Kamis, 09 Januari 2014

MERAMU KEMESRAAN, MERACIK KEBERSAMAAN DI BUKIT BESAR DAN SERELO




Tebing Bukit Besar dan Serelo, aku mengenal keduanya ketika masa studiku di Palembang. Bukit Besar dan Serelo, merupakan dua buah bukit yang terletak di Sumatera Selatan, tepatnya di Kecamatan Merapi Barat, Lahat. Kali pertama aku kesana awal tahun 2008. Berangkat dari Palembang menuju Lahat memakan waktu selama kurang lebih enam sampai delapan jam dengan menggunakan kereta. Turun di stasiun Banjarsari, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sukamerindu selama satu hingga dua jam. Desa Sukamerindu merupakan salah satu desa dari beberapa desa yang berada di Kecamatan Merapi BaratKali pertama menginjakkan kaki disana, kesulitan yang paling ku alami adalah bahasa, dimana ada beberapa bahasa yang tidak kupahami.

Agenda berkunjung ke Bukit Besar dan Serelo selanjutnya menjadi agenda rutin setidaknya sekali dalam setahun bersama rekan sekaliggus saudaraku di sebuah organisasi mahasiswa pecinta alam. Lokasi paling menyenangkan di Bukit Besar berada di sebuah tebing dengan batuan andesit, tahun 2008 adalah kali pertama pula aku memanjat tebing alami. Pada lokasi tebing ini, terdapat air terjun dan sungai yang jernih. Setiap kali aku dan rekan-rekan berkunjung kesini, kami selalu menikmati nyanyian air tebing di tengah-tengah hangatnya kebersamaan yang kami ramu. Lokasi ini pula yang menjadi tempat favorit kami untuk mandi, selain karena airnya yang jernih dan sejuk, sungai ini memiliki panorama yang begitu alami dan menetramkan jiwa.

Untuk menuju bukit Serelo, biasanya kami menyebrangi sebuah sungai besar yang jika hujan airnya mengeruh menjadi coklat seperti kali. Di lokasi ini, terdapat banyak lintah dan pacet. Pertama kali aku menemukan seekor pacet yang tengah asik menghisap darahku, aku hanya teriak-teriak memanggil rekan satu pendidikanku sambil berseru “apa ini?”. Rekanku yang asli orang Palembang dan sepertinya biasa melihat pacet hanya menghapiriku sambil berkata “tenang, kalau sudah kenyang nanti dia lepas sendiri, atau kamu taburin aja kopi atau abu rokok”.
Ada sebuah pondok dan lahan di tepi sungai tersebut tempat kami beristirahat. Hal yang paling malas ku lakukan di tempat ini adalah mandi, selain airnya yang kotor, pacet dan lintah jadi alasanku untuk memilih tidak mandi disini. Sah-sah saja kan tidak mandi di dalam hutan? Hehehehe. Pernah suatu ketika, ada salah satu rekan yang digigit lintah dan mengalami demam semalaman. Meskipun dengan kondisi lokasi yang seperti itu, suasana kebersamaan selalu hadir di tiap langkah perjalanan kami. Saling membantu dalam kegiatan yang panjang dan memakan tenaga yang tidak sedikit. Belajar saling memahami dengan keterbatasan alam yang mengajarkan kami banyak hal dalam kehidupan.
Berangkat dari pondok tersebut, di bukit Serelo juga terdapat sebuah pondok di tengah sawah yang asri. Letaknya di lembah yang begitu indah, dengan kunang-kunang sebagai bonus cahaya pada malam hari. Meski tubuh lelah dan lengket, di tempat ini setidaknya kami terhibur oleh adanya pancuran air di tengah sawah untuk mandi. Selain itu di tengah sawah terdapat sebuah batu besar yang dapat dinaiki, disana aku dan rekan-rekan biasa menghabiskan malam ditemani nyanyian jangkrik, kunang-kunang, sembari menatap langit yang begitu luas. Ini merupakan tempat terindah yang sangat menenangkan jiwa dari kepenatan kota yang begitu sumpek.

Bukit Serelo, memiliki tebing pada puncaknya yang disebut Kedaton. Meski Bukit Serelo tak memiliki ketinggian setinggi gunung-gunung, namun pemandangan dari tepi Kedaton sungguh luar biasa. Dari sana terlihat kota Lahat beserta sungai Milang . Jalur mencapai Kedaton cukup menyebalkan karena licin dan hanya menyediakan akar-akar kecil serta ilalang sebagai pegangan, tak jarang dalam perjalanan turun kami begiru sering terpeleset dan mengotori baju kami.



Bukit Besar dan Serelo, keduanya memberi kisah dan kenangan yang begitu dahsyat dalam hidupku. Awal sebuah persaudaraan yang terikat tanpa ikatan darah. Sebuah pembelajaran untuk memahami banyak hal, banyak orang, dan begitu banyak konflik.
Bukit Besar dan Serelo, tempat kita meramu kemesraan, meracik kebersamaan. Menjadi hangat dan penuh rasa.

Jumat, 27 Desember 2013

PEREMPUAN SENJA

Langit memerah seiring matahari mulai menggelincirkan dirinya ke barat. Perempuan itu masih diam di tempatnya. Sembari menatap langit, dihirupnya angin senja. Senja selalu punya ruang dalam dirinya, untuk dinikmati, dikagumi, sekaligus ditangisi. Ia menghela, letih.

Ingin ia berharap senja lebih lama , namun nyatanya senja adalah perbatasan yang sangat sempit. Pertemuan antara senyum dan tangisnya. Matanya masih terpaku menatap langit, memandang senja. Matanya turut pula memerah, menahan hujan yang siap turun kapan saja.

Baginya, senja adalah dua sisi. Ia mampu tersenyum tapi sekaligus menangis karenanya. Sekali lagi ia menghela, pandangannya menurun, dagunya berpangku pada lutut. Ia tak sanggup melihat langit, ketika senja mulai menjadi muram, menjadi gelap.

Ia masih diam, menghirup angin senja yang menjadi dingin. Tubuhnya mulai meringkuk, memeluk erat malam. Ia telah menciptakan hujan. Saat itu pula ia menjelma, perempuan senja pada sisi malam.

Yogyakarta, 27 Desember 2013

PEREMPUAN HUJAN

Ia masih disana, tangan kanannya sibuk menekan tombol mouse, pandangannya lurus mengeja huruf dan angka yang berderet. Ia disana tapi tak disana. Ia memandang, kosong. Seolah jari-jari tangannya bergerak tanpa komando.

Sesekali ia terhenti, diam, gamang. Ia lelah, sungguh, dari dalam dirinya seakan ingin melawan tapi ia jatuh. Ia ingin percaya bahwa ia mampu meski tertatih. Hey, ia bukan seperti yang lainnya bukan? Ia hanya ingin tak dilewatkan.

Ia kembali menyibukkan diri, bahunya mulai menurun, memaksa bersandar. Matanya sayu, semakin kosong. Ia tahu persis apa yang diinginkannya, tak ada yang lain. Ia tahu persis pundak mana yang diharapkannya mampu menopang beratnya, sebentar saja.

Ia pun hanya perempuan biasa. Bisa jatuh meski sanggup berlari, bisa hujan meski kemarau panjang. Ia tak bisa menolak, tak kuasa berontak. Seketika ia menjelma. Sudah terlalu letih, sudah merapuh, pertahanan terakhirnya mulai longsor. Ia menjelma, perempuan hujan siang itu.

Yogyakarta, 26 Desember 2013.

Kamis, 12 Desember 2013

A M N E S I A



Aku mengingat, lebih tepatnya berusaha mengingat, nama belakangmu.
Aku lupa, lebih tepatnya mungkin aku tak tahu, tanggal lahirmu.
Otakku masih kupaksa bekerja lebih keras, aku mulai tertekan.
Ingatanku terus kupaksa mengulang, apa aku amnesia?
Tak ku temukan selembar dokumen pun yang merujuk padamu.
Kemana mereka? Foto-foto itu, ingatan-ingatan itu.
Tak kutemukan!
Benarkah amnesia?
Atau memang semua terjadi terlalu singkat?
Dalam waktu yang tak lama.
Ingatanku sudah hampir pada titiknya.
Aku tak mampu mengingat banyak.
Tragis, berdosakah aku?
Sungguh, ingin sekali aku mengingat.
Bahwa tanganku pernah kau tuntun.
Bahwa aku pernah memanggil namamu.
Saat mereka sibuk bercerita, maka aku diam.
Namun aku percaya,
Dua puluh tahun lalu,
Aku pernah ada dalam dekapanmu.
Tertidur pulas dalam tangan-tanganmu yang kokoh.
Yogyakarta, 12 Desember 2013.
Untuk yang Tercinta dalam Peristirahatannya

Kamis, 21 November 2013

PURNAMA, TOLONG LEBIH LAMA.



Ia duduk di tepi sebuah kursi panjang, siang telah digantikan malam. Nafasnya dihela dengan panjang, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu diucapnya. 

Malam itu purnama, ia tahu tak boleh berharap lebih selain memandangnya. Seandainya bisa, ia ingin agar malam biarkan purnama lebih lama. Ingin ia katakan "Matahari datanglah lebih lambat esok pagi".

Ia menatap orang di hadapannya, tangannya digenggam tapi ia enggan berucap. Ia tak ingin semua berhamburan. Tapi kediamannya telah menimbulkan pertanyaan. Apa yang akan ia jawab?

"Lihat! Purnamanya bagus sekali." Setengah berteriak ia berkata. Hanya itu yang bisa dikatakannya. Malam itu cerah. Dalam hati ia berbisik, haruskah ia bersyukur atau mengutuk hujan yang tak datang malam itu.

Diliriknya jam di pergelangan tangannya, sudah lewat jam dua belas malam. Hari dan tanggal pun sudah berganti, tapi ia masih diam, sungguh ia bingung dan membuat orang di hadapannya turut bingung. Mereka menyantap makan malam yang kesiangan dengan lebih banyak diam.

Ia tersadar ia tak boleh berharap lebih, ia tersadar purnama makin turun ke barat. Adakah orang di hadapannya tersadar?

"Pagi, tolong jangan datang dulu." Doanya. Waktunya habis di sudut kedai dengan kisah yang mengingatkan luka. Ia tahu pasti purnama di langit sana begitu indah, sayang tak dapat dinikmatinya.

Ia hanya berusaha mengerti, bisa melihatnya dan tertawa saja sudah cukup, ia sadar, tak boleh berharap lebih. Purnama tertutup mendung, tolong muncul lagi, jangan biarkan matahari cepat datang, kali ini saja. Ia tau, ia egois dan itu hampir mustahil.

Yogyakarta, November 2013

Rabu, 20 November 2013

SEPOTONG HATI DALAM CANGKIR KOPI



Kamu masih tertidur pulas pagi itu, wajahmu nampak begitu polos. Kamu percaya? Kalau kita akan lebih menyadari bahwa kita menyayangi seseorang saat menatapnya orang itu ketika ia tertidur? Saat ini aku percaya. Bagaimana tidak, bangun di pagi hari dan menatap wajahmu yang masih terlelap dalam alam tidurmu. Kadang kita terlalu tidak peka untuk menyadari bahwa sesuatu yang berharga ada sangat dekat dengan kita.


Pelan-pelan ragamu mulai berontak membangunkan jiwamu dari alam bawah sadarmu. Matamu mulai terbuka dan tersenyum melihatku yang masih menatapmu. Sembari kamu mengatakan ingin secangkir kopi, jadilah pagi itu aku menyeduh kopi dan menaburkan coklat granule di atasnya. Terlintas untuk melukis sesuatu di atas permukaan kopi, sebuah lukisan yang berbentuk hati, tidak sesempurna lukisan seorang barista di kafe-kafe mungkin, tapi sepotong hati ada di dalam cangkir kopimu pagi itu. 

Sepotong hati yang ku biarkan kau nikmati, kau hirup dan kau minum. Sepotong hati yang telah kau pilih untuk disimpan dalam sebuah ruang bernama “hati” di dalam rumahmu.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, semoga mampu membawa semua yang ku rasa kepadamu, semoga mampu menyampaikan bahwa tak ada yang perlu kau khawatirkan, karena sesungguhnya aku miliki juga kekhawatiran itu.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, semoga mampu menjagaku untuk tidak jatuh.


Sepotong hati dalam cangkir kopi, ku berikan padamu.



Blitar, 5 November 2013.

Jumat, 15 November 2013

J A R A K



Dari sudut seratus delapan puluh derajat, kita sejajar. Aku memandang wajahmu, tertidur pulas. Usai sudah obrolan malam itu. Kini aku nikmati malam yang merengkuh setelah kau lebih dulu merengkuhku. Tak ada kekhawatiran untuk jatuh dalam pelukanmu.

 

Esoknya busmu berjalan menjauh, menciptakan jarak. Kau dan aku hanya berkirim pesan. Pernah suatu pagi terasa lebih panas dari biasa, ku temukan sebuah lagu yang ingatkan kau pada yang lampau. Sungguh, aku tak akan mengingat jika bukan kau yang mengingat terlebih dulu.

 

Di balik jendela ku tatap hujan. Jarak, membuatku tak bisa tiba-tiba menyandarkan kepalaku. Aku mencari-cari tanganmu, yang ku temukan hanya angin. Jarak tak berpihak padaku.

 

Pesan singkatmu memintaku tak khawatir, tapi tahukah kau? Kekhawatiran sudah menguasai otak. Apa dayaku?

 

Kepalaku tak tersambut oleh belaian tanganmu. Aku masih saja menatap hujan, menahan gemuruh agar tak banjir. Jarak, menciptakan bahasa menjadi sesuatu yang ambigu.

 

Mataku tak mampu menembus hujan, apalagi menembus puluhan kilo meter jarak ini. Sungguh, seandainya kau disampingku tak ada yang lebih bahagia selain hanya bersandar dan mendapat belaian darimu.

 

Sayangnya, aku berada dalam ruang kosong yang penuh. Hari-hariku terperangkap disini. Menatap hujan.

 

Suaramu jelas terdengar merambat lewat udara, lagi-lagi dengan sabar kau memintaku tak khawatir. Aku tak bisa, sungguh aku menyesal dengan perasaan ini. Setiap orang punya kekhawatiran kan? Begitu juga kau.

 

Masih di balik jendela, telepon genggamku dipengaruhi hujan. Sinyal menciut, aku percaya sinyal terpengaruh cuaca, tapi sinyal kita? Terpengaruhkah oleh hujan?

 

Bahasamu mendiam. Otakku semakin tak terkendali. Sungguh, tak akan kembali ku ingat jika bukan kau yang lebih dulu. Perasaan salah mulai bercampur. Aku makin tak berdaya.

 

Hujan terlalu deras, ruang kosong ini penuh air. Inikah perasaan yang pernah kau sebutkan? Pantas kah ku miliki perasaan itu? Maaf.

 

Bumi Raya Tajem, 15 November 2013