Kamis, 18 Oktober 2012

Make It More Affordable



This is something I tried to start..

when I began to find..

I lost myself, falling.

then I lost something that I've never even had.




“Aku hanya mencoba sesibuk mungkin agar tidak ada celah untuk memikirkan soal hati.”
“Otakmu itu butuh refresh. Jangan terlalu diforsir.”
“Jadi setelah ada yang mengatakan hal itu, apakah kamu masih perlu banyak waktu untuk meyakinkan?”
“Semua tidak sesimple yang kalian bicarakan.”
“Hanya kamu saja yang terlalu pelit memberi kesempatan.”
Semua dialog yang pernah terjadi lalu tersudut pada sebuah kalimat “Terlalu banyak berpikir dengan otak, membuat kita lupa dengan hati”.

And when I tried to start again, it is not as simple as a sentence,

but make it more affordable, may!!

Senin, 15 Oktober 2012

Memiliki Kehilangan




Aku duduk pada sebuah sudut ruangan, masih dengan segelas kopi. Setelah semua yang pernah aku katakan atau pun kamu bicarakan lewat kalimat-kalimat yang pernah kita susun masing-masing tentang kehidupan, rasanya aneh ketika bahkan sejam pun aku tak mampu menemukan satu kata darimu.

Kopi ini aku racik dengan komposisi dua sendok teh kopi dan satu sendok teh gula, terlalu kental seperti yang orang katakan, tapi aku menyukai kopiku. Sudah delapan jam sejak cangkir itu terhidang, dan aku semakin dekat dengan ampasnya. Kopi semakin nikmat saat ia semakin mendekati ampasnya, pahit dan memberi keasaman yang khas pada lidah.

Bersamaan itu pula aku nikmati, Aku Memiliki Kehilangan.......

Rabu, 19 September 2012

Bahagia itu Sederhana



Setiap orang pastinya ingin merasakan bahagia. Apa ukuran bahagia itu? Kita sering melihat orang yang punya segalanya, materi yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau pasangan hidup yang tampan atau cantik. Apa semua itu ukuran sebuah kebahagiaan?

Pagi hari tadi, saat terjebak lampu merah selama seratus dua puluh detik di perempatan ring road utara, seorang ibu dengan pecut di tangannya melenggak lenggok di atas aspal dengan diiringi alunan gamelan yang dimainkan seorang pria paruh baya di tepi trotoar. Inilah profesi mereka yang mencari nafkah di tiap persimpangan lampu merah. Tiga puluh detik kakinya mencumbu aspal, kemudian ia menyodorkan botol plastik bekas yang dipotong kepada para penontonnya. Setiap koin atau uang kertas dijatuhkan ke dalam botol itu, ia tersenyum menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa jawa, seraya pergi bergeser ke para penonton lain dan kembali merapat ke tepi trotoar menanti lampu merah berikutnya. Saat itulah saya kemudian ikut tersenyum, tidak ada yang istimewa dalam kejadian itu, tapi melihatnya tersenyum karena apa yang bisa kita bagi bersamanya membuat kita juga dapat tersenyum bahagia. Sekecil apapun nilainya.

Berkaca dari hal yang saya lihat pagi tadi, saya berpikir, orang-orang yang dikatakan memiliki segalanya, apa mereka juga pernah beruntung dapat merasakan hal yang saya alami tadi? Di balik uang-uang yang melimpah, kadang kala kita merasa kurang bahagia karena selalu merasa “kurang”, kesepian karena kadang orang-orang mengenal kita karena segala yang kita punya. Dengan jabatan yang tinggi, kadang kita merasa kurang bahagia karena terlalu mengejar apa yang kita obsesikan. Orang-orang yang memiliki pasangan hidup pun belum tentu selalu bahagia, terkadang kita terlalu memikirkan bagaimana caranya untuk “memiliki” hingga pikiran kita tersita dengan rasa-rasa yang justru terasa menyakitkan, dan bahkan hingga melupakan bagaimana caranya untuk saling “berbagi”.

Bahagia itu sederhana dan tidak mahal…….


Sartika Noriza
Yogyakarta, 20 September 2012

Sabtu, 11 Agustus 2012

Aset Terbesar Perusahaan Adalah Sumber Daya Manusia

Perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba sebesar-besarnya, meminimalkan biaya yang dikeluarkan. Dalam mencapai tujuannya perusahaannya menggunakan aset yang dimilikinya, aset ialah sesuatu yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan suatu manfaat. Aset dapat berbentuk dalam suatu peralatan, tanah, gedung, dan bahkan adalah manusia. Aset terbesar dan terpenting yang dimiliki perusahaan adalah sumber daya manusia dalam hal ini adalah karyawan perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang sadar akan aset potensial ini tentunya akan memberikan penghargaan yang baik kepada setiap kaw\ryawan yang dimilikinya, baik dalam bentuk remunerasi, ataupun kenyamanan dalam bekerja. Karyawan tentunya akan merasa nyaman dan berusaha bekerja dengan sebaik mungkin apabila perusahaan memberikan kesempatan penghidupan dalam taraf yang layak serta penghargaan atas karya-karya mereka. Dalam praktiknya, mungkin banyak perusahaan yang kurang sadar atas pentingnya aset sumber daya manusia, padahal tanpa karyawan aset-aset lainnya tidak mungkin dapat bergerak dengan sendirinya, apa jadinya jika seluruh karyawan suatu perusahaan tidak mau bekerja?

Minggu, 29 Juli 2012

Mencintai dalam Diam


Hidup itu selalu soal pilihan,
Kemudian mengorbankan kesempatan lain yang ada karena pilihan,
Orang-orang ekonomi menyebutnya “Opportunity Cost”.

Hidup itu tidak selalu rasional,
Saat-saat tertentu kita justru menjadi tidak logis.
Bicara soal “perasaan” sangat jauh dari logika.
Seperti bertolak belakang.

Kehidupan selalu menghadapkan kita kepada pilihan-pilihan, entah itu dalam hal kuliah, pekerjaan, dan yang paling ruwet adalah soal perasaan. Hehehehe :)

Saya belum menemukan definisi mengenai sesuatu yang disebut orang-orang “cinta” atau mungkin memang ia tidak dapat didefinisikan? Entahlah. Banyak orang bicara soal cinta, katanya cinta itu buta, cinta itu nggak kenal logika, cinta itu menyakitkan, cinta itu tidak harus memiliki, dan sederet kata-kata “cinta itu..” lainnya. Dalam konteks kali ini yang dibicirakan adalah cinta dengan lawan jenis.

Katanya cinta itu butuh pengorbanan, nggak peduli dicemooh orang atau dianggap “bodoh”, katanya juga batas “cinta” dan “bodoh” itu tipis banget. Banyak orang-orang bicara soal cinta, bagaimana rasanya ketika mulai merasakan sangat menyukai dengan seseorang, mendekat, kemudian menjalani fase perkenalan lebih dalam atau yang sering disebut “pacaran”. Rasanya semua rela dilakukan untuk seseorang yang special itu. Kadang-kadang dibumbui juga dengan marahan atau sakit hati, merasakan sakit hati tidak perlu patah hati kan? Hehehehe :). Merasa sakit hati karena diacuhkan, sakit hati karena tidak didengarkan, sakit hati karena tidak dihargai pengorbanannya, sakit hati karena terlalu sering dicemooh orang-orang, atau sakit hati lainnya yang mungkin terjadi dalam fase perkenalan itu.
Tapi kata orang, cinta itu juga “manis”. Rasanya senang saat ada orang yang bisa dirindukan dan merindukan, diperhatikan dan memperhatikan. Menghabiskan banyak waktu bersama-sama membuat kita terbiasa bersama. Banyak hal yang dilewati mulai dari senang sampai susah. Saling menjaga dan siap menjadi sandaran saat lelah. 

Banyak opini tentang “cinta”. Banyak kisah tentang “cinta” pula. Ia seperti sesuatu yang berkeliaran dalam pikiran, berjalan-jalan sepanjang kehidupan. Setiap orang punya opini dan kisah cinta mereka masing-masing, mulai dari tawa canda hingga tangis, jingkrang-jingkrak hingga jatuh bangun. Bagaimana dengan kalian..??


Aku tidak pernah mengerti apa yang disebut orang-orang dengan "cinta", Suatu waktu aku pernah merasakan tidak ingin memiliki secara fisik, tidak ingin bicara lewat kata-kata manis, saat itulah aku belajar, mengerti untuk mencintai dalam diam.


Di suatu sudut Kota Yogyakarta, 30 Juli 2012
-Sartika Noriza-

Senin, 09 Juli 2012

Mengapa Naik Gunung? Karena Di Sana Ada Kesederhanaan

Mengapa naik gunung?

Saya tidak akan mengutip jawaban yang dilontarkan Soe Hok Gie dalam bukunya, tapi pertanyaan ini nyatanya juga kerap kali dipertanyakan oleh keluarga dan teman-teman saya. Ya, mengapa naik gunung? Tanpa lampu, kasur empuk, dan fasilitas lainnya, yah pokoknya kenapa mau ke gunung padahal di rumah atau kota tersedia banyak hal yang enak.

Setiap orang yang mendaki gunung punya alasan dan kesenangan masing-masing, entah itu karena ingin mencapai puncak atau hanya sekedar menikmati suasananya. Saya ingat, pertama kali saya mendaki gunung pada tahun 2004, saat umur saya menjelang 16 tahun dan setelahnya lumayan sering saya lakukan. Naik gunung, bagi saya adalah hal yang menyenangkan dan menarik. Pergi ke tempat-tempat yang jauh dari kata “mewah” membuat saya merasa nyaman dalam sebuah pelarian dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Kita akan merasakan nikmatnya tidur di dalam tenda hanya beralaskan matras yang digelar di atas tanah dingin, dibelai kabut dingin, dan disambut sinar mentari pagi harinya. Semua masakan yang dimakan terasa berkali-kali enaknya meski hanya sebungkus indomie rebus dan kopi hangat.

Naik gunung, memberi saya kesempatan mengenal banyak orang dan belajar banyak hal. Perjalanan berpeluh keringat dan batuan terjal membuat saya belajar mengerti sifat banyak orang. Seperti kata teman-teman yang juga senang naik gunung “sifat seseorang lebih terlihat saat naik gunung”.

Naik gunung memberikan saya sebuah kepuasan tersendiri, bukan karena saya mencapai puncak dan berdiri lebih tinggi dari puncaknya, tapi karena saya menemukan “kesederhanaan” di sana, bangun pagi disambut mentari dan dingin kabut, masak dan makan, senda gurau bersama teman-teman, saya sejenak melupakan jenuh dirongrong waktu dan materi. Naik gunung membuat saya menghargai kesederhanaan, dimana semua tidak diukur dari “uang”, uang seperti bukan nomor satu di sana, yah nggak ada kan indomaret di gunung? Dimana setiap orang (para pendaki) saling bertegur sapa dan melempar senyum ketika berpapasan di jalur, saling menolong saat yang lain susah padahal belum mengenal dengan sangat dekat.

Naik gunung, memperlihatkan kepada saya banyak hal, orang-orang baru, pemandangan indah, pembelajaran mengalahkan ego sendiri, dan saling berbagi.

Semua orang bisa naik gunung, mencapai puncak, dan turun lagi. Tapi tidak semua orang bisa mengalahkan ego sendiri. Naik gunung bukan berarti kita telah “menaklukkan” gunung, puncak bukan tujuan.
SETIAP TITIK ADALAH PUNCAK

Ya, Mengapa naik gunung? Karena di sana ada kesederhanaan……

Gunung Merapi, 8 Juli 2012.
-Sartika Noriza-

Minggu, 10 Juni 2012

Kopi, Lifestyle atau Kebutuhan?

Kopi, bisa didapatkan dan dinikmati dimana saja, di rumah, warung kopi, atau dalam kemasan yang bisa dibawa-bawa. Saya mulai mengenal kopi saat duduk di bangku SMP, seingat saya waktu itu kopi dalam bentuk sachet rasa vanilla yang hampir setiap hari ada di meja makan menyambut kepulangan ayah saya dari kantor. Sejak saat itu saya jadi mulai mengkonsumsi minuman itu, saya mulai mencoba kopi bubuk hitam dicampur gula. Saya menjadi lebih menyukai kopi hitam dibanding kopi sachet yang praktis dan terlalu banyak krim. Frekuensi minum kopi saya semakin meningkat terutama saat kuliah, dimana saya aktif dalam organisasi dan kegiatan selayaknya seorang mahasiswa, saat menghabiskan waktu sekedar berbincang saya juga sekaligus menghabiskan beberapa cangkir kopi. Saya menjadi terbiasa "melek" di malam hari, tidur di pagi hari beberapa jam.
Dalam perjalanan-perjalanan saya, kopi menjadi sesuatu yang wajib dinikmati, entah di atas kapal laut, dalam dinginnya gunung, dan di warung kopi. Saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang jenis-jenis kopi, mesin penggilingnya, ataupun cara penyajiannya, yang saya tahu kopi nikmat itu kental dan pahit. Saya mencoba beberapa jenis kopi, kopi susu, kopi tradisional dari berbagai daerah,  vanilla latte, ataupun cappucino.

Kopi disajikan dengan bermacam cara dan bentuk, mudah didapatkan dan dinikmati, dari kopi yang dibandrol dengan harga sangat terjangkau hingga yang sangat melangit. Beberapa kali saya mencoba kopi dari sebuah coffee shop yang dikemas dalam gelas plastik dan bisa dibawa kemana-mana, dengan harga yang mungkin tidak bisa dijangkau setiap saat oleh semua orang. Tapi seringkali saya menikmati secangkir kopi di kedai kopi sederhana, kental dan pahit disajikan dalam cangkir kopi yang kecil, disana saya temukan bahwa kopi lebih dari sekedar kopi, ia membuat kita bicara, mengerti dan memahami. Kopi membuat kita mendapatkan dorongan akan kebutuhan bersosialisasi. Kopi tidak menjadi sekedar bubuk hitam yang diseduh. Kopi menjadikan orang-orang dekat dengan kehidupan tapi bukan "Gaya Hidup", kopi membuat orang-orang menjadi sederhana, tertawa, dan sejenak lepas dari "ketegangan".
Bagi saya, mungkin kopi cenderung menjadi kebutuhan, disamping kopi hitam pahit dan kental, dengan sedikit gula, saya terbiasa menikmati kopi sachet di sela-sela aktivitas saya.
Bagaimana dengan Anda? Kopi, lifestyle atau kebutuhan? Bagaimana pula dengan kopi dalam kemasan plastik yang bisa dibawa kemana-mana?
Hal itu tergantung pada diri masing-masing, tapi kita pasti tahu, esensinya adalah Kopi menjadikan kita "Bicara"..

Yogyakarta, 10 Juni 2012

Kamis, 07 Juni 2012

Menghargai Pilihan

Hidup itu selalu soal pilihan, memilih yang satu dan mengorbankan yang lainnya. Duduk diantara dua pilihan justru akan mengakibatkan kita melepaskan keduanya, seperti dalam sebuah buku dikatakan "Satu menggenapkan, dua meniadakan". Memilih terlihat sepele dan mudah, meski setelahnya kesulitan akan muncul dan kita tertatih menjalaninya, seringkali kita merasa tidak yakin dengan apa yang kita pilih, kadangkala pula kita ragu akan kemampuan kita untuk menjalani apa yang kita pilih, itu yang sulit yaitu menghargai pilihan kita sendiri.
Hidup memang selalu soal pilihan, termasuk memilih untuk tidak memilih. Seandainya saja bisa seperti itu. Namun apapun pilihan kita, seberat apapun itu, sebenci apapun kita dengan pilihan itu, belajarlah untuk menghormatinya, belajar untuk menyukai apa yang telah kita pilih, disamping memilih apa yang kita sukai. Semoga hidup jadi lebih bersemangat..!!

#Tulisan ini bukan sebuah motivator atau kata-kata bijak, hanya sekedar coretan hati seorang Sartika Noriza, karena hidup tak semudah kata-kata, tak ada yang lebih tau tentang kehidupanmu sendiri kecuali dirimu sendiri.
Yogyakarta, 7 Juni 2012

Rabu, 06 Juni 2012

Hanya Karena Saya Seorang Perempuan


Perempuan, satu kata itu yang sering orang lain katakan pada saya saat hal-hal yang saya lakukan menjadi tidak biasa, hanya karena saya seorang perempuan. Seperti misalnya saat saya mulai menyenangi kegiatan-kegiatan alam terbuka semacam hiking, camping, maka orang-orang akan berteriak "kamu itu perempuan", atau saat saya tertawa terbahak-bahak beberapa orang juga akan mulai protes "perempuan tidak semestinya tertawa begitu".
Perempuan, Apa karena saya adalah perempuan, maka hal-hal yang saya lakukan menjadi aneh dan tidak lazim? Apa karena saya seorang perempuan, saya tidak semestinya menjadi seorang yang pemberontak dan membangkang? Apa perempuan tidak lazim untuk berpendapat dan berargumentasi dengan keras? Karena saya adalah seorang perempuan, maka orang-orang memandang aneh saat saya dengan ransel besar berisi pakaian, alat mandi, dan lainnya berpindah-pindah tempat, termasuk mandi di kamar mandi kampus. Karena saya seorang perempuan, apa saya harus selalu mengenakan make up atau pakaian yang feminim? Sementara saya lebih merasa nyaman dengan celana jeans dan kaos, dipadukan sendal jepit. Apa sebagai seorang perempuan, saya tidak boleh mendaki gunung, berbicara keras, atau tertawa lepas?
Hanya karena saya seorang perempuan, orang-orang memandang hal-hal yang saya lakukan menjadi di luar yang "biasa".

Selasa, 05 Juni 2012

Di Sudut Senja Ada Rindu

Aku tidak pernah jenuh menatap senja, begitukah pula dengan kalian?
Masih ingatkah senja-senja kita, saat kita menatap bunga ungu yang bermekaran lalu gugur dan menjadi kering, memandang rumput hijau lapangan yang memerah karena terkikis. Senja kita tak perlu romantis, di pantai pasir putih, tak perlu ombak yang berkejaran dengan kaki-kaki kita.
Senja kita tak perlu dramatis, bicara soal cinta atau kehidupan.
Senja kita dalam kesederhanaan, yang menerimanya singkat untuk pergi menuju malam.
Senja kita yang singkat cukup dengan tawa dan secangkir kopi yang membawa kita pada malam yang lebih panjang, membicarakan soal kelakar-kelakar ringan atau sekedar memainkan gitar.



Meski terbentang jarak beratus-ratus kilometer, senja selalu mendatangkan rindu, mungkin aku kehilangan suasana itu, tak melihat lagi bunga ungu yang mengering atau lapangan yang terkikis, tapi aku tak ingin dan berharap tak akan pernah kehilangan kalian. Di sudut senja ada rindu.. selalu..
#Teruntuk saudara-saudaraku ALTAR Mafesripala
Yogyakarta, 6 Juni 2012