Selasa, 21 Juni 2016

BEKAS LIPSTIK PADA CANGKIR KOPI


Membekas, lipstikmu mendarat pada cangkir kopi yang berwarna putih. Matamu masih sama, hangat seperti secangkir kopi yang masih mengepul.

"Rokok?" kataku menawarkan. Kamu tersenyum menggeleng. "Jadi apa kesibukanmu sekarang?" lanjutku mengajakmu bicara.
"Masih sama, sibuk memikirkan kamu." guraumu.
"Hahaha, aku serius bertanya dan jawabanmu selalu bergurau." aku mulai memprotes.
Kamu tertawa lagi, lalu menyeruput kopi.  

Ah, kamu tak berubah banyak. Wajah, tatapanmu, dan caramu meminum kopi. Semua hampir persis sama seperti dulu. Aku pikir kita tak akan sesantai ini lagi, rupanya kita masih bisa menikmati kopi bersama dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Aku sendiri berpikir bagaimana bisa kita seperti ini, setelah lipstikmu membekas pada bibirku malam itu. Kesalahan kah atau memang tak ada arti apa pun bagimu?

"Kamu sendiri bagaimana?" tanyamu membuyarkan lamunan.
"Tak banyak berubah, sibuk mencari kesibukan agar tak punya waktu memikirkanmu." balasku setengah bergurau.
Kamu tertawa tak bisa membalas. Skakmat kataku.

Aku tetap sibuk bertanya-tanya, bagaimana bisa kita bersikap biasa setelah malam itu? Rupanya tanpa sadar kita telah saling melukai. Kita mungkin adalah orang yang dipertemukan oleh kesepian, kita mungkin adalah manusia yang bertemu pada persimpangan pelarian. Dan itu tak cukup untuk mengajak kita saling menyembuhkan.

"Yang tersisa, yang tersisa dari kita adalah kenangan, sedikit luka. Waktu mungkin tak akan menghilangkan kenangan atau menyembuhkan luka. Yang perlu kita lakukan adalah berdamai. Biarkan apa yang tersisa seperti bagaimana ia seharusnya, biarkan ampas kopi tersisa mengendap pada dasar cangkir."

Selasa, 23 Februari 2016

MAMA, SELAMAT ULANG TAHUN!




22 years has been passed.

Dear Mom,
Happy Birthday.
For the first time I give you a gift.
I can't give you a cake, kiss or hug.
So, I just made this video.
Love you always.

Tangerang Selatan, 22 Februari 2016.

Selasa, 26 Januari 2016

Mencintaimu Adalah Hal Yang Paling Tak Ingin Ku Rasionalkan


Mencintaimu adalah hal yang paling tak ingin ku rasionalkan. Kita terpaut perbedaan prinsip yang cukup mendasar. Meski tangan kita menggenggam kenyamanan itu bukan alasan cukup untuk bersama. Kamu adalah dia yang tak terjangkau olehku, dibatasi benteng yang kamu bangun untuk tak jatuh hati.

Mencintaimu adalah hal yang paling tak ingin ku lakukan. Aku terlalu takut pada akhirnya kita hanya akan saling membuat patah. Aku selalu mampu jatuh hati meski patah juga berkali-kali, tapi kamu tidak. Mencintaimu hanya akan membuat kamu semakin takut jatuh hati. Karena itu, kita nikmati saja genggaman ini. Nanti saat kita tak lagi saling menggenggam, itu artinya kamu telah temukan tempat dimana hatimu telah benar-benar jatuh.
 
September 2015

Senin, 25 Januari 2016

11 JANUARI

Tangerang Selatan, 11 Januari 2016


26 tahun.

Tidak ada yang spesial dari peringatan ulang tahun, selain usia kita yang semakin berkurang. Juga angka yang semakin menua di mata orang-orang. Menginjak usia 26 tahun, saya bohong jika tak ada kekhawatiran dalam diri saya. Khawatir adalah manusiawi, setiap orang punya cara sendiri mengatasinya. Jangan lupa berbahagia, memberi kesempatan pada diri sendiri adalah cara baik untuk selalu berbahagia.

Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Rabu, 06 Januari 2016

SELAMAT ULANG TAHUN PAPA!

Pangkal Pinang, 1 Januari 2016

Sudah sedari tadi, bunyi mercon dan kembang api bersahutan di langit Pulau Bangka. Meskipun begitu, suasana tahun baru disana jauh lebih tenang dibanding dengan ibu kota. Malam tahun baru kali ini, saya sedang berada di ibu kota Pulau Bangka, sendirian dengan tubuh yang mulai meriang karena flu. Jauh dari rumah, jauh dari Papa dan jauh dari kucing saya.

Tisu sudah banyak berserakan karena hidung yang tidak mau kompromi dengan keadaan. Rasanya saat itu saya ingin menelepon Papa mengeluh tentang meriang yang tiba-tiba menyerang setelah saya terlalu senang main air di pantai siang hari sebelumnya. Tapi saya kuatkan hati saya untuk tidak mengeluh pada Papa, meski pada akhirnya Papa tahu bahwa saya ternyata traveling sendirian dari Palembang menuju Bangka.Untunglah masih ada beberapa teman yang bisa saya temui disana.

Pukul dua belas malam, saya mengirimkan pesan singkat pada Papa. "Selamat ulang tahun Pa, semoga selalu diberi kebaikan dan keberkahan oleh Allah." Kemudian saya tertidur pulas setelah meminum satu tablet paracetamol.

Tidak ada yang istimewa di pergantian tahun bagi saya, kecuali dengan sederhana mengucapkan Selamat Ulang Tahun Papa.


Selamat Ulang Tahun Papa!
Foto diambil di Pantai Tanjung Pesona, Sungai Liat-Bangka, 31 Desember 2015.
 

Senin, 21 Desember 2015

MAMA, SELAMAT HARI IBU!

Tangerang Selatan, 22 Desember 2015
Mama, apa kabar? semoga baik dan tenang disana. Semoga segala doa-doa anak Mama mengiringi ke surga sana. Sudah 21 tahun lebih 5 bulan dan 11 hari sejak hari itu, hari dimana mama "pulang" dalam arti yang sesungguhnya.

Hari ini 22 Desember 2015 diperingati sebagai Hari Ibu, saya selalu mengalami sejenak titik buntu menulis tentang tema ini. Waktu kita yang singkat selama empat tahun enam bulan, ternyata tidak cukup memberikan saya ingatan yang banyak tentang kebersamaan kita. Apalagi di usia saya yang baru lewat empat tahun.

Lain hal dengan tulisan saya mengenai Hari Ayah, dimana saya menuliskan dengan rinci tanggal, bulan, dan tahun dalam setiap moment yang terekam dalam gambar. Maaf Mama, saya tak serinci itu mengingat setiap kenangan kita. Tapi bagaimanapun juga, saya selalu ingat bahwa Mama telah mengurus saya dengan sangat baik. Beberapa kenangan yang terekam dalam ingatan saya adalah ketika saya merengek minta dibelikan es krim saat tukang es krim keliling lewat di depan rumah dengan lagu khas mereka, juga saya mengingat saat saya duduk di dalam mobil yang mengiringi ke pemakaman dan kemudian saya menaburkan bunga di atas makam Mama.

Potongan-potongan foto masa lampau Mama yang berhasil saya kumpulkan, sebagian saya minta dari rumah Nenek dan kemudian saya scan. Foto-foto saat Mama masih kuliah, saat traveling, dan juga saat Mama dan Papa muda dulu. Kemudian saya tahu bahwa hobi saya traveling dan camping menurun dari siapa.


Mama semasa kuliah di Universitas Indonesia,
Sarjana Matematika dan kemudian bekerja sebagai Dosen.


Marlina (Mama), Tembok Berlin Jerman, mungkin sekitar tahun 1980-an.



Foto Mama, saya kurang paham dimana lokasi tepatnya

Papa dan Mama, Menara Eiffel Paris, mungkin sekitar 1980-an.

Foto Pernikahan Papa dan Mama.

Ulang tahun pertama tanpa Mama.

I love you always Mama, meski kita hanya sebentar bersama, tempat Mama tak terganti.
Happy Mother's Day!

Rabu, 11 November 2015

PAPA, SELAMAT HARI AYAH!


Tangerang Selatan, 12 November 2015.
Papa, Selamat Hari Ayah!
Love you always. Yes, both of you. Papa dan si Mpus (Mpus dibawa-bawa segala :p)


Inderalaya, 22 September 2011
Saya masih ingat betul saat menginjak semester keempat, Papa berulang kali menegur "Kamu jalan-jalan terus, kuliahnya gimana?". Saat itu saya hanya menjawab "Papa tenang aja, saya akan lulus tepat waktu."
Janji itu saya tepati saat semester kedelepan saya berakhir, September 2011. Pagi itu kita menempuh jarak kurang lebih 32 kilometer dengan mobil dari Palembang  ke Inderalaya, Papa melirik saya yang kerepotan dengan kain dan sepatu heels tujuh sentimeter. "Nah gitu dong, keliatan kayak cewek kan." katanya saat itu. Hari itu, bisa jadi yang lain mengecewakan saya (yang pada akhirnya saya pikir saya terlalu bodoh untuk kecewa pada orang yang tidak peduli pada saya), tapi Papa tidak. Terima kasih sudah menghadiri wisuda saya, semoga Papa bangga.

Rinjani, 3 April 2015.
Terima kasih papa sudah mengizinkan saya mendaki kesini. Meski saya tahu papa menyimpan rasa khawatir. Perjalanan ini memang melelahkan, saya bohong bila berkata perjalanan ini tidak menguras tenaga saya. Tapi jangan khawatir, saya baik-baik saja bersama dengan orang-orang luar biasa yang mendukung saya. Salam sayang dari 3726mdpl.


Ayahku, lihatlah, aku sudah pulang 
(Novel Ayah – Halaman 384)

Setiap weekend saya lebih sering jarang berada di rumah, Papa cukup paham bahwa ada hal yang selalu dapat saya temukan di luar rumah. Entah sekedar pergi ke kedai kopi atau bahkan mendaki gunung.
Sejauh apapun saya berjalan, selalu ada tempat untuk pulang dan papa adalah alasan untuk kembali pulang dengan selamat.
BSD, 12 Novermber 2015
Selamat hari Ayah, Papa dan semua Ayah di Indonesia. Juga para calon Ayah, semoga menjadi Ayah yang baik.

Senin, 09 November 2015

SENJA DI PULAU TUNDA

Agustus 2015.

Lama libur nge-trip bikin saya tetap jalan meskipun kondisi sedang flu berat (bos saya sampai wanti-wanti jangan sampai Senin saya absen kerja apalagi kali ini tujuannya adalah main air, hehehe). Tujuan kali ini adalah ke Pulau Tunda di Serang, Banten. Saya pergi kesana dengan satu orang rekan kerja saya dan teman-temannya, kira-kira total seluruh tim adalah lima belas orang. Well, satu-satunya orang yang saya kenal adalah teman kerja saya, selebihnya? tidak masalah, beruntung saya bisa beradaptasi dengan cukup baik pada orang baru, lumayanlah bisa traveling dan dapet teman baru juga kan?


Jumat malam pukul sebelas, saya dan teman saya sudah tiba di Serang. Menginap di tempat teman (yang baru saya kenal). Besok paginya kami menuju pelabuhan Karang Hantu dan berjumpa dengan seluruh tim beserta guide Pulau Tunda. Perjalanan menyebrang ke Pulau Tunda kurang lebih tiga jam, pada awalnya semua sibuk berceletoh hingga setelah satu jam kapal berjalan satu per satu mulai tumbang memejamkan mata, entah karena mengantuk atau mabuk laut. Sementara saya dan dua orang lainnya masih sibuk ngobrol, mengomentari perahu lain yang ditarik perahu kami karena ada sedikit gangguan pada mesinnya.

Siang hari kami tiba di Pulau Tunda, makan siang dan sholat kemudian menuju spot snorkling. Saya berkenalan dan sok akrab dengan tour guide kami dari Allay Island, yang kami panggil bang Allay. Kok Allay? Entahlah. Hahahaha. Oke, sudah kebiasaan saya sksd dengan orang baru (kata teman-teman saya) bahkan dibilang "modus". Main air memang menyenangkan, apalagi melihat laut benar-benar sangat luas. Sore menjelang senja, kami sudah tiba kembali di pulau untuk menuju pantai, hunting sunset. Katakanlah saya penikmat senja, saya bisa tiba-tiba berdiam hanya menatap senja. Tidak peduli sementara waktu pada sekeliling saya. Bagi saya menatap senja yang menghilang memiliki sensasi sendiri.

Teman saya bilang senja dimanapun itu sama, yang membedakan adalah hanya dengan siapa.
Ada benarnya juga, tapi bagi saya senja selalu berbeda, meskipun dalam bentuk yang sama.

Malam hari di Pulau Tunda, mungkin akan asik jika ada acara BBQ atau lainnya, tapi malam itu melihat suasana disana pun lebih dari cukup bagi saya. Di halaman rumah tempat kami menginap, anak-anak kecil sedang nonton bareng. Bergembira seperti tak punya beban. Kadang saya berpikir, apakah kita merindukan masa kecil kita? Mungkin iya, tapi kita adalah manusia yang akan terus tumbuh, menua dan mendewasa. Saya berkeliling pulau, melihat kegiatan penduduk dan dermaga di malam hari. Termasuk mengobrol dengan pemilik warung di tempat saya menginap, memesan secangkir kopi hitam.

  
Ketika semua orang sibuk dengan keramaian,
kadang yang saya butuhkan adalah sejenak menepi.

Esok paginya, dengan maksud hunting sunrise saya berniat jalan sendiri menuju dermaga. Rupanya beberapa teman saya mengikuti langkah saya. Di dermaga saya melihat seorang bapak yang baru saja mengangkut bensin dari Serang untuk genset, karena rupanya di Pulau Tunda listrik hanya dinyalakan dari pukul enam sore hingga dua belas malam. Pagi dan siang hari, penduduk menggunakan tenaga surya.


Setiap perjalanan bagi saya selalu menyuguhkan hal baru, memperlihatkan saya hal-hal yang berbeda, membuat saya dipenuhi bermacam pertanyaan, menuntut saya untuk belajar memahami. Semua adalah proses, melepaskan dan menemukan.

Minggu, 01 November 2015

JOGJA LENGKAP DENGAN SECANGKIR KOPI

Judul di atas bukan mengartikan bahwa segala tentang Jogja ada dalam secangkir kopi, ini hanya sepenggal cerita perjalanan (kembali) ke Jogja yang buat saya terasa lengkap dengan secangkir kopi. :)

Selalu ada alasan untuk kembali ke Jogja. Bagi saya Jogja lebih dari sekedar Malioboro atau Tugu, ada berjuta kepingan kenangan yang tertinggal pada setiap sudutnya (agak berlebihan sih). Sempat tinggal hampir tiga tahun di kota gudeg tersebut, membuat saya selalu punya alasan untuk ingin kembali kesana. Oktober 2015 akhirnya saya kembali berkunjung ke Jogja setelah satu tahun meninggalkan kota itu.

Kamis malam 22 Oktober 2015 saya berangkat menuju Jogja dengan kereta ekonomi Progo yang tiketnya sudah dipesan jauh-jauh hari. Tiket yang cukup sulit didapat untuk keberangkatan pada weekend, apalagi kereta Progo berangkat paling malam sangat cocok untuk para pegawai seperti saya ini yang ingin berlibur tanpa harus mengambil cuti banyak.

Jumat pagi saya tiba di stasiun Lempuyangan, menatap pemandangan yang sudah tidak saya lihat setahun lamanya. Jogjakarta dengan semua isinya seolah membawa saya kembali pada semua kenangan lalu. Jangan harap itinerary saya selama tiga hari dua malam di Jogja akan penuh dengan berbagai destinasi wisata. Perjalanan saya kali ini hanya ada dua agenda wajib: Ngopi dan Camping di pantai. Sudah begitu saja, tidak ada dalam list saya untuk berbelanja ke Malioboro.

Jumat pagi sempurna dengan Kopi Merapi tanpa gula

Teman-teman dari MPA Cakrawala menjemput saya di Lempuyangan, Mengantar saya ke tempat seorang kawan yang sudah janji menyuguhkan kopi khas dari Merapi. Agenda wajib pertama saya sudah terpenuhi. Kopi Merapi tanpa gula yang pahit dan sedikit gosong saat penyangraiannya (begitulah kata teman saya). Selepas maghrib kami berangkat ke sebuah pantai di daerah Panggang, Gunung Kidul yang menurut mereka masih sangat sepi pengunjung. Jujur saja, target saya sebenarnya adalah melihat sunset terbaik di tepi pantai, tapi tak apa rupanya kali ini saya lebih membutuhkan ketenangan dibandingkan keindahan sunset. Perjalanan menuju pantai kurang lebih sekitar 2jam lebih dekat dibandingkan harus ke pantai Siung, salah satu pantai favorite saya.

Jam sembilan malam, kami sudah berada di tepi pantai yang ternyata memnag benar-benar sepi dan tenang, Hanya ada tiga tenda disana, dua adalah tenda kami berenam dan satunya milik pengunjung lain. Seusai makan malam yang terlambat, kami sibuk mengobrol sembari ngopi (dua agenda penting saya terlaksana sekaligus dalam saat bersamaan). Beberapa dari kami sibuk mencari kerang atau umang-umang, mengumpulkannya di dalam nesting yang menghasilkan irama khas bercampur suara debur ombak yang deras. Tenang dan sepi, jauh dari kebisingan kota.



Menjelang tengah malam satu per satu mulai berguguran menuju alam mimpi masing-masing, tinggal saya dan seorang teman yang masih sibuk dengan unggun yang dijaganya agar tetap menyala hingga subuh menjelang. Mengobrol sembari rebahan di atas hammock hingga pukul setengah lima pagi. Tidur selama satu jam cukup bagi saya untuk melihat keindahan pantai pagi hari, sunrise? di pantai ini rupanya kita harus mendaki bukit dulu untuk melihat matahari terbit dan sayangnya saya kesiangan untuk itu. Jadi saya harus cukup puas melihat matahari yang sudah menyembul dari balik bukit pada pukul enam pagi.

Pagi itu saya hanya ingin jadi pengamat, memantau pantai sepi dengan ombak yang deras. Hanya sekedar menikmati sisa unggun semalam yang sudah padam. Semua sederhana saja, saya hanya perlu sejenak menepi.

Traveling itu bukan sekedar tempat tujuan. Ini tentang proses perjalanan. Melihat dan belajar memahami banyak hal, ada begitu banyak hal sederhana yang indah. Perjalanan adalah tentang melepaskan dan menemukan.
Terima kasih teman-teman :)

Malam harinya kami sudah kembali ke Jogja menikmati kopi klotok di selokan mataram seberang fakultas peternakan UGM. Tempat dulu saya sering bertemu dengan kawan saya yang sekarang sedang di Papua bersama suaminya. Sayangnya kali ini saya kecewa dengan kopi susunya yang menurut saya terlalu encer dan tidak ada rasa khasnya, yah memang yang enak dan khas adalah kopi klotoknya.



Sebenarnya masih banya kedai kopi yang ingin saya kunjungi, kedai-kedai kopi dimana dulu saya menghabiskan malam-malam saya selama tinggal di Jogja. Sayangnya waktu berlibur yang singkat membuat saya tak sempat mengunjungi Blandongan Kopi, Mato Kopi, ataupun Secangkir Jawa. Semoga perjalanan lain waktu sempat kembali ke Jogja dan menikmati Jogja dalam secangkir kopi.

Bagi saya, Jogja lengkap dengan secangkir kopi. Sederhana saja bagi saya kadang traveling tak melulu tentang foto selfie di berbagai tempat wisata, yang ingin saya lakukan adalah menikmati perjalanan itu sendiri, bagaimanapun caranya.

Selasa, 13 Oktober 2015

BERBEDA, BUKAN BERARTI KITA BERHENTI NGOPI BARENG

  
Siang ini saya berdebat tentang kopi dengan seorang teman. Seperti biasa, ngopi adalah ritual wajib bagi saya dan beberapa rekan kerja di kantor. Siang tadi teman saya datang ke ruangan saya, mengajak untuk menyeduh kopi. Saya yang sedang tanggung dengan pekerjaan menyuruhnya minum kopi yang sudah saya seduh sebelumnya.
 
"It's not good." katanya setelah meneguk kopi saya.
"Itu enak banget tau, kopi susu tanpa gula." saya menjawab.
"Lu harus biasain kasih gula ke kopi lu biarpun sedikit." teman saya itu kekeuh bahwa kopi yang enak adalah kopi dengan gula.

Kemudian bla bla bla blaaaaaa, kami mulai ngoceh tentang kopi; kopi dengan gula, kopi tanpa gula, kopi dengan susu tanpa gula, juga kopi dengan susu dan gula. Saya dengan pendapat bahwa kopi itu nikmat dengan rasa pahitnya, mulai berceloteh tentang quotes-quotes tentang kopi entah itu berasal dari novel Andrea Hirata, Dee, ataupun kata-kata yang saya karang sendiri. Begitu juga teman saya yang mulai meracau tentang kopi yang terlalu pahit bisa membuat saya lupa akan manis, termasuk cinta. Mulai ngaco kan?

Well, akhir-akhir ini saya memang menerapkan no sugar pada kopi saya. Minum kopi tanpa gula? jelas pahit. Sesekali saya hanya mencampurnya dengan sedikit susu kental manis. Ini hanya soal selera menurut saya, saya tidak begitu menyukai kopi dengan rasa manis berlebih. Saya lebih suka kopi yang dominan dengan rasa pahitnya, tertinggal di lidah.

Perdebatan terhenti ketika saya rasa bisa menunda pekerjaan saya sejenak. Mata saya beralih dari layar komputer, beranjak mengangkat gelas saya yang hampir kosong.
"Ayo bikin kopi."

Perbedaan selera bukan berarti kita berhenti ngopi bareng kan? Nikmati kopi antara kita, karena disitulah letak nikmat sebenarnya. Kopi lebih dari sekedar bubuk hitam, kopi menghadirkan banyak kisah dan perbincangan.

Untuk kalian yang ngopi bareng saya :)