati orang lain. Hingga akhirnya saya mencapai puncak Anjani, bukan karena saya berhasil menaklukkan puncak tetapi saya berhasil menaklukkan diri saya sendiri. Jumat, 3 April 2015 maka saya berdiri di ketinggian 3726 mdpl bersama orang-orang luar biasa yang menemani saya bukan hanya ke puncak Anjani, namun hingga kembali ke Mataram.

Thanks all of you guys, sahabat-sahabat luar biasa meski baru pertama kali ngetrip bareng. :)

Anjani, kami tak pernah menaklukkanmu, tapi kami menaklukkan diri kami sendiri
(Puncak Rinjani, 3 April 2015)
Ki-ka: Mas Alvin,Mas Joko,Saya,Edika,Mas Ali,Mas Jhon,Bang Djenal

Dalam perjalanan menuju puncak, menyapa sesama pendaki adalah hal yang menambah energi positif (setidaknya menurut saya pribadi). Bertemu dengan seorang kawan dari salah satu mapala di Palembang (yang sekretnya dekat dengan sekret mapala saya), juga teman-teman dari Bekasi yang bareng naik ke puncak yang saya kenal dengan nama Bang Ambon dan Mas Aji.




Ki-ka: Edi, Mas Joko, Saya, Mas Aji, dan Bang Ambon.
Sahabat baru bertemu di jalur.
Sederhana saja. Papa, You're my man.
Your little girl at 3726 mdpl. Yippieeee! 

Semua orang di puncak mungkin berpikir "niat banget ni anak bawa toga segala"
Saya sih cuek, wisuda bareng Mickey Mouse di puncak, kapan lagi coba? (tapi itu idung masih ada koyo-nya)
berhubung topinya ketinggal di rumah, topinya Edika pun jadi deh sebagai gantinya.

Sore hari di Plawangan Sembalun kami bertemu kembali dengan Bang Harbon dkk yang sempat berpisah di pos 3 kemarin. Bertemu kembali dengan Asha yang selalu full batere-nya. Dengan berbagai pertimbangan pula, malam itu kami bermalam lagi di Plawangan Sembalun. Menikmati secangkir teh/kopi hangat sehangat obrolan di dalam tenda.

Suasana tenda malam hari seusai muncak, ada yang sibuk minum, lihat-lihat foto, di sudut lain sebelum foto ini diambil ada yang sibuk pijit-pijitan. hahahah.

Sebelum turun ke Segara Anak, foto bareng biar lengkap. (Kurang Bang Keong yang lagi summit)
Plawangan Sembalun, pagi 4 April 2015. Bersantai di hammock setelah SKSD dengan tetangga. :p

Esok paginya 4 April 2015, kami bertujuh menuju danau Segara Anak, bersantai sambil memancing dan tentu saja menikmati kopi di tepi danau dengan pemandangan menakjubkan. Siang itu diadakan pesta besar (baca: menghabiskan logistik) mulai dari nutrijel, pasta, omellet, hingga ikan goreng. Ikan goreng? tunggu dulu, sebelum makan ada kompetisi memancing antar para lelaki itu. Saya juga coba-coba memancing dan mendapat dua ekor ikan kecil tapi jangan dihitung ikut kompetisi ya, karena yang lempar kailnya pun si Edi bukan saya, saya cuma tugas menarik kalau umpan dimakan. Mulailah persaingan sengit memancing diantara para lelaki. And the winner is...... Mas Jhon, dengan satu ekor tangkapan ikan besar yang dipanggang malam harinya. 

Ini Mas Alvin yang lagi seneng dapet ikan. Keliatan banget bahagianya. Haha

Di sisi lain bang Djenal pun akhirnya dapet ikan setelah proses panjang meski tak sepanjang jalur menuju puncak Anjani. heheheh
 Ini kakak Edika yang semangat banget mancing, dia protes karena fotonya belum diupload di blog. :p
Dan.. ini dia man of the match  "fishing competition"  kita, Mas Jhon yang dapet ikan paling gede.

Sore hari, perjalanan dilanjutkan menuju Plawangan Senaru dan bermalam disana ditemani lautan bintang dan gerhana bulan. Meski terasa lelah dan kaki pegal, kami tetap bisa tertawa menikmati makan malam ikan panggang dan sup krim. Naik gunung makan harus tetap bergizi dong, beda rasanya makan ikan panggang di gunung dengan di rumah, rasanya berkali-kali lebih nikmat (lebay).

Minggu pagi 5 April 2015, perjalanan dilanjutkan turun ke Senaru. Kurang lebih hampir empat jam berjalan (saya saja sih mungkin ditambah Mas Ali yang sabar menemani saya turun) dengan kaki yang sudah mulai sulit diajak kompromi, akhirnya saya tiba di gerbang pendakian Senaru. Menyelesaikan apa yang telah dimulai, karena tujuan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat.
Di pintu Senaru, kebahagiaan setiap pendaki adalah pulang dengan selamat. :)

Selama pendakian ini berkali-kali saya takjub dengan apa yang saya lihat, saya alami, dan saya rasakan. Pemandangan yang menakjubkan, orang-orang baik yang luar biasa, dan kesederhanaan yang tak ternilai oleh materi. Rinjani, lebih dari sekedar Anjani. Bukan hanya soal menapakkan kaki di ketinggian 3726 mdpl, lebih dari itu, banyak nafas yang kita hembus melepaskan beban, banyak langkah yang kita lakukan hingga menemukan sesuatu yang baru.


Perjalanan adalah tentang melepaskan dan menemukan.
Melepaskan apa yang sepatutnya dilepaskan, yang bisa jadi tidak kita sadari bahwa dengan melepaskan kita bisa menjadi lebih bahagia.
Menemukan hal baru; sahabat baru, kisah baru, juga bagian diri kita yang baru.


Special Thanks to:
1. Allah SWT.
2. My lovely man, Papa.
3. Rekan-rekan pendakian yang luar biasa; Mas Ali & Mas Jhon yang sering back up saya selama perjalanan dan menemani saya kalau saya jalannya lambat, Mas Joko & Mas Alvin yang juga turut memback up dan transfer beberapa bawaan, Edika yang ceriwis dan ramai sehingga perjalanan penuh dengan tawa, Bang Djenal yang pinter banget refleksi kaki meski sakitnya minta ampun.
4. Rekan-rekan pendakian yang juga luar biasa meski bareng hanya sampai pos 3; Bang Harbon dan Bang Keong yang juga sangat membantu, Bang Hari & Mbak Lina serta si kecil Asha-keluarga hebat yang memperkenalkan alam sedini mungkin pada anaknya.
5. Bang Ambon yang udah ngasih kertas buat bikin tulisan di puncak, juga Mas Aji yang mau dimintain tolong buat foto.
6. Pendaki yang minjemin boneka Mickey Mouse-nya, minjemmin hammock, dan yang ramah menyapa atau disapa saya.
7. Mbak Nefri & Mbak Airin yang sudah banyak kasih info.
8. Mbak Yuli yang udah kasih tumpangan sebelum berangkat ke Rinjani.
9. Bang Faiz dkk yang juga kasih tumpangan para gembel yang baru turun dari Rinjani, thanks buat asupan kopinya setiap hari. Hahahaha
10. Cebret/Okta yang akhirnya ngerjain saya di hari terakhir di Lombok demi Goa Kotak dan Batu Payung.
11. Bos saya, yang acc cuti saya. Teman-teman yang minjemin alat. Dan semua yang secara langsung maupun tidak telah turut andil dalam perjalanan saya kali ini.