Kamis, 10 September 2015

KOPI DAN SENJA

Jatuh cinta itu perkara mudah, tapi bisa menjadi sulit.
Ketika kita tak pernah benar-benar siap untuk patah.


Tidak terhitung detik kita habiskan bersama, tertawa atau sekedar saling duduk berdiam bersebelahan.  Ada begitu banyak waktu yang kita lalui, siang atau malam, fajar juga senja. Kita tak pernah mampu menghitung setiap tawa yang kita cipta bersama. Tak sanggup pula meruntun, berapa banyak lelahku yang terbenam pada bahumu, juga seberapa besar nyaman yang kau temukan saat mendekapku.

Ada banyak hal yang kita sepakati, pun hal yang tidak kita sepakati. Hal-hal yang kemudian kerap kali kita bicarakan dengan cangkir-cangkir kopi yang masih mengepul, hangat. Berlomba dengan kepulan asap dari rokok yang kita bakar. Kopi hitam yang selalu ada diantara kita, pahit. Begitu banyak yang saling kita sukai, meski kita tak pernah paham perbedaan antara menyukai dan mencintai. Tapi kita sepakat untuk tidak saling jatuh cinta, kita tahu pasti kita tak pernah siap untuk itu, kita belum siap untuk patah. Kita belum mampu mencintai selain kopi dan senja.



Lalu bagaimana jadinya jika kita pada akhirnya melanggar kesepakatan, sementara kita tahu kita tak pernah siap untuk itu?

KOPI DAN TEH



"Kopi itu seperti dia, selalu bikin rindu. Tapi sulit bagi saya untuk kembali padanya." Ujarnya sambil menyeduh teh. Saya seketika menoleh, mengerutkan kening menuntut penjelasannya lebih lanjut. Sahabat saya tetap asik menyeduh teh, yang sudah menggantikan kopinya selama satu bulan ini. 

"Aromanya kuat, saya rindu. Sebesar rindu saya pada dia." lanjutnya, melirik cangkir saya yang berisi kopi. Sedikit tergoda namun tetap bertahan untuk tidak meminum kopi, meski saya tahu keinginannya sangat besar.

"Bagaimana perasaanmu setelah kamu mengganti kopi dengan teh?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir saya, mengingat sosoknya adalah seorang penikmat kopi. Setidaknya sampai satu bulan yang lalu. Sebelum akhirnya sesuatu membuatnya memutuskan beralih pada teh.

"Entahlah, mungkin saya hanya perlu terbiasa, seperti saya harus tidak bersamanya meski perasaan saya tetap sama. Tapi saya merindukannya, kopi dan dia." Jawabnya sambil meminum tehnya perlahan. Menghirup aromanya kemudian menghela, saya tahu ada yang tak pernah lepas dari setiap helaannya. Sesuatu yang membuat hatinya begitu lelah.

"Sudahlah. Sampai kapan kamu tidak berhenti mengingatnya. Tinggalkan ia di belakang, kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri. Ayolah." Akhirnya saya berucap setelah paham bahwa pembicaraan ini bukan sekedar tentang kopi atau teh, tapi juga tentang masa lalunya yang belum mampu dia lepaskan.

"Tidakkah kamu berpikir bahwa kita sama? Kita sama lelahnya, kita sama tak pernah paham tentang perkara hati dan perasaan. Hanya saja sekarang saya memilih teh meski saya juga mencintai kopi, karena suatu alasan dan saya yakin kamu tahu itu." Panjang dia memburu saya dengan pertanyaan dan pernyataannya. Setengah menuntut saya untuk bercerita.

"Bicaramu aneh. Minum saja tehmu." Kata saya kemudian meninggalkannya bersama cangkir tehnya.

September 2015
Untuk sahabat saya yang sedang belajar terbiasa dengan teh.

Rabu, 02 September 2015

Jika Jalan Kita Tak Lagi Searah



Jika memang pada akhirnya jalan kita tak lagi searah, suatu hari nanti kita akan baik-baik saja

Kita pernah berjalan beriringan, melangkah seirama menuju tujuan yang sama. Padamu kusandarkan segala letih, kumusnahkan segala resah. Padaku kau genggam impian, harapan yang kau jaga untuk tumbuh menjadi nyata. Selalu ku minta jangan lepaskan aku, meski berkali aku gamang mengikuti langkahmu. Kau genggam tanganku erat takut terlepas.

Jalan yang kita lalui panjang, terlambat kembali karena sudah terlampau jauh. Jalan yang tak pernah kita tahu akan sulit sebelumnya. Berkali kita tak lagi saling bersandar atau menggenggam, sendiri berusaha membunuh lelah dan harapan. Kita pernah lelah dengan semua ini meski tetap mampu seirama. Lelah yang pada akhirnya memuncak, memaksa kita melepas. Saat itulah kita tahu arti melepaskan.

Jika pada akhirnya kita tak lagi bersama, kau tetap akan ada sebagai kenangan. Kenangan yang tersimpan rapi sebagai masa lalu. Kita mungkin akan saling menjauh untuk mengerti bahwa perlu ada jarak. Tapi jika memang pada akhirnya jalan kita tak lagi searah, suatu hari nanti kita akan baik-baik saja. Suatu hari nanti kita akan siap dengan perasaan yang tak lagi sama.

Rabu, 26 Agustus 2015

PULANG



Ada yang datang dan pergi.
Bahkan sekalipun kau menutup hati,
Ada yang memilih pergi, meski ingin tinggal.
Ada yang tetap tinggal meski tersakiti hampir mati. 

Sepanjang apapun, serumit apapun.
Yang kau tempuh selalu menuju pulang.
Meski sering kau menolak.

Percayalah, suatu saat nanti.
Pada akhirnya nanti.
Kita akan pulang kesana.
Pada hati yang kembali siap terbuka.

Jumat, 14 Agustus 2015

AUGUS(T)RUST

“It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone.” 
-Rose Kennedy-



Yes, i do not agree. But, i want to trust.

Agustus tujih tahun lalu, sejak saat itu lah Senja ingin percaya.  Waktu menyembuhkan luka. Lima tahun lalu, bulan Agustus di suatu tempat, kaki gunung di Jawa Tengah. Senja menghela nafas, seperti udara setiap helaannya tak mampu menghitung lukanya. Tengah malam matanya belum juga mampu terpejam padahal tubuhnya lelah setelah hampir tujuh jam berjalan menuruni pegunungan. Dingin air yang mengguyur tubuhnya seolah bukan apa-apa, hatinya lebih dingin dan beku

Agustus satu tahun kemudian, kota kembang rupanya memberi sedikit warna meski hanya abu-abu. Setidaknya saat itu lagi-lagi Senja ingin percaya bahwa waktu menyembuhkan luka. Setiap pertemuan akan ada perpisahan, entah seperti apapun itu terjadi, semesra atau seburuk apapun itu berakhir. Berkali ia berusaha ingin percaya namun dalam dirinya sebagian menolak. Bergeser dari kota kembang, pelan-pelan ia mulai mencari-cari kembali apa yang bahkan ia tidak pahami.

Agustus-Agustus berikutnya, Senja selalu berusaha melapangkan hatinya untuk percaya. Tapi kembali yang ditemukan luka. Sekali lagi, sebagian dirinya menolak. Sebagian yang tak mampu ia kendalikan, menolak melupakan luka. Luka yang sejak Agustus itu menetap dalam hati, berdiam dan tak jua pergi. Luka yang setiap Agustus berontak meski mati-matian ia berusaha percaya, waktu akan menyembuhkan luka. Benarkah?

Agustus ketujuh, setelah berkali membuka dan menutup hati hingga nyaris tak ingin percaya lagi. Akhirnya ia sampai pada saat itu. Saat dimana pada akhirnya ia percaya, bahwa luka mungkin tak pernah benar-benar pergi. Saat dimana akhirnya ia percaya, suatu saat ia akan baik-baik saja. Agustus ketujuh, Senja berhasil memberi kesempatan pada dirinya sendiri, belajar mencintai dirinya sendiri, dan kemudian menemukan bahwa ia baik-baik saja.

Agustus, Senja selalu berusaha percaya. Pada akhirnya ia akan baik-baik saja. Pada akhirnya, ia tahu selalu ada kopi dan senja yang bisa dinikmati.

Serang, Agustus ketujuh.
pic: google

Kamis, 23 Juli 2015

IBU

Untuk Ibu yang terlalu singkat saya kenal, yang tak sempat saya ingat dengan baik.

Dua puluh satu tahun yang lalu, ketika usia saya belum lagi lima tahun. Bahkan saat dimana saya belum mengerti apa arti "pulang" sesungguhnya. Dua puluh satu tahun lamanya, saya yang menjajaki kehidupan tanpa mengenal sosok Ibu seperti yang lainnya. Selama itu pula saya mengumpulkan kenangan-kenangan dari lembar-lembar foto yang saya temukan, berusaha mengingat, mengerti seperti apa sosok Ibu. Menangkap memori tentang Ibu dari segala yang dikisahkan orang-orang tentang Ibu.

Saya tahu, bukan hal sulit untuk tumbuh tanpa Ibu di sisi saya, juga bukan hal yang menurut saya mudah. Tapi pada kenyataannya, saya mampu melewati masa-masa itu dan sampai pada titik ini. Begitu banyak orang menulis tentang Ibu mereka, mungkin terlihat lebih mudah menulis tentang Ibu, tapi tidak bagi saya. Sampai pada tulisan ini, saya mengalami kebuntuan tentang apa-apa yang akan saya tulis tentang Ibu. Berbekal foto-foto yang tak banyak dan kisah yang juga tak terlalu panjang tentang Ibu.

Ibu, saya ingat pernah merengek minta es krim ketika es krim keliling lewat di depan rumah kita. Saat itu mungkin usia saya belum empat tahun, sampai saat ini saya masih menyukai es krim yang mengingatkan saya pada memori itu. Ibu, saya menemukan beberapa lembar foto yang saya lepaskan dari album yang disimpan oleh nenek, yang kemudian saya scan dan saya simpan. Foto semasa Ibu masih muda, berdiri di depan tembok juga foto dengan Ayah di bawah sebuah menara.

Semua orang bercerita tentang Ibu yang ramah, seorang dosen, banyak teman dan keras kepala. Orang bilang, banyak sifat Ibu turun kepada saya termasuk pula pemberani dan pemberontak. Nenek bilang, Ibu pernah menolak bersekolah di sekolah pilihan nenek, walau pada akhirnya tetap menurut. Hal itu pernah terjadi juga pada saya yang berontak dengan Ayah mengenai pendidikan. Tante atau adik Ibu juga bercerita bahwa Ibu adalah kakak yang rela berkorban untuk mereka, meski bawel dan keras kepala.

Ibu, banyak perubahan terjadi sejak dua puluh satu tahun lalu. Perubahan-perubahan yang tak akan sempat saya ceritakan. Satu yang tak berubah, tempat Ibu tak pernah tergantikan meski saya tak bisa upload foto dengan Ibu atau shopping dengan Ibu seperti teman-teman saya. Saya tahu pasti, ada memori yang tetap tersimpan, tetap tinggal. Memori tentang Ibu yang terlalu singkat, yang belum sempat saya bahagiakan di dunia.

Untuk Ibu, yang tak pernah benar-benar pergi.

Juli, 2015

Jumat, 10 Juli 2015

JALAN PULANG



Senaru, April 2015
Siapa sangka senyum kadang mengandung luka. Mungkin kita pernah berpikir, kadang tersenyum adalah topeng menyembunyikan sedih. Percayalah, sebelum foto ini diambil saya tidak benar-benar baik-baik saja. Sebelum foto ini diambil, mungkin ada beberapa frame foto yang menunjukkan saya tidak tersenyum. Frame-frame yang mungkin terdokumentasikan oleh lensa kamera atau sekedar lensa mata orang-orang yang sabar berada di sisi saya selama berjuang menyelesaikan perjalanan. Orang-orang luar biasa yang membiarkan saya membawa pedih dan mengobati luka saya sendiri, namun tetap berada di samping saya. Sebelum foto ini diambil, jangankan meloncat, berjalan pun terasa sangat penuh perjuangan. Mungkin tidak sampai tertaih, tapi terasa berat meski mampu ditutup oleh tawa. Sebelum foto ini diambil, saya berjalan dengan pikiran gamang penuh tanya pada diri saya sendiri.

Tapi saya percaya, pada akhirnya saya akan tetap baik-baik saja. Menyelesaikan apa yang saya mulai, menuju jalan pulang.

Kamis, 09 Juli 2015

A Y A H

Tidak perlu menunggu 12 November dimana Hari Ayah diperingati secara nasional untuk menulis tulisan ini. Tulisan yang secara rima mungkin berantakan, tulisan yang awalnya ragu untuk memulai dari kata yang mana. Percayalah, bahkan tulisan ini sepanjang apapun nantinya tetap tidak bisa menjelaskan semua tentang sosok yang saya sebut AYAH.

Baiklah, dua puluh lima tahun lalu bisa jadi saya adalah bayi berwarna merah yang merepotkan Ayah. Menangis karena ngompol atau meminta ditimang tak peduli meski ia baru saja pulang kerja. Serepot apapun Beliau, saya yakin saya pula yang menjadi sumber kebahagiaannya saat itu. Saya tumbuh menjadi gadis yang merepotkan, Ayah harus bekerja keras untuk membelikan segala keinginan saya yang saat itu belum mengerti keadaan finansial Ayah saat itu

Saya tumbuh menjadi kanak-kanak dan remaja, saat saya duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) pertama kalinya saya mengalami yang juga dialami remaja perempuan lainnya, haid/menstruasi. Saat itu saya sadar ada yang berubah dalam diri saya, saya adalah gadis yang beranjak dewasa. Tidak seperti yang lain yang mendapatkan ceramah tentang haid dari Ibu, saya sendirian belajar memahami menagpa seorang perempuan mengalami haid. Mungkin Ayah terlalu canggung untuk menjelaskan pada saya, bagaimana proses sel telur yang tidak dibuahi meluruh menjadi darah. Katanya seorang anak cenderung lebih dekat dengan Ibu, tapi tidak bagi saya yang mungkin tak punya pilihan lain. Tapi bagaimanapun juga, sedekat apapun anak gadis dengan Ayah tetap ada jarak, jarak yang mesra menurut saya.

Saya terus tumbuh menapaki tangga-tangga usia yang bisa dibilang tidak lagi remaja, saya adalah gadis dewasa yang selalu harus belajar mendewasakan diri. Tapi bagi Ayah, saya tetap gadis kecilnya, gadis yang perlu dikhawatirkan, dijaga, dan dilindungi. Seringkali saya dapati Ayah belum tidur ketika saya belum pulang, kadang pesan singkat yang saya kirimkan sekedar memberi kabar sudah lebih dari cukup bagi Ayah. Ayah tidak akan banyak bertanya ketika saya pulang kerja lebih malam dan memilih segera masuk ke kamar, tapi Ayah akan sekedar menyusul saya menanyakan apa saya sudah makan atau belum. Saat itu kadang saya merasa sangat bersalah, sambil berkata dalam hati "Maaf Ayah, saya sangat lelah untuk bicara pada siapapun." dan Ayah mengerti dengan segera keluar dari kamar saya, membiarkan saya tenggelam dalam ruang privasi saya.

Ayah (mungkin) memang tak sebawel Ibu, tapi saya yakin bahwa ia menyimpan begitu banyak kekhawatiran saat saya pergi dari rumah untuk melakukan kegiatan alam bebas yang sudah saya lakukan sejak SMA. Pernah suatu ketika, saat saya mengambil cuti dan pergi untuk mendaki gunung di luar Jawa, subuh buta Ayah dengan ikhlas mengantar saya menuju travel. Tidak hanya itu, ia bahkan setengah memaksa untuk mengangkatkan carrier, yang kemudian saya tolak dengan berkata "Saya bisa melakukannya Ayah, tak usah khawatir.", mungkin saat itu Ayah berpikir bagaimana gadisnya akan membawa beban seberat itu, meski di sisi lain hatinya ia tahu gadisnya akan mampu melewati segala kesulitan.

Dalam jarak, saya juga yakin bahwa selalu ada doa Ayah untuk saya. Doa semoga saya menyelesaikan studi saya dengan baik, mendapat pekerjaan yang baik, dan segala hal baik lainnya untuk saya. Ayah tidak akan menolak ketika saya merengek minta es krim, bahkan di usia saya dua puluh lima tahun. Tapi Ayah tahu, saya sudah memilih untuk selalu belajar mandiri. Saya bukan lagi gadis kecil yang merengek, saya sudah belajar untuk mendapatkan sesuatu dengan perjuangan. Dibalik sikap Ayah yang memanjakan saya saat kecil, selama saya tumbuh Ayah tak lupa mengajarkan saya untuk berjuang jika ingin mendapatkan sesuatu. Ayah tahu saya tumbuh menjadi perempuan keras namun tetap memiliki kelembutan yang perlu dijaga. Ayah tahu saya bukan lagi gadis yang akan menangis di depannya, mengeluhkan segala permasalahan saya. Ya, gadis kecil Ayah telah memilih untuk mandiri, dan Ayah menghargai itu.

Untuk Ayah, yang tak pernah cukup kata-kata saya tuliskan.
Tangerang, Juni 2015

Senin, 06 Juli 2015

SEBOTOL AIR MINERAL

Jakarta, Maret 2010

picture: google

Sudah lewat tengah malam, perempuan itu masih saja berdiam di kursinya. Untung saja kedai ini 24 jam, sehingga tak ada yang akan mengusirnya yang tengah asik dengan kopi dan rokoknya. Ini sudah gelas ketiga kalau ia tak salah hitung, diantarkannya cangkir itu ke hadapan perempuan itu. "Gelas ketiga nona, terlalu banyak kafein malam ini, ada baiknya pula Anda berhenti merokok." Perempuan itu menerima kopinya sambil melirik tajam padanya seakan berkata "apa urusanmu!". Perempuan itu acuh tanpa menoleh lagi, lelaki itu, Pram, akhirnya menyerah pergi kembali pada pekerjaannya.

Senja, perempuan itu sudah menghabiskan hampir tiga gelas kopi dalam lima jam. Handphone-nya berdering, panggilan masuk yang kelima kalinya tak diangkat. Tak lama pesan singkat pun muncul. Ia tak bergeming, tak ingin diganggu. Sibuk menyeruput kopi yang disadarinya telah hampir habis pula, dipanggilnya lelaki tadi memesan secangkir lagi. Lima belas menit kemudian, lelaki itu kembali datang mengantarkan kopi dan sebotol air mineral. Senja menoleh hendak protes karena tidak memesan selain kopi. "Terlalu banyak kafein tak baik nona, air mineral akan banyak membantu." Lelaki itu berkata dan tersenyum.

Pram sudah hendak berbalik, ia merasa tak pantas mengusik kesendirian perempuan itu. Rupanya perempuan itu memanggilnya "Hei, terima kasih." Pram menoleh dan melihat senyum pertama perempuan itu setelah lima jam lamanya.

Untuk Pram dan sebotol air mineral, terima kasih.

Selasa, 30 Juni 2015

Juni dan Hujan


Tangerang, Juni 2013
Hujan bulan Juni, untuk setiap tetes rintik airnya yang jatuh mencium tanah. Perempuan itu memandang tetes-tetes yang mampir pada jendela kamarnya, pelan-pelan jatuh melebur dengan tetes yang lain kemudian hilang, melalui media-media lain hingga menyatu meresap dalam tanah. Hujan bulan Juni,  hampir setahun diam-diam rindu itu menetap, betah menunggui hatinya. Setia mengiring pada penantian. Hujan bulan Juni, lepas dari langit jatuh dengan bebas, menemui tanah dan menyatu. Ya, tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Apa lagi yang kau tunggu? bukankah melepaskan dapat berarti menemukan?

Untuk Juni yang bimbang,
Selalu ada kesempatan, belajarlah memberi kesempatan pada dirimu sendiri.